Darurat, Social Change dan Orang Besar (Bagian Pertama)

9.6.2. Darurat - Bukhori
Kebolehan seseorang memakan sesuatu yang semula haram, adalah karena kondisi yang memaksa. Manakala keadaannya sudah normal, maka hukum kembali menurut hukum normal, hukum asalnya.

Muqaddimah

Yang terkurung masa lalu, tidak akan pernah merdeka. Kehidupannya selalu terpenjara. Terkungkung dalam ruang yang sama, walau dalam waktu yang berbeda. Meski roda kehidupan selalu bergerak, namun tetap stagnan dalam spasial yang sama. Tentu memuakkan dan menyesakkan, karena setiap detik, jam, hari, bulan, tahun, dan waktu yang tak terhingga hidup dalam rutinitas kehidupan yang sama, membosankan, dan memuakkan.

Hanya orang besar yang mampu keluar dari penjara kehidupan. Dia tidak pernah larut dalam arus kehidupan yang membelenggu. Kehidupan adalah bagian dari gerak sejarahnya yang diciptakan untuk “history”-nya, bukan sekedar “story”.

Orang besar selalu bergerak menciptakan sejarahnya. Dia mencipta, bukan larut dalam gelombang sejarah yang lain. Dia hidup abadi, walau sudah berkalang tanah. Namanya selalu hidup, walau ajal sudah menjemputnya. Ukiran sejarah yang tertulis dalam prasasti sejarah, tak lekang oleh panas dan lapuk karena hujan. Warisan abadi itu bernama ilmu pengetahuan.

Sementara yang lain, hanya pelengkap sejarah. Ia hidup tetapi habis itu mati. Hidupnya hanya sementara (dania: dunya: dekat) saat singgah saja, habis itu terkuber bersama kematiannya.

Darurat

Ada pertanyaan “fiktif” nan menggelitik, karena menggunakan “sentimen” Agama untuk melegalilasi kekalahan atas tindakan ketakbenaran dan turunannya, yang dilakukan karena keterdesakan (حاجية), keterpaksaan (ضرورية), atau ancaman yang mematikan (هلكية), padahal pelanggaran kebenaran.

Pertanyaannya sebagai berikut: “Ada seorang muallaf, baru tiga bulan masuk Islam, namun hidup di lingkungan non muslim, sedang kampung muslim jauh dari tempat dia tinggal. Sementara, kebiasaan masyarakat kampungnya: mengkonsumsi daging babi. Karena sudah menjadi muslim, maka haram hukumnya memakan daging babi. Namun, karena hidup di lingkungannya yang lama, dia belum bisa melepaskan kebiasaan makan daging babi, walaupun dia tahu babi itu haram menurut Islam. Sekarang dia belum bisa keluar dari kampungnya. Sedang dia belum siap pindah ke tempat baru?”

Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya berikan tamsil yang mirip dengan peristiwa di atas, namun beda peristiwa, intinya sama, meski dengan frasa berbeda.

Pada zaman Nabi saw., ada pemuda yang memiliki kebiasaan buruk, namun minta dispensasi untuk terus melakukan keburukan tersebut walau sudah menjadi seorang muslim. Kebiasaan buruk tersebut adalah melakukan zina. Dia minta izin untuk dapat berzina dengan wanita mana pun, karena berat untuk meninggalkan perbuatan buruk tersebut, namun Nabi tidak mengizinkannya, dengan memberikan “pencerahan” dengan “tamsil” jika perbuatan tersebut menimpa keluarganya sendiri, ibu, adik, dan atau keluarga lainnya. Dengan logika “muqabalah” (مقابلة), “dikembalikan” kepada dirinya sendiri, muncul kesadaran, bahwa perbuatannya salah. Dalam Hadits diceritakan sebagai berikut:

