Ditulis oleh 10:07 pm KALAM

Dampak Sosial Pasien Covid-19

Fenomena stigmasisasi semakin meningkat hinga titik yang sangat memprihatinkan.

“Biasanya orang itu dekat dengan saya, sekarang malah membuang muka. Hal ini lebih menyakitkan saya daripada rasa sakit Covid-19 itu sendiri,” kata Desmon, 67 tahun warga Payakumbuh, Sumatera Barat (https://www.pikiran-rakyat.com/). Di kasus lain, Direktur Utama Rumah Sakit (RS) Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Widodo Wiryawan mengatakan mendapat laporan beberapa perawat mendapat stigma negatif. Salah satunya, ada perawat yang tak bisa memperpanjang sewa kos (https://www.cnnindonesia.com/). Itulah sekelumit contoh dampak sosial dari Covid-19. Dari kasus-kasus tersebut kita dapat mengetahui efek samping yang ditimbulkan di masa pandemik ini, mengapa itu bisa terjadi, apa dampak yang timbul dan bagaimana kita menyikapi hal tersebut?

Fenomena stigmasisasi semakin meningkat hinga titik yang sangat memprihatinkan. Dari penolakan dokter dan perawat pasien covid oleh warga sekitar tempat domisili tinggal mereka, pasien positif maupun sembuh, bahkan hingga pasien positif yang meninggal karena covid juga mendapat penolakan dari warga yang mana warga tidak mau menerima jenazahnya di TPU setempat. Banyak penyematan negatif sampai ke telinga mereka, mulai dari keluarga sarang virus hingga pembawa aib.

Sikap menghindar sebagian masyarakat sebetulnya bisa dipahami sebagai hal yang wajar karena khawatir, panik, atau takut. Namun jika sudah berlebihan, pada titik tertentu justru bisa melahirkan masalah baru yang lebih besar. Bayangkan apabila mereka yang memiliki gejala terinfeksi corona menyembunyikan sakitnya agar tidak dikucilkan, enggan mencari bantuan kesehatan, dan tidak menjalankan perilaku hidup yang sehat. Alih-alih menahan, penularan virus semakin tidak terkendali.

Sebaliknya, saudara kita yang menjadi ODP, PDP, dan pasien positif corona perlu didukung untuk sembuh. Terutama dari orang-orang terdekat seperti keluarga dan tetangga sekitar. Dukungan sekecil apapun akan memberi rasa aman dan nyaman sehingga mempercepat proses pemulihan.

Tentu saja dukungan tersebut harus tetap memperhatikan protokol yang dianjurkan pemerintah. Fungsi edukasi-sosialisasi dari pemerintah dari tingkat pusat hingga desa dengan melibatkan tokoh agama dan masyarakat memiliki peran signifikan untuk mengikis stigma. Masyarakat perlu paham bahwa selama bisa melakukan physical distancing atau menjaga jarak, menggunakan masker, rutin mencuci tangan, dan nutrisi makanan terpenuhi maka sudah cukup aman dari risiko tertular virus corona.

Menurut Smith (2012) menjelaskan, stigma awalnya terbentuk dari tanda atau simbol yang diasosiasikan dengan makna tertentu. Stigma selalu berkaitan dengan komunikasi. Layaknya dua bilah mata pisau, komunikasi berperan dalam proses konstruksi makna dan penyebaran stigma. Namun di sisi lain komunikasi juga dapat menjadi alternatif solusi untuk meredam stigma.

Bagai bola salju, anggapan negatif mengenai pasien corona terus bergulir dan menjadi opini di masyarakat. Kondisi ini semakin sulit dibendung dengan banyaknya konten senada yang viral di media sosial. Meski tidak ada kesepakatan secara formal, namun alam bawah sadar masyarakat seakan turut mengamini dan disepakati publik. Apalagi belum ada langkah klarifikasi masif dari pihak yang berwenang.

Untuk meredam stigma, Brashers (2008) mengajukan komunikasi yang lebih humanis dan manusiawi yakni melalui ruang dialog. Dengan membangun dialog, maka akan membuka komunikasi dua arah. Poin penting dari dialog ini adalah usaha untuk memposisikan diri sekaligus merasakan apa yang selama ini dikeluhkan pasien positif corona. Ketika proses ini dilakukan secara bersama dengan penuh kesadaran, maka akan muncul rasa empati dan solidaritas. Namun dengan dialog hanya terbatas dengan lingkup kecil saja, tidak bias menyeluruh ke semua lapisan masyarakat yang jumlahnya banyak. Namun ada acara efektif agar stigma negatife di lapisan masyarakat awam bias dikurangi bahkan dihilangkan. Yaitu dengan jalur budaya setempat.

Seperti yang diberitakan oleh CNN Seorang pasien yang positif terinfeksi virus corona di Rembang, Jawa Tengah, dinyatakan sembuh. Saat tiba di rumahnya Selasa malam, ia langsung diarak berkeliling kampung, dan melakukan sujud syukur.

Menurut saya pribadi ini cara paling efektif untuk menyampaikan kepada khalayak ramai tanpa terlalu lama berdialog. Hanya perlu dukungan perangkat desa dan beberapa orang terdekat maupun keluarga, cukup dibawa keliling kampong sebagian besar warga awam akan mudah mengerti.

(Visited 117 times, 2 visits today)
Tag: , Last modified: 20 Mei 2020
Close