Ditulis oleh 3:20 pm KABAR

Dahsyatnya Sodaqoh

Janji Allah tidak akan pernah meleset, bahwa Allah akan melipatgandakan rizki orang yang bersyukur dengan mensedekahkan sebagian rizkynya benar adanya.

Allah berfirman:

Dan tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Surat Ibrahim Ayat 7)

Janji Allah tidak akan pernah meleset, bahwa Allah akan melipatgandakan rizki orang yang bersyukur dengan mensedekahkan sebagian rizkynya benar adanya.

Sebuah kisah seorang dosen yang bergembira pada tahun itu dia mulai mendapatkan tunjangan sertifikasi, lalu bermusyawarah dengan istrinya bagaimana kalau uang sertifikasinya yang 1 (satu) bulan disodaqohkan dengan argumentasi bahwa sebagai ummat Islam dalam 12 (duabelas) bulan setiap tahunnya maka yang 1 (satu) bulan diminta untuk berpuasa, maka bila kita dapat sertifikasi selama 12 (duabelas) bulan yang 1 (satu) bulan kita sodaqohkan, istrinyapun setuju. Pada bulan Romadhon tahun pertama mendapatkan tunjangan sertifikasi dosen tersebut kebetulan sang Dosen ada tugas ke Kalimantan Timur, teringat  bahwa Kalimantan Timur terkenal dengan Sarung Samarindanya maka dosen tersebut memborong sarung sebanyak 80 potong yang bila dijumlahkan  hampir menghabiskan uang 2 bulan nilai tunjangan sertifikasi.

Sekembalinya dari Kalimantan Timur sarung tersebut dibagikan ke para jama’ah yang aktif di Masjid dekat rumahnya, karyawan bagian umum (tukang kebun, office boy, dll) di Kampusnya, dan sebagiannya lagi dibawa mudik dibagikan jama’ah masjid dikampungnya.

2 (dua) hari pasca lebaran dosen tersebut pulang kembali ke kotanya tinggal selama ini setelah lebaran di kampung, kebetulan pas hari Jum’at, dan sampai tujuan menjelang Sholat Jum’at. Setelah mengikuti ibadah Jum’at di masjid dekat rumahnya dan makan siang bermaksud istirahat siang, namun baru mau merebahkan tubuhnya tiba-tiba Handphonenya berdering ternyata dari teman lama yang sudah sukses di kota besar. Setelah berbasa-basi khas lebaran dan tanya kesehatan masing-masing beserta keluarganya, tanpa diduga sang kawan menawari hadiah tak tanggung-tanggung yakni hadiah Umroh ke Tanah Suci, subkhanalloh betapa pemurahnya Allah SWT. balasannya luar biasa lebih dari 5 (lima) kali lipat sodaqoh yang telah dikeluarkannya.

Cerita belum sampai disitu, karena hadiah diberikan hanya untuk 1 (satu) orang sementara sang istri juga punya keinginan ikut serta, maka selanjutnya sang Dosen dan Istri selalu berdoa agar dimudahkan Rizky sehingga bisa Umroh bersama. Selang tidak begitu lama ada teman yang ngajak berbicang dengan sang Dosen, dan pada akhirnya teman tersebut menyampaikan ingin menjual sebagian tanahnya yang lumayan cukup lebar dengan nilai yang juga besar, apa mungkin sang Dosen bisa mencarikan pembeli, karena bukan berprofesi sebagai maklar tanah maka hanya menjanjikan ikut berusaha mencarikan pembeli, sang teman hanya menjanjikan fee sesuai wajarnya. Singkat cerita sang Dosen mencoba menghubungi salah satu teman yang sukses dalam bisnis dan selanjutnya bertemu untuk membicarakan tentang penjualan tanah. Sang Dosen berterus terang bahwa bukan broker hanya dimintai bantuan sama teman, namun demikian bila hal ini jadi, sang teman yang mau jual tanahnya juga tetap mau memberi fee sebagaimana lazimnya, dalam hal ini sang Dosen jujur mengatakan apa adanya sebagaimana bisnis yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Lalu teman calon pembeli bertanya bila ini jadi apa yang harus saya berikan karena sebagai pembeli telah mengeluarkan uang yang cukup banyak. Sang Dosen hanya mengatakan tidak minta apa-apa karena ini hanya menolong teman (penjual) tapi kalau pembeli mau beri hadiah juga alhamdulillah. Lalu teman (pembeli) tersebut bertanya jika saya memberi hadiah, lalu apa yang kamu (Dosen) belum punya? Lalu sang Dosen menceritakan bahwa sesungguhnya dia telah mendapat hadiah Umroh dari teman lama namun hanya untuk dirinya semetara istri ingin ikut Umroh bersama belum ada yang untuk bayar, jika betul kamu (pembeli) mau kasih hadiah, maka kasih saja hadiah Umroh untuk istri saya, insya Allah akan dapat pahala sama dengan yang Umroh, sambil tersenyum yang bersangkutan mengangguk-anggukan kepala dan berkata insya Allah semoga semuanya bisa lancar. Alhamduillah akhirnya sang Dosen bisa Umroh bersama Istrinya, artinya semua dapat berjalan lancar. Sodaqoh memang dahsyat.

Dalam kisah Rosul juga diceritakan tentang kisah Fatimah putri Rosulullah yang dermawan dan sifat-sifat baik lainnya.

Putri Rasulullah, Fatimah Az-Zahra memiliki kepribadian yang sabar, lembut hati, suka menolong dan penyayang. Salah satu kisah kebaikan hati istri Ali bin Abi Thalib itu adalah tentang kalung miliknya.

