Ditulis oleh 8:29 am SAINS

Dapatkah Bernyanyi Menularkan COVID-19?

Bernyanyi, terutama nyanyian yang keras dan kaya konsonan, menyebarkan banyak partikel aerosol dan tetesan ke udara sekitarnya.

Diam adalah emas. Perkataan tersebut, utamanya pada keadaan saat ini, merupakan nasihat yang dapat menyelamatkan orang lain dari penularan virus corona. Namun apakah artinya kegiatan yang melibatkan suara seperti bernyanyi harus dihentikan? Tentunya tidak. Namun demikian hal yang paling baik untuk dilakukan adalah bernyanyi dengan menerapkan pembatasan sosial.

Peneliti aerosol di Lund University di Swedia memberikan usul tersebut oleh karena mereka telah mempelajari jumlah partikel yang sebenarnya kita pancarkan saat kita bernyanyi. Dan lebih jauh lagi, apakah hal tersebut dapat berkontribusi pada peningkatan penyebaran COVID-19 jika kita bernyanyi di publik.

Jakob Löndahl, profesor Teknologi Aerosol di Universitas Lund, mengatakan bahwa terdapat banyak laporan berkaitan dengan penyebaran virus corona dari kegiatan bernyanyi pada paduan suara. Oleh karena hal ini, terdapat berbagai pembatasan telah diberlakukan di seluruh dunia untuk membuat nyanyian lebih aman. Namun, sejauh ini belum ada penyelidikan ilmiah mengenai jumlah aerosol, partikel dan tetesan yang lebih besar yang benar-benar kita hembuskan saat kita bernyanyi.

Seperti yang telah diketahui, Aerosol adalah partikel kecil yang berada di udara. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik perihal jumlah aerosol dan partikel virus yang dapat kita pancarkan saat kita bernyanyi, sebuah proyek studi menggunakan 12 penyanyi yang sehat dan dua orang yang sudah dikonfirmasi terkena COVID-19. Tujuh relawan tersebut merupakan penyanyi opera profesional.

Di dalam studi tersebut, ditunjukkan bahwa bernyanyi, terutama nyanyian yang keras dan kaya konsonan, menyebarkan banyak partikel aerosol dan tetesan ke udara sekitarnya.

Malin Alsved, mahasiswa doktoral Teknologi Aerosol di Lund University mengungkapkan bahwa terdapat beberapa tetesan sangat besar sehingga hanya bergerak beberapa desimeter dari mulut sebelum jatuh. Akan tetapi, untuk tetesan lainnya lebih kecil dan dapat terus melayang selama beberapa menit di udara. Dirinya menambahkan bahwa secara khusus, pelafalan konsonan melepaskan tetesan yang sangat besar dan utamanya pada huruf B dan P merupakan penyebar aerosol terbesar dibandingkan yang lainnya.

Selama eksperimen studi di laboratorium Aerosol Universitas Lund, para penyanyi haruslah mengenakan setelan khusus dan memasuki ruangan yang dibangun khusus yang disuplai dengan udara bebas partikel yang disaring. Di dalam ruangan tersebutlah analisis dilakukan terhadap jumlah dan massa partikel yang dipancarkan penyanyi saat bernapas, berbicara, dan menyanyikan berbagai jenis nyanyian dan juga bernyanyi dengan masker wajah.

Lagu-lagu dalam percobaan studi tersebut adalah lagu Swedia pendek dan kaya plosif, “Bibbis pippi Petter”, yang diulang 12 kali dalam dua menit dengan nada konstan. Lagu yang sama juga diulangi dengan konsonan dihilangkan, hingga hanya menyisakan vokalnya. Selama pengujian dengan lagu tersebut, aerosol dan tetesan yang lebih besar diukur menggunakan lampu yang kuat, kamera berkecepatan tinggi, dan instrumen yang dapat mengukur partikel yang sangat kecil. Semakin keras dan kuat lagunya, semakin besar konsentrasi aerosol dan tetesannya.

Malin Alsved mengatakan bahwa mereka juga melakukan pengukuran virus di udara dua orang yang terkena COVID-19. Sampel udara mereka tidak mengandung jumlah virus yang terdeteksi, tetapi viral load atau kandungan virus dapat bervariasi di berbagai bagian saluran udara dan di antara orang yang berbeda. Oleh karenanya aerosol dari pengidap COVID-19 juga mungkin masih memiliki risiko untuk menularkan saat bernyanyi.

Tentu dengan adanya studi tersebut memberikan pertanyaan tentang apakah kita masih diperbolehkan bernyanyi di paduan suara, ikut bernyanyi dalam konser, dan sebagainya? Para peneliti menganggap bahwa jika terdapat pemahaman yang baik mengenai risiko ketika sekelompok orang bernyanyi bersama, maka kita dapat juga bernyanyi dengan cara yang lebih aman.

Lagu-lagu yang dinyanyikan bersama di tempat umum dengan banyak orang tersebut dapat juga dinyanyikan sambil melakukan pembatasan jarak. Menjaga dengan baik kebersihan serta ventilasi yang baik sehingga dapat mengurangi konsentrasi partikel aerosol di udara. Masker juga bisa menjadi alternatif untuk mengurangi penyebaran aerosol.

Jakob Löndahl mengatakan bahwa saat penyanyi mengenakan masker wajah sederhana, ini menangkap sebagian besar aerosol dan tetesan dan levelnya sebanding dengan ucapan biasa. Dirinya menambahkan bahwa kegiatan bernyanyi tidak perlu dibungkam atau diberhentikan sepenuhnya. Akan tetapi mengingat kondisi lingkungan saat ini akan lebih baik jika melakukan tindakan yang tepat untuk mengurangi risiko penyebaran infeksi virus corona. (Disadur dari situs sciencedaily)

(Visited 24 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 14 September 2020
Close