16.4 C
Yogyakarta
17 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
SAINS

Daratan Mempercepat Evolusi Otak

Pernahkah kita bertanya, mengapa kita bisa berevolusi menjadi diri kita dewasa ini? Bila dibandingkan dengan pendahulu akuatik kita, makhluk darat, termasuk manusia, memiliki sesuatu yang mungkin menyebabkan tingkat evolusi yang berbeda. Apakah itu?

Rentang Lingkungan Alam

Penelitian baru-baru ini menemukan bahwa keunikan bentang alam yang dihiasi dengan berbagai macam pohon, semak-semak, batu-batu besar, dan bukit-bukit mungkin telah membantu makhluk darat untuk mengembangkan kecerdasan yang berbeda bila dibanding dengan nenek moyang akuatik mereka.

Jika dibandingkan dengan lautan yang dipenuhi oleh air yang terbuka yang luas dan kosong, daratan dipenuhi dengan berbagai hambatan dan rintangan. Dengan terdapatnya daerah-daerah ini memberi tempat untuk beberapa hewan untuk bersembunyi dari para predator. Bentang alam yang unik, memberikan tempat bersembunyi yang amat dari serangan kejut (dadakan). Dapat dikatakan bahwa habitat yang ada di darat mungkin telah membantu munculnya penggunaan strategi serta perencanaan, di luar kebiasaan, untuk hewan-hewan tersebut, termasuk manusia.

Namun para peneliti juga menemukan bahwa sekadar perencanaan tidak memberi leluhur kita keunggulan di semua wilayah. Simulasi yang dilakukan para peneliti menunjukkan adanya wilayah-wilayah yang menyediakan perlindungan yang tidak sedikit namun juga tidak terlalu banyak. Hal ini tidak terlalu menguntungkan predator, karena perencanaan dan strategi menghindari serangan bisa relatif bekerja. Dalam lanskap sederhana seperti tanah terbuka atau lanskap padat seperti hutan lebat, keuntungan bagi para predator tidaklah terlalu besar. Sehingga menurut peneliti tidak hanya kemampuan yang ada di kepala yang terdorong melakukan evolusi, namun juga yang ada di lingkungan tempat dia tinggal.

Mensimulasikan Kehidupan

Para peneliti menunjukkan bahwa ketika hewan mulai mendiami daratan sekitar 385 juta tahun yang lalu, mereka memperoleh kemampuan untuk melihat lebih jauh dibandingkan di air. Ini mengarahkan pada hipotesis bahwa predator atau mangsanya dalam konteks dapat melihat lebih jauh, mungkin memerlukan penggunaan otak yang lebih banyak bila dibandingkan dengan berburu di dalam air yang kosong dan terbuka.

Namun, sebuah simulasi dari superkomputer untuk studi baru mengungkapkan bahwa meski melihat lebih jauh diperlukan untuk pembentukan strategi dan perencanaan, hal ini tidaklah cukup. Sebaliknya, kombinasi pemikiran jangka panjang dan wilayah dengan campuran area terbuka dan vegetasi yang lebih padat menghasilkan keuntungan yang yang jelas bagi pembentukan strategi dan perencanaan. Mereka berspekulasi bahwa pindah ke darat menyediakan “bahan bakar” pada evolusi otak oleh karena hal ini mungkin membutuhkan kemampuan kognitif tersulit, yaitu membayangkan masa depan.

Peneliti membuat dunia yang sederhana dan terbuka tanpa hambatan visual untuk mensimulasikan dunia akuatik.

Untuk menguji hipotesis ini, para peneliti membuat simulasi untuk menguji tingkat kelangsungan hidup mangsa yang secara aktif diburu oleh predator di bawah dua strategi pengambilan keputusan yang berbeda. Yang pertama berbasis kebiasaan (otomatis, seperti sudah dihapalkan) dan berbasis rencana (membayangkan beberapa skenario dan memilih yang terbaik). Peneliti membuat dunia yang sederhana dan terbuka tanpa hambatan visual untuk mensimulasikan dunia akuatik. Kemudian, mereka menambahkan beragam benda-benda untuk mensimulasikan daratan.

Dalam lingkungan akuatik yang sederhana dalam penelitian ini, tingkat kelangsungan hidup mangsa sangatlah rendah baik mereka yang menggunakan tindakan berbasis kebiasaan maupun mereka yang memiliki kemampuan untuk merencanakan. Hal yang sama juga terjadi di lingkungan yang sangat padat, seperti terumbu karang dan hutan yang sangat lebat. Ini karena menurut peneliti, lingkungan terbuka atau yang padat semacam itu, tidak memberikan tempat untuk perencanaan.

Di lingkungan terbuka, hewan hanya akan terbatas pada berlari ke arah yang berlawanan dari datangnya predator dan berharap tidak tertangkap. Sementara di lingkungan yang sangat padat, hanya ada beberapa jalur yang dapat diambil, dan strategi tidak dapat dibuat karena jarak pandangan yang sangat kecil. Dalam lingkungan semacam inilah para peneliti menemukan bahwa perencanaan tidak meningkatkan peluang untuk bertahan hidup.

Daratan yang Pas

Ketika wilayah padat vegetasi diselingi dengan area terbuka yang luas seperti savana, simulasi menunjukkan bahwa strategi dan perencanaan meningkatkan kelangsungan hidup dibandingkan dengan yang berbasis pada kebiasaan. Perencanaan meningkatkan peluang untuk bertahan hidup, sehingga evolusi akan memilih sirkuit otak yang memungkinkan hewan untuk membayangkan skenario masa depan, mengevaluasi mereka dan kemudian menetapkannya.

Dengan daerah yang pas ini, baik predator atau mangsa dapat saling mempengaruhi pergerakan mereka layaknya papan catur, dimana setiap gerakan, memiliki kesempatan untuk membuat suatu strategi baru. Inilah yang mungkin dimanfaatkan oleh nenek moyang kita untuk dapat tinggal berbagai wilayah di seluru penjuru dunia. Dengan kombinasi dari daratan dan kemampuan otak kita untuk membayangkan masa depan, manusia berevolusi menjadi penguasa dunia. Dengan kemampuan ini, dapatkah juga manusia melihat ke masa depan kapan pandemi akan berakhir? (Sumber situs sciencedaily)

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA