COVID-19, Meningkatkan Depresi Sebesar Tiga Kali Lipat

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Secara menyeluruh, para peneliti menemukan peningkatan pada gejala depresi di semua kelompok demografis.

Di dalam sebuah studi terbaru, yang dapat dikatkan sebagai yang pertama dari jenis studi ini, dari Boston University School of Public Health (BUSPH) menemukan bahwa 27,8% orang dewasa di Amerika Serikat mengalami gejala depresi pada pertengahan April. Persentase tersebut sangatlah besar bila dibandingkan dengan angka sebelum terjadinya pandemi COVID-19, yaitu 8,5%.

Studi tersebut, yang diterbitkan pada jurnal JAMA Network Open, juga menemukan bahwa pendapatan serta tabungan merupakan sumber prediksi untuk gejala depresi semana masa COVID-19.

Menurut Dr. Sandro Galea, Dekan dan Robert A. Knox Professor di BUSPH, yang merupakan penulis senior dari studi tersebut, depresi pada populasi umum setelah peristiwa traumatik skala besar yang sebelumnya telah diamati mengalami peningkatan hanya sebesar dua kali lipat angka sebelum peristiwa tersebut. Dirinya memberi contoh kasus pada kasus 11 September, Wabah Ebola, dan kerusuhan sipil di Hong Kong.

Hasil studi tersebut mengejutkan Galea pada awalnya. Namun banyak studi lainnya setelah studi miliknya juga menunjukkan angka yang sama untuk kesehatan mental masyarakat. Studi-studi ini utamanya dilakukan di Asia dan difokuskan pada populasi tertentu seperti petugas kesehatan dan mahasiswa. Untuk petugas kesehatan sendiri ditemukan dalam satu studi gejala depresi ada di antara setengah petugas kesehatan Tiongkok yang pernah merawat pasien COVID-19.

Studi dari BUSPH ini merupakan studi perwakilan nasional pertama di AS yang menilai perubahan dalam prevalensi depresi sebelum dan selama COVID-19 menggunakan Patient Health Questionnaire-9 (PHQ 9) yang merupakan alat skrining untuk depresi terkemuka.

Para peneliti menggunakan data dari 5.065 responden untuk Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional (NHANES) tahun 2017-2018, dan 1.441 responden dari studi COVID-19 Life Stressors Impact on Mental Health and Well-Being (CLIMB), yang dilakukan pada 31 Maret hingga 13 April 2020. Pada saat itu 96% populasi di AS berada di bawah nasihat untuk tinggal di rumah atau di tempat naungan.

Kedua survei tersebut menggunakan PHQ 9 untuk dapat melihat gejala-gejala depresi dan mengumpulkan data demografis. Untuk survei 2020 juga mengumpulkan data yang berkaitan dengan COVID-19, diantaranya seperti kehilangan pekerjaan, meninggalnya kerabat atau teman dekat, serta masalah finasial.

Secara menyeluruh, para peneliti menemukan peningkatan pada gejala depresi di semua kelompok demografis. Secara tidak mengejutkan, masing-masing subjek mengalami stress yang berkaitan terhadap COVID-19 menjadi faktor utama penyebab gejala depresi.

Namun demikian, perbedaan terbesar yang ditemukan para peneliti adalah pada finansial, atau pada uang. Setelah melakukan penyesuaian terhadap semua demografis, ditemukan bahwa selama COVID-19 berlangsung, seseorang yang memiliki tabungan di bawah $ 5.000 memiliki kemungkinan 50% lebih besar untuk mengalami gejala depresi bila dibandingkan dengan mereka yang memiliki tabungan lebih dari $ 5.000.

Catherine Ettman, mahasiswa doktoral di Brown University School of Public Health dan direktur pengembangan strategis di Kantor Dekan di BUSPH dan penulis utama studi ini mengatakan bahwa mereka yang sudah memiliki resiko keuangan sebelum adanya COVID-19, yang pada masa pandemi sumber daya sosial dan ekonomi menjadi lebih sedikit, memiliki kemungkin lebih untuk depresi, menunjukkan bahwa ketidaksetaraan dapat meningkat selama waktu ini dan kesenjangan dalam kesehatan juga dapat melebar.

Ettman berharap temuan studi ini daapt mendorong terciptanya masyarakat dengan jaringan pengamanan yang kuat. Masyarakat yang memiliki upah yang sesuai kebutuhan, ebijakan dan praktik yang seusai kebutuhan, serta keluarga-keluarga tidak hanya dapat hidup dari pendapatan mereka, namun juga dapat menabung uang untuk masa depan.

Dengan masih adanya COVID-19 di dunia, terdapat kemungkin langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh para pembuat kebijakan untuk membantu mengurangi dampak depresi akibat COVID-19, seperti penghapusan moratorium, menyediakan asuransi kesehatan universal yang tidak terikat pada pekerjaan, serta membantu orang-orang untuk dapat kembali bekerja dengan aman bagi mereka yang dapat bekerja.

Ettman, pada saat yang sama, juga berharap bahwa dirinya beserta rekan-rekan studinya berharap temuan studi ini juga dapat membantu mereka yang saat ini tengah mengalami depresi oleh karena situasi dunia saat ini, dan memberikan pesan bahwa mereka tidaklah sendiri, bahwa di AS kemungkinan terdapat satu dari empat orang dewasa yang juga mengalami depresi serupa. (njd/sciencedaily)

NJD

NJD

Terbaru

Ikuti