إِنَّ فَتًى شَابًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي بِالزِّنَا فَأَقْبَلَ الْقَوْمُ عَلَيْهِ فَزَجَرُوهُ قَالُوا مَهْ مَهْ فَقَالَ ادْنُهْ فَدَنَا مِنْهُ قَرِيبًا قَالَ فَجَلَسَ قَالَ أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ قَالَ لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ قَالَ وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأُمَّهَاتِهِمْ قَالَ أَفَتُحِبُّهُ لِابْنَتِكَ قَالَ لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ قَالَ وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِبَنَاتِهِمْ قَالَ أَفَتُحِبُّهُ لِأُخْتِكَ قَالَ لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ قَالَ وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأَخَوَاتِهِمْ قَالَ أَفَتُحِبُّهُ لِعَمَّتِكَ قَالَ لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ قَالَ وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِعَمَّاتِهِمْ قَالَ أَفَتُحِبُّهُ لِخَالَتِكَ قَالَ لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ قَالَ وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِخَالَاتِهِمْ قَالَ فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ وَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ فَلَمْ يَكُنْ بَعْدُ ذَلِكَ الْفَتَى يَلْتَفِتُ إِلَى شَيْءٍ

Dari Abu Umamah: Sesungguhnya seorang pemuda mendatangi Nabi Saw lalu berkata, “Wahai Rasulullah! Izinkan aku berzina?” Orang-orang mendatanginya lalu memarahinya, mereka berkata, “Diam kamu!” Rasulullah Saw berkata “Mendekatlah!” lalu dia mendekat, duduk [di dekat Rasulullah]. Lalu Rasulullah Saw bertanya, “Apakah kamu suka, jika orang lain menzinai ibu kamu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, demi Allah wahai Utusan Allah, semoga Allah menjadikanku sebagai penebusnya.” Nabi saw bersabda; “Orang lain juga tidak suka, jika ada orang yang menzinai ibu-ibu mereka.” Rasulullah Saw bersabda; “Apa kau suka jika orang lain menzinai putrimu? “Tidak, demi Allah wahai Utusan Allah, semoga Allah menjadikanku sebagai penebusnya.” Nabi saw bersabda; “Orang-orang juga tidak suka, jika ada orang lain menzinai puteri mereka.”. Nabi saw bersabda, “Orang-orang juga tidak menyukai orang menzinai putri-putri mereka.” … Kemudian Rasulullah Saw meletakkan tangan beliau pada pemuda itu dan berdoa, اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ [Ya Allah! Ampunilah dosanya, bersihkan hatinya, jagalah kemaluannya] Setelah itu pemuda tersebut tidak pernah melirik apa pun yang berbau zina. [HR. Ahmad, No. 21185].

Ada dua pendekatan yang dilakukan Nabi kepada orang yang belum “memahami” adab, hukum, dan nilai kemanusiaan Islam: 1). Disentuh nilai kemanusiaannya; 2). Disentuh rasionalitasnya.

Hukum tidak sekedar hukum. Hukum tumbuh, berkembang, dan hidup atas etika masyarakat untuk membangun keadaban, bukan membangun kebiadaban. Hukum hanya untuk mencari korban dan meng-“hukum” yang lain karena berbeda. Hukum dibangun untuk keluhuran dan harkat kemanusiaan. Hukum yang tercerabut dari nilai, etika, dan moral, agama, akan mengalami degradasi ke titik nadir terendah. Ia akan menjadi budak nafsu, kekuasaan, kesenangan, ekonomi dan penindas.

Nabi mengajarkan bahwa hukum harus menyentuh sisi terdalam diri manusia. Kasus perzinahan adalah kasus kemanusiaan. Ia berkelindan dengan person sebagai individu dan masyarakat. Nabi megingatkan nilai kemanusiaan tersebut dengan mengatakan, “Andai itu terjadi pada Ibu, anak, bibi, ponakan, dan turunannya? Di mana posisi mereka sebagai turunan darah dagingnya sendiri. Apakah merima perlakuan biadab tersebut?” Sang pemuda tersentuh, dia menjawab, “Tidak”.

Mengapa tidak? Karena “aib”, “malu”, “direndahkan”, dikomersilkan”, “dihinakan”, mengena pada orang yang memiliki hubungan darah dan kekerabatan dengan dirinya sendiri. Jika sesama kerabat tidak mau “disentuh”, maka kata Nabi, “Yang lain”-pun juga memiliki perasaan yang sama, nilai yang sama, derajat yang sama, akibat yang sama.

Jika keburukan menimpa dirinya tidak mau diterima, maka yang lain pun tidak mau menerima perlakuan buruk yang sama. Maka, nilai kemanusiaan itu universal, berlaku untuk semua, tidak ada perbedaan antara satu individu dengan individu lainnya, tidak ada perbedaan antara kelompok, suku, bangsa, dan negara mana pun, dalam hal-hal yang sama.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Close