19.2 C
Yogyakarta
22 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Covid-19 : Ujian Bagi Kegotong-royongan Bangsa Indonesia

Oleh : Eka Annisa Sari

Bila kita merenungkan kembali perjalanan sejarah sebagai bangsa, maka ingatan kita akan tertuju pada sejarah panjang perjuangan para pendahulu yang telah menempatkan semangat kebersamaan dan kegotongroyongan sebagai roh untuk mencapai kemerdekaan. Pada babak selanjutnya, ketika bangsa kita harus mempertahankan kemerdekaan, semua dapat terlewati dan teratasi dengan adanya komitmen yang kuat untuk tetap mengedepankan asas kebersamaan dan kegotongroyongan dari seluruh komponen masyarakat.

Namun seiring perkembangan jaman, nilai-nilai kebersamaan dan kegotongroyongan yang telah mengakar serta melembaga dalam masyarakat dan bahkan telah menjadi sebuah budaya, mengalami banyak pengikisan, bahkan semakin memudar. Akselerasi tantangan jaman yang semakin berat dan pola hidup yang cenderung menjurus ke materialistis dan individualistis, mengakibatkan sebagian masyarakat mengalami erosi mental. Hal ini harus dihentikan, yaitu dengan mengembalikan semangat gotong royong masyarakat. Kita berharap dengan membangkitkan kembali semangat kebersamaan dan kegotongroyongan, diharapkan hal tersebut dapat menumbuhkembangkan masyarakat yang rukun penuh kekeluargaan, membangun kehidupan bersama dalam keanekaragaman.

Holobis kuntul baris buat kepentingan bersama, itulah gotong-rorong. Prinsip gotong-royong di antara yang kaya dan yang tidak kaya, antara berbagai agama, antara yang bukan Indonesia tulen dengan Peranakan yang menjadi bangsa Indonesia.

Di era kekinian, ujian bagi kegotong-royongan terus menghampiri bangsa Indonesia, dari mulai bencana gempa, tanah longsor, banjir, puting beliung, maupun sederat permasalahan sosial terus menggerus rasa kegotong-royongan diantara kita. Saat ini wabah Covid-19 menjadi “musuh besar” bagi jiwa gotong-royong. Covid-19 telah melanda masyarakat global di hampir seluruh belahan dunia. Kehidupan masyarakat seolah “mati suri”, anak sekolah diliburkan, karyawan di PHK, pariwisata mandeg, perekonomian tiarap. Seluruh masyarakat bergotong-royong membatasi akses sosial juga dibatasi melalui social distancing, physical distancing, hingga penerapan lockdown mandiri dengan menutup pintu masuk/gang/gerbang di setiap perkampungan.

Gotong Royong ala Yogyakarta

Pada tanggal 24 Desember 2010, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X meluncurkan program Semangat Gotong Royong Agawe Majune Ngayogyokarto (Segoro Amarto). Segoro Amarto berarti Semangat Gotong Royong Agawe Majune Ngayogyokarto.

Prinsip Segoro Amarto adalah kemandirian, kepedulian sosial, gotong royong, dan kedisiplinan. Kebijakan Segoro Amarto bertujuan untuk meningkatkan keadilan sosial masyarakat, dan menjadikan kehidupan yang lebih nyaman, sejahtera dan mandiri. Segoro Amarto yang digagas oleh Pemerintah kota Yogyakarta dapat dikatakan sebagai salah satu wujud nyata good governance. Hal tersebut terlihat dari semakin berkembangnya tata pemerintahan yang baik, profesionalisme dan pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Dari segi sosial kemasyarakatan, dampak positif dari pelaksanaan Segoro Amarto adalah berkurangnya tingkat kemiskinan di Kota Yogyakarta.

Segoro Amarto terus berkembang menyesuaikan dengan dimanika dan tantangan jaman. Jika era sebelumnya gotong-royong identik dengan sebuah aktifitas fisik yang dilakukan oleh seluruh warga masyarakat, namun saat ini seiring dengan penerapan pembatasan sosial dan menghindari kerumuman, gotong-royong cukup dilakukan dengan melakukan semua aktifitas di rumah, belajar di rumah, beribadah di rumah, bekerja dari rumah.

Beberapa wujud konkret manisfestasi semangat kegotong-royongan yang tersimak oleh penulis diantaranya. Kampung-kampung di DIY pada Minggu 29 April secara hampir serempak melakukan penutupan gang dengan memasang tulisan lockdown, bahkan diramaikan dengan tulisan menggelitik, “Corona lungo kowe tak rabi”, “Kalo kangen VC saja”, “Neng ngomah wae sadaro kowe jomblo”. Kebersamaan juga tampak dengan penyemprotan cairan disinfektan kebeberapa sudut kampung, juga dengan menyebarkan himbauan kepada para pendatang agar lapor kepada pengurus RT setempat, serta melakukan isolasi mandiri, sehingga steril dari Covid-19.

Sepekan sebelumnya, pada 23 April Pemkot Yogyakarta dan Baznas Kota Yogyakarta dengan didukung para relawan melakukan Penyemprotan Desinfektan dan Bersih di 250 Masjid. Juga dengan pembagian sajadah kepada para jamaah, pembagian 7 ribu butir telur ayam, yang bertujuan untuk meningkatkan gizi masyarakat. Kami bagikan di 10 panti asuhan, 12 ponpes, 3 rumah singgah anak terlantar, dan 3 kampung binaan. Seiring dengan pandemic Covid-19, Pemerintah Kota Yogyakarta juga sigap dengan mendirikan dapur umum dan shelter untuk isolasi mandiri para pendatang, terlebih saat ini sudah memasuki bulan puasa sehingga diharapkan keteresdiaan stock makanan untuk buka puasa dan sahur tetap dapat dicukupi.

Di lain sisi, organisasi sosial kemasyarakatan, PKK Kota Yogyakarta sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat terdampak wabah virus corona atau Covid-19, TP PKK Kota Yogyakarta memberikan bantuan sembako kepada warga kurang mampu. Selain paket sembako, TP PKK Kota Yogya juga menyerahkan masker serta menyosialisasikan bahaya Covid-19.

Seluruh aktivitas warga diatas menjadi bukti nyata kegotong-royongan yang dimiliki bangsa ini masih sangat bisa diandalkan untuk menjadi modal sosial membangun kekuatan keberdayaan masyarakata. Awal dan basis dari modal sosial adalah berupa kepercayaan yang melekat pada budaya diri masyarakat.

Ujian Gotong-royong

Semua lapisan masyarakat merasakan dampak buruk Covid-19. Ancaman krisis di semua penjuru di depan mata, belum lagi gelombang PHK yang pelan tapi pasti terus terjadi di perusahaan. Namun dibalik kecemasan itu semua, kita masih punya baterai bernama “gotong-royong” yang akan selalu terisi penuh untuk menjadi kekuatan dalam menghadapi fenomena kehidupan. Layak diyakini bahwa gotong-royong mampu menjadi slogan ampuh, manjur untuk menanggulangi wabah Covid-19, semoga kita dapat lulus dari ujian ini, dan semakin mengkokohkan budaya gotong-royong, terus kuat dihempas berbagai cobaan.

Penulis adalah ASN di Pemkot Yogyakarta dan Mahasiswa Pascasarjana UPN

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA