Ditulis oleh 8:43 pm KALAM

Dakwah Islamiyah Pada Masa Kraton Demak Bintara

Penyebaran agama islam pada masa kerajaan Demak Bintara amat memperhatikan arti penting kebudayaan dan kearifan lokal.

A. Penyebaran Agama Islam

Dakwah Islamiyah di tanah Jawa pada masa Kraton Demak Bintara dilakukan oleh dewan Wali Sanga. Kraton Demak Bintara merupakan juru bicara kawasan Asia Tenggara yang sangat disegani. Hal ini disebabkan oleh kontribusi Kraton Demak Bintara dalam bidang ekonomi, pelayaran, perdagangan, kerajinan, pertanian, pendidikan dan keagamaan. Struktur pemerintahan dalam kerajaan Demak Bintara melibatkan kaum teknokrat, ulama, dan pedagang.

Para wali menyebarkan agama Islam dengan penuh kebijaksanaan. Pada jaman dulu wilayah Demak Bintara terletak di tepi selat di antara Pegunungan Muria (Graaf, 1989: 47). Para pelajar dari Demak Bintara juga dikirim untuk belajar ke berbagai negeri sahabat tersebut (Siswoharsoyo, 1957: 32). Saat itu Kraton Demak Bintara memang muncul sebagai kerajaan maritim Islam yang makmur, lincah, berilmu, kosmopolit dan agamis. Kraton Demak Bintara diperintah oleh para Kanjeng Sultan yang didukung penuh oleh para wali yaitu Kanjeng Kanjeng Maulana Malik Ibrahim, Kanjeng Sunan Ngampel, Kanjeng Sunan Bonang, Kanjeng Sunan Drajat, Kanjeng Sunan Giri, Kanjeng Sunan Kalijaga Kanjeng Sunan Muria dan Kanjeng Sunan Gunung Jati. Mereka gemar dengan kesenian dan budaya wilayah.

Kebudayaan menjadi strategi para wali  dalam melakukan dakwah Islamiyah. Mereka menyempurnakan bentuk dan lakon wayang agar tidak bertentangan dengan agama Islam (Effendi, 1977: 35). Kota negara Islam, Demak Bintara, telah menjadi titik tolak perjuangan, untuk menyebarkan agama Islam, bahasa dan kebudayaan Jawa di sepanjang pesisir utara Jawa Barat. Tindakan Syekh Nurulllah yang kemudian diberi gelar Kanjeng Sunan Gunung Jati tadi, dan juga tindakan anaknya, Hasanuddin, yang kelak menjadi raja Islam pertama di Banten Darusalam, ternyata sangat krusial dalam upaya meluaskan wilayah pengaruh raja-raja Islam dari Demak Bintara ini. Di sini akan dilukiskan lahirnya kraton-kraton Islam baru. Putra dan pengganti raja Islam pertama di Pasir, Senopati Mangkubumi.

Kekuasaan Demak Bintara-Islam dipulihkan kembali dengan ekspedisi keprajuritan, yang dikirim Kanjeng Sultan Demak Bintara. Pemimpin  yang bernama Carang Andul dan Binatang Karya gugur dalam peperangan melawan penyerbu itu, dan raja Pasir muda itu lalu tinggal glanggang colong payu ke Bocor. Seorang anggota garis keturunam lain dari wangsa raja itu diserahi kekuasaan pemerintahan di Pasir. Tindakan bersenjata yang dilakukan orang Jawa Tengah, untuk memulihkan atau memantapkan kekuasaan Sultan, dapat dianggap salah satu tindakan kekuasaan Sultan Demak itu.

Jaka Tingkir telah mengangkat Pangeran Timur, putra Sultan Demak Bintara, seba­gai bupati di Madiun (Moejanto, 1994: 103). Tahun-tahun peristiwa Jawa, yang diukir pada batu-batu bangunan beberapa gedung di permakaman keramat itu, menunjukkan bahwa pada 1566 Sultan Pajang Hadiningrat, Adiwijaya, dan pada 1633 Kanjeng Sultan Agung dari Mataram Hadiningrat, memberikan sumbangan untuk nemperluas dan memperindah Tembayat (Jayasubrata, 1917: 48). Tokoh yang kemudian menjadi Kanjeng Sunan Tembayat itu termasuk trah para bupati Semarang. Dari pihak ibunya ia masih mempunyai hubungan keluarga dengan Kraton Demak Bintara.

