Ditulis oleh 10:10 am SAINS

Covid-19 Sebagai Faktor X dan Kritik Terhadap Akal

Manusia berkembang dari tahap mistis ke tahap ideologis dan terakhir ke tahap ilmu (modern). Pada tahap mistis, manusia belum bisa mengembangkan akal secara memadai sehingga mereka banyak percaya kepada kekuatan supranatural di luar dirinya

Faktor X memang suatu misteri karena faktor X bekerja menyalahi hukum alam (sunatullah) yang penuh keteraturan. Hukum alam berkerja sangat logis melalui rangkaian sebab dan akibat. Negara-negara Barat yakin bahwa penguasaan atas hukum alam merupakan suatu kunci untuk mewujudkan peradaban modern yang maju. Mereka percaya akan kemajuan yang sifat progresif, tanpa henti. Logikanya mengajarkan mereka akan kemajuan ekonomi yang tiada henti: industri akan selalu berkembang, pariwisata akan selalu berkembang, hotel akan selalu ramai, pesawat akan selalu berkembang, dll. Wahab Covid-19 menyadarkan kita akan keterbatasan manusia, bila hal itu kita sadari.

Peradaban Modern: Akal dan Hukum Alam

Pandangan sekuler percaya Hukum Tiga Tingkatan perkembangan akal manusia yang diperkenalkan oleh Auguste F.X. Comte (19 Januari 1798 – 5 September 1857). Manusia berkembang dari tahap mistis ke tahap ideologis dan terakhir ke tahap ilmu (modern). Pada tahap mistis, manusia belum bisa mengembangkan akal secara memadai sehingga mereka banyak percaya kepada kekuatan supranatural di luar dirinya, seperti kepercayaan kepada animisme dan dinamisme. Pada tahap ideologis, manusia sudah lebih maju dalam perkembangan akalnya sehingga mereka sudah mengembangkan agama-agama.

Barat menilai agama sudah tidak relevan di era modern karena tidak didasarkan pada ilmu pengetahuan (modern) yang didasarkan pada penelitian. Memang mereka mengakui peran agama dalam sejarah, namun mereka menilai semangat zaman (zeitgeist) hanya sekali saja. Untuk itu mereka berusaha meminggirkan peran agama. Mereka menilai agama sebagai hambatan bagi terciptanya peradaban modern. Sejalan dengan itu mereka memisahkan agama dari politik atau memisahkan agama dari urusan negara yang merupakan urusan publik. Tidak salah mereka bersikap kritis terhadap agama karena mereka trauma dengan perang agama yang telah pecah dalam sejarah umat manusia. Mereka trauma dengan Perang Salib yang berjilid-jilid antara Nasrani dengan Islam.

Sikap kritis barat terhadap agama juga dilatarbelakangi trauma dengan perang intern-umat beragama di Eropa antara pihak Katholik melawan pihak Protestan (termasuk Calvin, Anglikan, dll). Perang ini berakhir dengan Perjanjian Westphalia 1648 M, yang menjadi landasan bagi lahirnya konsep negara bangsa (nation state). Ini yang dikenal dengan konsep negara modern, yang memisahkan agama dari urusan politik. Atau, kita mengenalnya dengan konsep negara sekuler, dimana agama menjadi urusan privat masing-masing individu. Agama juga dilarang ikut campur dalam urusan politik (publik). Hal itu mereka maksudkan untuk menghindari terjadinya politisasi agama atau sakralisasi politik.

Memang urusan politik yang dibungkus dengan agama yang telah menorehkan sejarah kelam umat manusia. Politik yang sebenarnya merupakan sekuler (duniawi) seringkali dibungkus dengan baju agama, baik untuk mempertahankan kekuasaan maupun merebut kekuasaan. Dengan begitu politik dianggap sebagai sesuatu yang sakral, yang tidak boleh dikritik. Mempertahankan sistem politik yang ada dianggap sebagai kewajiban agama. Sejalan dengan itu terjadilah politisasi agama, yakni agama dijadikan alat untuk mempertahankan atau merebut kekuasaan. Dengan begitu, agama tidak lagi dijadikan alat untuk mendekatkan diri pada Allah SWT.