Suatu ketika Rasullah sedang duduk di masjid bersama dengan para sahabat, tiba-tiba datang seorang musafir yang kehabisan bekal. Si musafir berkata kepada Rasul. “Ya Rasulullah, saya lapar sekali, berilah saya makanan. Saya tak punya pakaian kecuali yang saya kenakan, saya tak punya uang untuk bekal pulang. Tolong saya ya Rasul”.

Rasul lalu menjawab “Sayang aku sedang tidak memiliki apa-apa untuk diberikan kepadamu, tetapi orang yang menunjukan kebaikan adalah sama dengan orang yang melakukannya.”

Rasul lalu menyuruh si musafir untuk ke rumah putrinya, Fatimah Az Zahra. “Pergilah ke tempat orang yang dicintai Allah dan Rasulnya, dia lebih mengutamakan Allah dari pada dirinya sendiri, itulah Fatimah putriku.”

Kemudian Rasulullah meminta sahabatnya untuk mengantar musafir ke rumah Fatimah. Ketika di rumah Fatimah, ternyata tidak ada sesuatu yang layak dimakan, Fatimah juga tidak punya uang untuk diberikan. Fatimah kemudian teringat kalung hadiah dari ayahnya saat pernikahannya dengan Ali. Dengan hati ikhlas Fatimah lalu memberikan satu-satunya harta yang dimilikinya kepada si musafir. “Juallah kalung ini, mudah-mudahan harganya cukup untuk memenuhi kebutuhanmu,” kata Fatimah.

Musafir itu lalu kembali ke tempat Rasul yang sedang berkumpul dengan sahabatnya dan memperlihatkan kalung yang diberikan Fatimah kepadanya. Rasul begitu terharu dan tak kuasa menahan tangis, putri tercintanya rela memberikan satu-satunya harta yang dimiliki untuk membantu si musafir itu.

Salah seorang sahabat bernama Ammar bin Yasir mengajukan diri untuk membeli kalung itu. “Berapa hendak kau jual kalung itu?” tanya Ammar bin yasir kepada si musafir.

“Aku akan menjualnya dengan makanan yang cukup untuk memenuhi selama perjalananku, sepasang pakaian yang bisa untuk mengganti pakaian yang saya kenakan ini, kendaraan yang bisa membantu perjalanan, dan sedikit uang.” Ammar lalu  mengajak Musafir itu kerumahnya. Sesampainya di rumah Ammar mempersilahkan pada Musafir itu untuk mengambil apa yang dibutuhkannya sesuai yang dia  mau.

Pada dasarnya Musafir itu bisa saja mengambil sebanyak-banyaknya apa yang dia mau karena Ammar sudah mempersilahkannya, namun Musafir itu juga orang yang baik, sehingga hanya mengambil apa yang dia butuhkan saja, beberapa potong roti dan daging, sepasang pakaian, 1 (satu) unta, dan sedikit uang untuk bekal perjalanan.

Setelah Musafir itu meneruskan perjalanan, Ammar berkata kepada budaknya yang bernama, Asham. “Wahai Asham, pergilah menghadap Rasulullah dan katakan aku menghadiahkan kalung ini dan juga engkau kepadanya. Jadi mulai hari ini kamu bukan budakku lagi tetapi budak Rasulullah.”

Rasulullah yang menerima pesan Ammar tersenyum dan melakukan hal yang sama, menyuruh budak itu pergi ke Fatimah untuk menghadiahkan kalung dan budaknya. Fatimah begitu berbahagia menerima hadiah kalung dari ayahandanya, meskipun dia tahu kalung itu adalah kalung miliknya yang diberikan kepada musafir. Dia juga mendapat hadiah seorang budak.

Fatimah yang berhati lembut bukan berbahagia mendapatkan budak, dia justru membebaskan Asham dan menjadikan Asham manusia merdeka. Asham begitu gembira karena dirinya tak lagi menjadi budak. Dia tersenyum dan tertawa hingga membuat Fatimah bingung. Asham lalu berkata.

“Aku tertawa karena kagum dan takjub akan berkah kalung itu. Kalung itu telah mengenyangkan orang yang lapar, telah menutup tubuh orang yang telanjang, memberi kendaraan orang yang dalam perjalanan, telah memenuhi hajat seorang yang fakir dan akhirnya telah membebaskan seorang budak,” jawab Asham.

Kisah-kisah ini bisa menjadi pelajaran dan hikmah agar selalu bersodaqoh meski dalam keadaan sulit. Dan ada hikmah serta pelajaran yang dapat di petik, yakni:

  1. Sodaqoh sebagai rasa syukur atas nikmat Allah SWT. akan dibalas dengan Rizky yang lebih banyak.
  2. Kesempatan untuk dapat bersodaqoh bila saat itu datang namun sedang tidak mampu, maka berikan kesempatan itu kepada kerabat dekatnya lebih dahulu, seperti Rosulullah memberi kesempatan pada anaknya lebih dahulu, walaupun beliau sedang bersama para sahabat yang tentunya banyak sahabat yang berkecukupan.
  3. Bagi penerima sodaqoh walau ada kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak, jangan rakus dan berlebih-lebihan karena perbuatan itu juga tidak baik (QS. At Takatsur). Apa yang dilakukan Musafir itu dapat menjadi tauladan.

Mudah-mudahan sekelumit kisah-kisah diatas dapat diambil hikmah dan pelajaran bagi kita semua, Aamiin.

(Visited 112 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 7 Mei 2020
Close