Ditulis oleh 12:16 pm COVID-19

Covid-19 “Worship and Effective Communication” at Home

Oleh: Ihda A’yunil Khotimah, M. Pd.

Kondisi di Indonesia yang sedang mengalami wabah penyakit Corona dan melanda hampir seluruh dunia, membawa dampak negatif bagi hampir seluruh masyarakat Indonesia. Kebijakan pemerintah yang terlihat tumpang tindih dan adanya perbedaan pendapat dari para “ahli”, terutama dalam interaksi antar indiividu maupun individu dengan khalayak, di perkotaan sampai pelosok wilayah, mengakibatkan munculnya banyak sindirian. Baik yang dibuat dalam bentuk vlog maupun dengan aplikasi Tiktok, dengan kesan dagelan dan lawakan. Sehingga masyarakat yang telah jenuh stay at home, dapat menikmati dan meng “iya” kan tampilan-tampilan lucu yang memang sudah sedikit menghibur dari ke “gabud” an karena aktivitas yang monoton dan menjenuhkan.

Berbeda dengan kejenuhan yang dialami oleh anak-anak, mereka harus belajar dan mengerjakan tugas dengan instruksi guru, tanpa tatap muka, tanpa mengetahui senyum dan pemberian jempol bahkan pemberian punishman yang mendidik saat mereka sedikit berbuat kekeliruan. Semua bisa menjadi suasana yang diimpikan, baik oleh pendidik maupun peserta didik. Sedangkan bagi mereka yang sedang berada pada akhir jenjang pendidikan (SD dan SMA) ada “pesta kecil” yang dapat dinikmati yakni ditiadakannya Ujian Nasional (UN) karena pada sebagian mereka UN merupakan momok menakutkan yang menuntut harus belajar dengan keras dan serius.  Oleh karenanya dengan kebijakan “stay home” orang tua perlu mengatur strategi untuk memanfaatkan kondisi ini agar menjadi suasana yang positif dan bermanfaat bagi keluarga khususnya.

Bagi kaum muslimin Pandemi  Virus Corona yang bertepatan dengan datangnya  bulan suci Ramadhan merupakan ujian Allah yang harus disikapi dengan bijaksana dengan tetap mengikuti arahan dari para ahli yang berkompeten diantaranya terkait bidang agama, kesehatan serta lingkungan. Physical distancing, stay at home, menggunakan masker, cuci tangan adalah peraturan yang harus dijalankan oleh semua orang tanpa terkecuali, yang akhirnya juga menjadi bahan diskusi bagi beberapa ulama, kyai dan pengurus masjid tentang bagaimana pelaksanaan ibadah di bulan Ramadhan: sebagian di Mushalla, berkumpul dengan jumlah terbatas di beberapa tempat dan ada juga yang memilih untuk jamaah sendiri di rumah dengan keluarga.

Beberapa kaum muslimin yang mempunyai keluarga yang cukup yang akhirnya memilih untuk melakukan ibadah shalat terawih, tadarrus, sahur dan berbuka puasa di rumah, maka akan ada kemanfaatan yang dapat diperoleh antara lain:

1. Dapat melaksanakan do’a bersama, terutama setelah sholat teraweh

Do’a-do’a yang dilantunkan imam (mungkin ayah/ibu) akan membawa dampak positif pada hati dan perasaan seluruh keluarga, apalagi jika disampaikan dengan bahasa yang dapat dipahami oleh seluruh anggota keluarga. Disini dibutuhkan kemampuan “imam” untuk menyusun lafadz-lafadz do’a setelah sholat teraweh yang dapat membawa anak kepada hal-hal positif; meningkatkan ketaqwaan kepada Allah, berbuat baik, berakhlak mulia, selalu optimis dalam menggapai cita-cita dsb.

