Dampak Virus Corona, Udara Bersih Tapi Sampah Menumpuk?

9.6.22. Dampak - Narantaka
Kekhawatiran akan keselamatan dan kesehatan, telah mengurangi tindakan daur ulang, dan hal ini justru membawa dampak menumpuknya sampah.

Banyak yang mengatakan dampak dari Virus Corona tidak hanya terhadap kehidupan manusia, tetapi juga mempengaruhi lingkungan alam, seperti udara jadi lebih sehat. Namun bagaimana dengan sampah kita? Apakah juga mengalami perubahan? Atau justru semakin memburuk?

Udara Bagus, Sampah Bertambah

Bila dilihat, pandemi COVID-19 ini memberikan dampak yang dapat dikatakan baik bagi lingkungan. Dengan “tutup”nya banyak industri berat dan lebih sedikit mobil di jalan, masyarakat mengeluarkan lebih sedikit gas rumah kaca dan kualitas udara menjadi lebih baik. Namun hal positif nampaknya tidak terjadi pada sampah kita, hal yang dikatakan sebagai “ironi” oleh Tom Szaky, pendiri dan CEO perusahaan daur ulang TerraCycle.

Mendaur ulang sampah memang sedang mengalami krisis oleh karena beberapa faktor. Dan dengan adanya pandemi ini, kegiatan tersebut semakin terpuruk keberadaannya, oleh karena banyak yang mempermasalahkan bahaya kesehatan dan keselamatan.

Bila bicara plastik, minyak pasti akan masuk kedalam hitungan. Jika harga minyak turun, maka pembuatan plastik akan semakin murah. Agar mendapat untung, maka produk daur ulang harus memberikan hasil lebih dari pada biaya yang dikeluarkan untuk mengumpulkan sampah daur ulang serta memprosesnya. Jika harga murah sejak awal, dan diperburuk dengan pandemi ini, maka terdengar tidak masuk akal untuk membuat produk daur ulang, ketika bahan mentahnya sendiri lebih mahal ketimbang produknya.

Faktor lain adalah bahwa kualitas dari “sampah” tersebut menurun. Hal ini dikenal sebagai “lightweighting” dan telah dipraktekkan sebelum pandemi melanda. Yang dimaksud dengan kualitas menurun adalah dalam pembuatan botol plastik, botolnya dibuat agar lebih kurus. Hal ini dilakukan untuk menghemat pengeluaran dengan cara menggunakan lebih sedikit bahan baku (plastik). Hal ini membuat perusahaan daur ulang, tidak melihat keuntungan ketika mendaur ulang sampah plastik yang berkualitas rendah ini.

Sekali Pakai

Tidak hanya itu, pandemi Virus Corona ini juga telah menanamkan pola pikir konsumsi sekali pakai. Orang langsung membuang sampah plastik mereka, lantaran khawatir dengan penggunaan berkali-kali, akan membuka peluang adanya virus yang masih menempel di sana. Inilah dasar ide penggunaan “bungkus” sekali pakai.

Barang-barang, seperti tisu, hand sanitiser, dan berbagai macam peralatan, baik untuk membersihkan diri, maupun untuk kebutuhan lain selama di rumah saja, kini semakin diburu masyarakat. Hal tersebut tentu menambah jumlah kemasan (bungkus) untuk barang-barang tersebut. Restoran pun kini tidak menggunakan piring, karena tidak ada yang makan di restoran, dan beralih pada kotak bungkusan, yang kemungkinan besar, tidak akan dipakai lagi. Bahkan banyak tempat belanja (toko, dll) yang tidak memperbolehkan menggunakan tas belanja yang terus dipakai karena khawatir akan membawa virus dari rumah.

Meski pandemi ini membawa dampak kebersihan udara (langit biru) dan mengurangi kebisingan lalu lintas, tetapi produksi sampah kini semakin bertambah dari pada sebelumnya. Kekhawatiran akan keselamatan dan kesehatan, telah mengurangi tindakan daur ulang, dan hal ini justru membawa dampak menumpuknya sampah. Mungkin hal ini patut menjadi perhatian di masa depan. Dalam keadaan pandemi yang tidak tahu kapan akan berhenti, tentu kita tidak ingin mendapatkan masalah baru, yaitu banjir sampah. (sumber dari situs wired)

(Visited 34 times, 1 visits today)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Official Website YAYASAN ABDURRAHMAN BASWEDAN Dikelola oleh Sekretariat ©2020