Ditulis oleh 2:07 pm COVID-19

Covid-19 dan Tanda-tanda Pergeseran Sosial

Wabah inipun bisa menjadi pintu berkah yakni kembali dan hidupnya lagi gotong royong di masyarakat yang sudah terkoyak.

Oleh : In’AM eL Mustofa

Sampai kini belum ada petunjuk yang pasti bahwa wabah Covid-19 akan surut dan segera berakhir. Namun untuk dikatakan perkembangannya melambat, iya. Bahkan di China sendiri beberapa kota sudah mendeklair bebas Covid-19.

Perkembangan melambat bisa terjadi padahal obat belum ditemukan. Kenapa? Karena masyarakat merespon dengan cepat pola interaksi sosial dan berbenah diri dalam pola hidup.

Khusus di Indonesia dengan mengurangi interaksi sosial, pola hubungan face to face dengan jaga jarak ternyata cukup efektif untuk memperlambat penularan Covid-19 apalagi ditambah dengan perbaikan pola hidup sehat. Dua kesadaran ini menjadi amat penting dan berperan dalam mengatasi bertambahnya korban terpapar Covid-19.

Maka langkah berikut bagaimana kesadaran individu ini menjadi kesadaran publik. Memasuki ranah publik tentu fasilitas publik dan organisasi publik harus bisa terlibat aktif mendorong dua pola kesadaran di atas. Jaga jarak dalam interaksi dan pola hidup sehat.

Bahkan agar hal diatas menjadi efektif perlu regulasi dari pemerintah yang pasti dan tak berubah-ubah. Karena kebijakan yang pasti akan memberi rasa nyaman. Maka pra syarat nyaman adalah terpenuhinya koordinasi antar Pemerintah dengan daerah serta instansi terkait. Semakin efektif koordinasi maka akan makin cepat rasa nyaman dan aman akan didapatkan.

Dengan demikian wabah inipun bisa menjadi pintu berkah yakni kembali dan hidupnya lagi gotong royong di masyarakat yang sudah terkoyak. Meski ada pola jaga jarak dalam berinteraksi namun secara substantif masyarakat menemukan kembali rasa untuk saling tolong, jaga bersama dan saling asah-asih-asuh. Yang kemarin gotong royong hanya bersifat panggung dan instruksi. Kini bahu membahu untuk menghambat laju penyebaran wabah Covid-19, pendek kata ada musuh bersama. Maka harus dihadapi secara bersama, dan kesampingkan kepentingan pribadi apalagi mengambil keuntungan dari kesempitan ( baca: wabah).

Penulis: Pegiat Sosial Keagamaan dan Property, tinggal di Jogjakarta

(Visited 44 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 4 April 2020
Close