25.1 C
Yogyakarta
23 September 2021
BENTARA HIKMAH
KALAM

Darurat, Social Change dan Orang Besar (Bagian Kedua-Terakhir)

Menyikapi Darurat

 Berat untuk merubah adat istiadat, kebiasan yang hidup ratusan tahun bahkan ribuan tahun, apalagi dirubah secara drastis (revolusi), tidak pelan-pelan (evolusi). Sejarah Walisongo dalam Islamisasi Pulau Jawa [dan kepulauan Nusantara], sungguh luar biasa dan sangat mengagumkan. Menghadapi masyarakat yang memiliki adat istiadat dan budaya yang diwarnai oleh Hindu dan Budha, dapat dirubah dengan “nafas” Islam, tanpa meninggalkan “luka” pada budaya Jawa. Proses Islamisasi yang begitu hebat, bukan dilakukan dengan main-main, serampangan dan tanpa ilmu pengetahuan. Semuanya dilakukan berdasarkan kepada ilmu pengetahuan, budaya, falsafah, sosial keagamaan. Dilakukan dengan penuh kesadaran dan sabar, terarah. Last, but not lies, kekuasaan. Kolaborasi antara umara’ (para raja) dan ulama’ (para wali, alim), menghasilkan proses Islamisasi yang sempurna menurut ukuran waktu dan tempat saat itu. Dan keberhasilan tersebut tidak mudah ditiru oleh generasi berikutnya.

Kebalikannya (muqabalah), Apa jadinya jika para wali, para ulama’ dan dai waktu itu berfikiran sama dengan (pertanyaan di atas) muallaf yang tidak bisa keluar dari kondisi sosial religius di daerahnya? Tentu tidak akan terjadi islamisasi Nusantara yang begitu mencengangkan. Pasti masyarakat Nusantara akan tetap hidup dalam kepercayaan Animisme dan Dinamisme, plus Agama Hindu-Budha. Hidup dalam “kejahiliyahan” lama, dan tidak ada reformasi falsafah hidup, agama, dan kepercayaan.

Islam: Merevolusi diri

Dalam Islam, saat manusia mengucapkan Syahadatain, syahadat pertamanya adalah “Syahadat Tauhid” yang mengandung kalam “mutsbat” dan “manfi” sekaligus. “Mutsbat” (menetapkan) hanya Allah sebagai “Ilah”-nya, dan “manfi” (meniadakan) selain Allah sebagai “ilah”. Konsekwensinya: sesama manusia kedudukannya sama. Sama-sama mulia (QS. 17: 70) sebagai ciptaan Allah yang paling sempurna (QS. 95: 4), dan menempatkan ciptaan Allah yang lain, “tunduk” di bawah “kekuasaan” manusia (QS. 14: 33; 16: 12-14). Namun dengan kekuasaan yang dimilikiya (QS. 2: 30), manusia tidak boleh membuat kerusakan ciptaan Allah (QS. 7: 56), dan diamanahkan untuk memakmurkananya demi kemashlahatan manusia (QS. 2: 29).

Bila orang Islam belum mampu merovolusi diri, maka ke-“islam”-annya masih bermasalah (QS. 49: 14), karena belum terpatri nilai-nilai kebebasan di dalam dirinya. Keislamannya belum mampu membebaskan dirinya dari berbagai macam belenggu duniawi, budaya, adat istiadat dan kepercayaan yang berbau syirik, baik yang politeistik dan paganistik.

Islam itu sendiri adalah “pembebasan” dari yang lama ke yang baru. Yang lama adalah kejahiliyahan, pengetahuan yang tidak didasarkan kepada Tuhan Yang Esa. Ia adalah kegelapan, karena tidak ada kepastian kebenaran yang dijadikan ukuran. Yang baru adalah yang ilmiah, pengetahuan yang didasarkan kepada monoteistik, Tuhan Yang Maha Esa. Ia mencerahkan, karena adanya kepastian ukuran kebenaran berdasarkan pengetahuan Ilahi, wahyu dari Allah. Ia berasal dari Yang Esa, dan kembali kepada Yang Esa. Semua berasal dan kepunyaan Allah, dan semuanya akan kembali kepada Allah.

Islam adalah pembebasan, karena dalam Islam, ada proses pembebasan manusia dari penghambaan (QS. 3: 79), ketergantungan (QS. 112: 2) kepada sesama manusia dan makhluk ciptaan Allah yang lain. Dan hanya menghamba dan menggantungkan diri kepada Allah (‘abdullah) (QS. 3: 64; 6: 162). Adanya sikap “pasrah” hanya kepada Allah dan menolak untuk “tunduk” kepada selain Allah, membuat manusia bebas, tidak terkekang, merdeka. Kebebasan dan kemerdekaan itu diperoleh, karena manusia tidak punya rasa takut, khawatir, dan gelisah di dalam jiwanya (QS. 2: 112; 10: 62).

Dalam sejarah Islam awal, ada orang yang menyembunyikan keislaman mereka di tengah masyarakat yang kufur kepada Allah. Ada yang terang-terangan mendakwahkan Islam, di tengah masyarakat yang memerangi Allah dan Rasul-Nya; dan ada yang berani mengajak kaumnya utuk memeluk Islam dan seluruhnya masuk Islam.

Abu Bakar, mengajak keluarga dan kerabatnya. Ada yang mengajak seluruh kaumnya masuk Islam seperti Abu Dzar al-Ghiffari. Umar berani terang-terangan dan menentang pembesar Quraisy, termasuk Abu Jahal, bahkan melukainya. Ada yang menyembunyikan keislamannya seperti Abbas ibn Abdul Muthallib. Perbedaan sikap tersebut, disebabkan kuat dan lemahnya iman yang ada di dalam diri para Sahabat Nabi.

Di kalangan penguasa pun ada berbagai sikap dalam menanggapi ajakan Nabi untuk masuk Islam. Ada yang menerima Islam seperti Raja Najasi, Ethiopia. Ada Kasiar Heraklius, mula-mula tertarik, karena rakyatnya menolak, urung masuk Islam. Ada Guberbur Mekaukis dari Mesir, tidak menentang Islam, namun tidak juga mau masuk Islam, malah mengajak bersahabat dengan Nabi. Sebagai tanda persahabatan, dibawakan upeti dan budak perempuan yang diserahkan kepada Nabi. Ada Qisra Persia, menentang ajakan Nabi dan menyobek-nyobek surat ajakan Nabi untuk memeluk Islam.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA