Ditulis oleh 3:39 pm COVID-19

Covid-19: Tantangan Kekinian Pengintegrasian Agama dan Sains

Agama dapat menjadi landasan nilai dalam upaya penerapan sains mengatasi virus Corona.

Oleh: Dr. Teguh Slamet Wahyudi, S.Si, MA, M.Pd, M.Ud

PSBB dipilih oleh pemerintah untuk memutus penularan Covid-19 di Indonesia. Upaya ini tidak lain adalah tindakan yang diambil berdasarkan riset dan fakta sains. Salah satu kebijakan yang diambil saat PSBB adalah mengganti ibadah shalat Jumat dengan shalat Zuhur di rumah. Namun kenyataannya, berdasarkan pengamatan penulis secara langsung di masyarakat, masih saja ada masjid yang menyelenggarakan shalat Jumat di suatu kota yang telah menerapkan PSBB. Atas ketidaksinergian ini, penulis teringat dengan pertentangan antara teori sains dan pandangan tokoh agama di masa Galileo Galilei.

Kondisi tersebut seolah menggambarkan dua hal. Pertama, hal itu menunjukkan bahwa kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah tergolong rendah. Pada dasarnya, wabah Covid-19 ini adalah juga suatu ujian apakah masyarakat kita bisa menjadi warga negara yang baik atau tidak.  Sebagai warga negara yang baik sudah seharusnya himbauan pemerintah terkait penuntasan wabah ini didukung. Mulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, sampai pada skup yang luas yaitu negara. Kedua, hal itu menunjukkan bahwa kepatuhan masyarakat terhadap pemimpin agamanya juga tergolong rendah. Hal ini karena fatwa yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada dasarnya sudah selaras dengan upaya penghentian wabah ini.

Ketidakpatuhan sebagian masyarakat itu bisa jadi merupakan cermin masyarakat yang kurang mengoptimalkan sisi rasionalitas. Fakta-fakta sains yang digunakan untuk mengatasi wabah ini kalah dengan dogma-dogma religius yang dianut. Adalah benar bahwa dalam agama diajarkan bahwa beribadah berjamah memiliki nilai yang utama, tetapi dengan keadaan seperti ini kegiatan berjamaah mengandung resiko. Resiko itu berupa terjadinya penularan yang tidak disadari oleh Orang Tanpa Gejala (OTG).

Berbondong-bondongnya umat ke rumah ibadah di tengah wabah bisa dipicu oleh ketidakpahaman para tokoh agama di akar rumput tentang situasi ini. Ungkapan ini didasari bahwa kehadiran para jamah itu tidak lepas dari ajakan yang diserukan tokoh agama melalui pengeras suara. Salah satu pernyataan ajakan itu adalah umat diminta ibadah berjamaah di tempat ibadah sebagai wujud syukur karena Tuhan masih memberikan nikmat sehat dan nikmat iman. Bagi para tokoh agama yang paham keadaan, mereka mengambil tindakan yang tegas. Hal itu tercermin melalui tulisan yang penulis lihat, yaitu “Dalam Rangka Menghindari Penyebaran Covid-19, maka Masjid X untuk Sementara Ditutup”.

Penulis menduga salah satu penyebab ketidaktegasan tokoh agama di akar rumput melarang kegiatan berjamah di tengah wabah adalah karena mereka tidak terbiasa berpikir secara saintifik (ilmiah). Pola pikir sains dan agama memang berbeda. Sains merupakan suatu ilmu yang dikembangkan berlandaskan obyek konkret-empirik, sedangkan agama berlandaskan wahyu. Perbedaan obyek kajian ini terkadang menimbulkan suatu konflik. Sebut saja cara pandang kaum teolog dan saintis dalam memandang teori evolusi yang dikembangkan oleh Charles Darwin. Namun, bukan berarti antara agama dan sains itu tidak bisa diintegrasikan. Integrasi agama dan sains terkait teori evolusi itu dapat ditemukan dalam ungkapan bahwa evolusi adalah cara Tuhan mencipta. Dengan begitu, keimanan bahwa Tuhan sebagai sebab pertama munculnya kehidupan tetap terjaga. Pun, demikian pada kasus virus Corona yang menurut para peneliti bersumber dari kelelawar dapat ditinjau melalui aspek sains dan agama sekaligus. Yaitu, Tuhan (sebab primer) telah menyiapkan semuanya yang memungkinkan adanya kemunculan makhluk hidup baru oleh sebab sekunder.

Dengan begitu, seharusnya para tokoh agama di akar rumput itu perlu mempunyai pola pikir ilmiah agar dapat menerima penjelasan sains untuk mengakhiri wabah. Modal berpikir ilmiah yang diintegrasikan dengan agama dapat mereka gunakan untuk lebih mencerdaskan umat di akar rumput. Misalnya, dengan menyatakan bahwa ibadah agama bisa dijalankan tidak harus secara berjamaah sebagai wujud physical distancing. Dengan ini, mereka memiliki peran yang positif dan produktif membantu negara dan bangsa Indonesia untuk segera keluar dari krisis ini.

Fenomena di atas bisa jadi juga disebabkan kurangnya koordinasi secara masif dan terstruktur antara pimpinan daerah dan komponen masyarakat di akar rumput. Meskipun dinyatakan di beberapa tempat sudah dilakukan pembentukan RW Siaga Covid-19, namun apakah dalam pelaksanaannya hal ini bisa seratus persen terlaksana sesuai yang diharapkan. Karena itu, sebelum terlambat, dari pihak pemerintah daerah perlu melakukan koordinasi yang baik dan menyamakan visi tidak hanya pada level atas tetapi juga pada level bawah. Hal ini merupakan upaya mengatasi wabah dengan semangat perang semesta yang melibatkan segenap komponen masyarakat.

Keterlibatan semua pihak dalam memerangi Covid-19 ini dapat dimaknai pula sebagai tindakan yang sesuai dengan semangat agama yang menghendaki umat manusia memiliki kebahagiaan dan keselamatan di dunia (juga akhirat). Lebih jauh, agama dapat menjadi landasan nilai dalam upaya penerapan sains mengatasi virus Corona. Dengan paradigma ini, tidak cuma para tenaga medis, orang-orang yang tetap tinggal di rumah untuk memutus penyebaran virus ini akan sama-sama memiliki kontribusi (amal soleh) berupa kebajikan untuk keselamatan umat manusia.

Covid-19 adalah tantangan bagi kita semua. Paparan di atas merupakan ulasan sederhana untuk melihat celah menyikapi Covid-19 dengan pendekatan  integrasi agama dan sains. Semoga kita bisa keluar dari krisis yang kian mengkhawatirkan dengan melakukan upaya optimal berupa pemaduan agama dan sains sebagai paradigma penyelesaian krisis.[]


tidak cuma para tenaga medis, orang-orang yang tetap tinggal di rumah untuk memutus penyebaran virus ini akan sama-sama memiliki kontribusi (amal soleh) berupa kebajikan untuk keselamatan umat manusia.


(Visited 462 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 2 Mei 2020
Close