2. Tadarrus Alqur’an

Yang dimaksudkan adalah membaca Alqur’an dengan saling membetulkan bacaan, mencoba mempelajari makna dengan menghubungkan kepada kejadian di masyarakat, peristiwa alam, pengalaman-pengalaman hidup hingga sejarah orang-orang terdahulu yang dapat dijadikan pelajarn bagi kehidupan anak di masa yang akan datang. Kegiatan ini dapat dilanjutkan dengan membacakan hadist maupun kata-kata mutiara yang dapat memotivasi anak untuk selalu rajin belajar dan bersyukur atas apa yang sudah dititipka Allah untuk keluarga.

3. Berbuka puasa dan Makan sahur bersama

Anjuran bagi orang yang melaksanakan ibadah puasa adalah menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan makan sahur. Miskipun masih ada kaum muslimin  masih enggan untuk mengambil hikmah dari sunnah ini.  Namun jika dilaksanakan dalam keluarga sebenarnya banyak nilai Ibadah yang dapat dilaksanakan: berdo’a sebelum dan sesudah makan, mensyukuri nikmat rizki sehat dan ketersediaan makanan, menjaga kebersihan hingga melatih kemandirian anak.

Minimal tiga hal di atas adalah merupakan rutinitas di bulan Ramadhan. Akan menjadi pembiasaan tanpa paksaan dan melaksanakan tugas sesuai usia dan kapasitas yang dapat dijalankan. 

Momentum ibadah Ramadhan disaat pandemi Corona dapat menjadi wahana keluarga untuk saling memahami dan dapat berkomunikasi efektif baik verbal maupun non verbal. Jika komunikasi efektif diartikan sebagai suatu komunikasi yang mana komunikator dan komunikan mempunyai pengertian yang sama tentang suatu pesan, yang ditandai dengan adanya pengertian dan dapat menimbulkan kesenangan yang mempengaruhi sikap dan dapat meningkatkan hubungan sosial menjadi lebih baik maka, orang tua dapat leluasa dalam merancang dan  mengatur kegiatan selama bulan Ramadhan yang dilaksanakan full seharian.

Komunikasi efektif dapat dilaksanakan dengan mempertimbangkan beberapa hal diantaranya:

  1. Konsistensi orang tua dalam memberi contoh kepada anak dan keluarganya. Alasan kegiatan orang tua di luar rumah misalnya; menjadi imam atau mengisi kultum,  jika tidak dikomunikasikan dengan baik, maka dapat menjadi alasan bagi anak untuk tidak melaksanakan rutinitas yang telah disepakati. Ketidak konsistenan orang tua dianggap oleh anak bahwa kegiatan di rumah tidak lebih lebih penting dari kegiatan di luar rumah.
  2. Ciptakan  kegiatan yang sesuai dengan kemampuan anak. Waktu luang yang dimiliki anak khususnya yang masih belajar (di SD., SMP., SMA maupun PT) tentu berbeda-beda. Kamampuan dalam melakukan tugas juga berbeda-beda. Anak yang paling besar dapat dilatih untuk menjadi pemimpin dalam kegiatan di rumah, misalnya: mengatur tempat sholat, membagi batasan membaca Alqur’an, mengatur meja makan, hingga mengatur jadwal kegiatan selama puasa dan anak yang lain dilatih untuk belajar mandiri dalam memenuhi kebutuhannya.
  3. Beri dukungan dan kesempatan kepada anak untuk melakukan hal-hal positif  sesuai yang diinginkan. Hal  itu penting dilaksanakan karena selama hari-hari normal mungkin orang tua dan anak-anak jarang berkumpul dalam satu rumah untuk ngobrol, bermain, makan, nonton dan nge game bersama. Tiap anggota keluarga belum tentu mengetahui apa hobby masing –masing anak yang dapat dikembangkan. Melakukan hal yang disenangi di bulan Ramadlan dapat menghibur dan sejenak melupakan rasa lapar dan dahaga mereka,

Demikian, tulisan ini hanyalah spontanitas dan sekedar stimulasi bagi kita dalam menjaga keharmonisan Ramadhan at home, mudah-mudahan bermanfaat.

(Visited 49 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 4 Mei 2020
Close