Ditulis oleh 2:32 pm COVID-19

Covid-19 Sebagai Problem Pendidikan, Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Apakah wabah Covid-19 telah menjadi problem pendidikan?

Tahun ini, peringatan Hari Pendidikan Nasional seperti mendapatkan kekhususan, yakni hadir di tengah badai Covid-19. Kita ketahui bersama bahwa wabah Covid-19 merupakan kejadian yang sangat mengerikan, karena memakan korban jiwa dalam jumlah yang sangat besar, dan berpotensi mengubah hidup dan kehidupan umat manusia sedunia.

Kini dunia tengah bergerak, bukan dalam bentuk langkah dunia sebagai satu kesatuan, melainkan langkah masing-masing bangsa. Kemampuan mengatasi wabah, menentukan nasib jutaan manusia. Data dunia, pada 1 Mei 2020, telah menunjukkan angka lebih dari 3.3 juta orang yang menjadi korban Covid-19. Angka, yang menunjukkan tingginya pertumbuhan penyebaran. Sampai kini belum lagi ditemukan, baik obat maupun cara yang efektif dalam pengendalian penyebarannya.

Di sini, kita semua ikut terdampak. Bahkan sebagian dari saudara-saudara sebangsa dan setanah air, menjadi korban, termasuk mereka para tenaga medis, yang ada di garis depan pelayanan kesehatan. Dampak nyata yang mulai dirasakan adalah munculnya berbagai masalah baru, yang punya potensi membawa krisis yang lebih luas, melampaui masalah kesehatan.

Dahsyatnya peristiwa tersebut, membuat kita bertanya-tanya, apakah ada makna yang termuat, mengingat hari pendidikan Nasional, berada dalam suasana tersebut? Tentu saja pertanyaan ini bukan didasarkan pada ilmu cocokologi, atau ilmu gatuk, tetapi didasarkan pada refleksi. Sangat pantas suatu peristiwa dunia menjadi bahan refleksi, agar dari sana diperoleh pelajaran. Salah satu pertanyaan refleksi tersebut adalah mengapa peringatan hari pendidikan Nasional kita tahun ini, masih dalam suasana wabah?

Sebenarnya refleksi dengan tema tersebut hanyalah hal yang biasa. Karena berdasarkan Pedoman Penyelenggaraan Hardiknas Tahun 2020 disampaikan melalui surat Nomor 42518/MPK.A/TU/2020, ter tanggal 29 April 2020 dan ditandatangani oleh Mendikbud Nadiem Anwar Makarim. Dalam pedoman tersebut, Kemendikbud meniadakan penyelenggaraan upacara bendera yang biasanya dilakukan satuan pendidikan, kantor Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah, serta perwakilan pemerintah Republik Indonesia di luar negeri sebagai bentuk pencegahan penyebaran Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Namun demikian, Kemendikbud tetap menyelenggarakan Upacara Bendera Peringatan Hardiknas Tahun 2020 pada tanggal 2 Mei 2020 secara terpusat, terbatas, dan memerhatikan protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19. Adapun tema Hardiknas 2020, yaitu “Belajar dari Covid-19”. Keterangan ini, pada satu sisi menunjukkan dampak jauh dari Wabah, namun disisi yang lain menunjukkan daya responsi dunia pendidikan.

Oleh sebab itulah refleksi menjadi penting, agar dapat: Belajar Dari Covid-19. Soalnya, apa pertanyaan pokok yang layak diajukan? Apakah masalah diseputaran dampak Covid-19 pada dunia pendidikan? Atau seputaran strategi dunia pendidikan dalam menghadapi wabah? Atau adakah pertanyaan yang lebih jauh dan lebih bersifat “mawas diri”? Bagaimana jika diajukan pertanyaan: Apakah wabah Covid-19 telah menjadi problem pendidikan? Maksudnya bukan mengenai dampak wabah yang telah mengganggu dunia pendidikan, tetapi sebaliknya?

Secara sederhana kita hendak berandai-andai. Jika dunia pendidikan benar-benar berjalan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yakni mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, maka tentu wabah akan berhadapan dengan insan-insan yang telah mendapatkan edukasi sesuai dengan tujuan tersebut. Dihadapan kaum terdidik, yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, tentu wabah akan sangat mudah dikendalikan penyebarannya.

Dihadapan kaum terdidik, yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, tentu wabah akan sangat mudah dikendalikan penyebarannya.

Mengapa dikatakan demikian? Karena mereka terdidik, akan senantiasa mencari tahu, dan melengkapi diri dengan pengetahuan. Apabila telah diketahui bahwa obat Covid-19 belum tersedia dan tindakan yang paling mungkin dilakukan hanyalah membatasi pergerakan orang (dan seluruh isi protokol kesehatan), maka masalah akan sangat mudah dicerna. Kaum terdidik (sesuai dengan tujuan pendidikan nasional), akan menjadi insan digaris depan, yang akan mempelopori penerapan protokol kesehatan. Artinya tidak perlu ada tindakan yang menggunakan pendekatan hukum, agar protokol kesehatan dijalankan secara disiplin.

Apabila semua masih berlangsung tidak sebagaimana protokol kesehatan, maka hal tersebut dapat menjadi bahan refleksi dunia pendidikan kita. Mengapa seperti itu. Barangkali wabah memang punya pesan agar dunia pendidikan berubah, baik dari segi substansi, metode maupun ekosistemnya. Selamat Hari Pendidikan Nasional. Selamat belajar dari Covid-19, sebagaimana tema hari pendidikan nasional tahun ini.

(Visited 2.301 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 1 Mei 2020
Close