Krisis Peradaban Modern: Krisis Akal

Memang Barat pun tidak bisa melepaskan sama sekali dari pengaruh agama dalam kehidupan. Benar, peran agama sudah dibatasi dalam sektor privat. Mereka, sebagai manusia, masih percaya kepada Tuhan sebagai causa prima (penyebab pertama), tapi tidak lagi percaya pada agama (Kristen dan Yahudi) yang telah diselewengkan para pemuka agama. Tidak heran bila dalam mata uang dollar ditulis “In God We Trust”. Banyak di antara mereka yang percaya pada ajaran deism, yakni percaya pada Tuhan yang pasif, yang tidak ikut campur tangan dalam urusan duniawi. Dengan demikian, doa tidak memiliki peranan sama sekali dalam kehidupan. Tidak heran bila sejarah Barat seringkali berakhir tragis karena masing-masing pihak tidak mau mengalah demi realitas hati, dimana Tuhan bersemayam. Yang berlaku adalah prinsip survival of the fittest (yang menang yang kuat).

Sebenarnya fenomena politisasi agama juga merupakan bentuk krisis akal dalam memahami agama. Bukankah yang mungkin melakukan politisasi itu akal? Memang akal bisa terperangkap jebakan Batman bila hawa nafsu sudah terlibat. Alih-alih akal digunakan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, akal digunakan untuk ngakal-ngakali demi melindungi kepentingan diri, kelompok, dll.

Barat tidak sadar bila kemajuan ilmu pengetahuan modern dan teknologi yang diraihnya belum bisa mengatasi masalah kemanusiaan global, seperti kemiskinan, kelaparan, dan keadilan. Hal itu terjadi karena neggara-negara Barat menekankan pada kepentingan nasionalnya masing-masing dan abai terhadap masalah kemanusiaan global. Mereka menggunakan ilmu dan teknologi untuk menekan dan menindas negara lain. Akibatnya, perang di era modern terus saja berkecamuk dan bahkan dengan korban yang jauh lebih banyak dibanding dengan perang konvenional pada era pra-modern. Hal itu menunjukkan bahwa akal tanpa bimbingan hati sangat membahayakan kemanusiaan. Ajaran gama yang menekankan pada olah hati sangat perlu digali.

Memang akal memiliki peranan yang penting bagi kemajuan peradaban Barat modern. Berkat kemampuan akalnya mereka bisa memodernisasi negaranya dengan mengembangkan baik hard technology (seperti mesin-mesin dan senjata perang) maupun soft technology (seperti sistem politik, sistem ekonomi, dll). Kita harus meniru dalam hal memodernisasi baik aspek material (melalui hard technology)maupun aspek immaterial, yakni pemikiran (melalui pengembangan soft technology). Akan tetapi, kita harus kritis terhadap jalan modernisasi Barat yang hanya bertumpu pada akal. Kita pun harus melihat konteks Indonesia baik dalam pengembangan soft technology maupun penerapan hard technology.

Untuk itu agama perlu mengembangan olah hati agar agama tidak menjadi bensin yang menyulut konflik dan perang. Agama harus menarik diri dari rebutan politik kekuasaan yang sekuler. Memang agama harus mengarahkan jalannya politik, tapi bukan dengan bermain politik. Agama bisa melakukan dakwah terhadap political animal agar menjadi manusia yang religius atau menciptakan counter discourse agar terciptanya checks and balances dalam kehidupan politik. Untuk itu agama harus mengembangkan pemikiran yang obyektif, terlepas dari kepentingan kelompok. Sayangnya kelompok-kelompok agama yang ada di Indonesia masih saling bersaing untuk bisa mendekati penguasa. Hendaknya kelompok-kelompok antar-agama maupun intern-agama bisa saling bekerjasama memainkan peran civil society, yang kritis terhadap penguasa demi terciptanya pemerintahan yang demokratis.

(Visited 328 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 30 Mei 2020
Close