B. Keselarasan Agama dan Budaya

Penyebaran agama islam pada masa kerajaan Demak Bintara amat memperhatikan arti penting kebudayaan dan kearifan lokal. Hubungan agama dan budaya berjalan dengan selaras, serasi dan seimbang (Poerbatjaraka, 1964: 72). Dalam Naskah Melayu yang diterbitkan Parlindungan dijelaskan secara rinci mengenai elemen-elemen Cina yang agak menonjol seperti bangunan klenteng-klenteng  besar yang konon semula adalah masjid yang dibangun oleh seorang muslim Cina yang masuk wilayah Nusantara pada masa kraton maritim mereka. Naskah tersebut juga menjelaskan mengenai penyiar agama Islam yang ternyata adalah orang Cina (Effendi, 1977: 23). Pengajaran Ilmu Sejati yang dilakukan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga diterima secara luas di kalangan masyarakat Jawa. Para bangsawan. agamawan, budayawan dan kawula di pedesaan berbondong-bondong berguru kepada Kanjeng Sunan Kalijaga. Para raja Jawa yang menjadi murid Sunan Kalijaga di antaranya Sultan Demak, Sultan Pajang dan Sultan Mataram. Kebijakan Sultan selalu bereferensi kepada kebajikan Sunan. Dalam hal ini hubungan umara negarawan mendapat bimbingan rohani dari ulama agamawan (Darsiti, 1989: 211). Demikian juga dengan adanya Masjid Agung Demak menjadi bukti bahwa kraton dalam sejarahnya adalah bagian dari pusat-pusat penyebaran nilai-nilai keislaman (Clifford Geertz, 1981: 175).

Pada 1703 baju tersebut masih disebut sebagai salah satu pusaka kraton. Pada waktu itu baju tersebut diserahkan kepada sunan baru, Amangkurat III di Kartasura (Asrori, 2001: 57). Nama Kudus, yang pada abad ke-16 diberikan kepada pusat keagamaan Islam yang lain, terletak tidak jauh dari Demak Bintara, berasal dari kata al-Quds, nama Arab untuk Yerusalem, juga kota suci bagi orang Islam (Zahri, 1984: 27). Tata negara Demak Bintara selalu berhubungan dengan eksistensi kewibawaan masjid agung Demak. Betapa pentingnya Masjid Agung Demak Bintara di alam pikiran orang Jawa Islam. Masjid Agung Demak Bintara telah menjadi Kotanegara Islam pertama di Jawa Tengah. Kota yang kemudian dikenal sebagai Kotanegara Kraton Demak Bintara. Kota ini cepat menjadi pusat perdagangan dan lalu lintas, dan menjadi pusat ibadat bagi kelompok menengah Islam yang baru muncul. Raja-raja Demak Bintara menganggap Masjid Agung Demak Bintara sebagai simbol kraton Islam mereka. Masjid Agung Demak Bintara pada abad-abad berikutnya menjadi krusial sekali dalam dunia Jawa, dan itu pada prinsipnya merupakan jasa trah Demak Bintara. Masjid Agung Demak Bintara merupakan pusat untuk menghormati orang suci, terutama Kanjeng Sunan Kalijaga, wali dan pelindung Jawa Tengah sebelah selatan. Meskipun kekuasaan raja-raja Demak Bintara jatuh, kesetiaan yang berurat berakar terhadap para wali mengakibatkan Masjid Agung Demak Bintara tetap merupakan pusat kehidupan beragama di Jawa Tengah. Kanjeng Sunan Kalijaga sebagai juru dakwah senantiasa menggunakan konsep momong, momor, momot atau akomodatif, komunikatif, persuasif.


DAFTAR PUSTAKA

Asrori, 2001. Menebar Islam, Ditopang Mahapahit, Gatra, Surabaya.

Bratadiningrat, 1990, Asalsilah Warna Warni, Surakarta.

Clifford Geertz, 1981. Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya.

Darsiti, 1989. Kehidupan Dunia Kraton Surakarta 1830 – 1939. Yogyakarta: UGM.

Effendi, 1977. Nilai Islam dalam Pewayangan. Jakarta: Departemen Agama.

Faqier, 1959. Suluk Syekh Malaya. Yogyakarta: Bratakesawa.

Graaf, 1989. Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa. Jakarta: Grafiti Pers.

Jayasubrata, 1917. Babad Tanah Jawi. Semarang: Van Dorp & Co.

Koentjaraningrat, 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.

Moedjanto, 1994. Konsep Kekuasaan Jawa, Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius.

Poerbatjaraka, 1964. Kapustakan Jawi, Jakarta : Djambatan.

Siswoharsoyo, 1957. Serat Guna Cara Agama. Yogyakarta: Persatuan.

Soemarsaid, 1985. Negara dan Usaha Bina Negara di Jawa Masa Lampau, Studi Tentang Masa Mataram II Abad XVI sampai XIX. Jakarta: Yayasan Obor Nusantara.

Suripan, 2001. Sinkretisme Jawa – Islam, Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta.

Suyamto, 1992. Refleksi Budaya Jawa dalam Pemerintahan dan Pembangunan. Semarang: Dahana Prize.

Zahri, 1984. Kunci Memahami Tasawuf. Surabaya: Bina Ilmu.

(Visited 251 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 16 Mei 2020
Close