Darurat

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kedaruratan bukan keadaan yang datang dengan mengetuk pintu rumah dan minta ijin untuk bisa masuk. Kedaruratan datang begitu saja, harus diterima dengan segala konsekuensi.

Kamus menyebutkan bahwa darurat adalah kata dengan arti keadaan sukar (sulit) yang tidak tersangka-sangka (dalam bahaya, kelaparan, dan sebagainya) yang memerlukan penanggulangan segera; keadaan terpaksa; keadaan sementara.

Ada beberapa hal pokok dalam pengertian tersebut: Pertama, keadaan sulit (dalam pengertian yang luas, bahaya, kelaparan, wabah, dan lain sebagainya). Yakni keadaan yang berada di luar keadaan normal, suatu keadaan yang membuat tatanan tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya, sehingga timbul masalah-masalah yang tidak dapat diatasi dengan kerangka normal. Di jalan, dalam beberapa kejadian, terdapat contoh bagaimana aturan normal lalu lintas, dapat diabaikan manakala ada kendaraan darurat dengan sirene lewat. Kepada yang darurat jalan terbuka, yang dilarang diijinkan untuk dilanggar.

Kedua, tidak disangka-sangka. Yang darurat tentu bukan hasil perencanaan. Apalagi perencanaan yang didukung oleh segala sesuatu yang diperlukan agar rencana tersebut dapat dijalankan dengan baik, sesuai dengan maksudnya. Darurat adalah kejadian. Maksudnya, darurat dapat dikatakan sebagai peristiwa yang hanya sekali dan tidak berulang. Oleh sebab itulah sifatnya mendadak, tidak disangka, namun harus diterima, karena demikian itulah adanya. Dalam kedaruratan, tentu terdapat banyak keadaan ikutan, ada yang benar-benar menjadi korban, namun ada pula yang tidak seburuk itu nasibnya. Namun ragam keadaan tersebut tidak mengubah kenyataan bahwa yang darurat merupakan peristiwa tidak disangka-sangka. Dan karena itu, sangat wajar jika terdapat ketidaksiapan atau sejenisnya.

Ketiga, sementara. Yang darurat bukan hal yang permanen. Barangkali inilah kabar baiknya. Artinya, kedaruratan merupakan keadaan yang akan segera berlalu. Namun berapa lama persisnya? Tentu hal ini akan sangat bergantung pada upaya penanggulangannya.

Keempat, terpaksa dan harus segera ditanggulangi. Jika boleh memilih atau jika ada pilihan, tentu bukan keadaan darurat yang diambil. Tidak mungkin ada pikiran sehat yang menginginkan kedaruratan. Dan memang soalnya bukan itu. Kedaruratan bukan keadaan yang datang dengan mengetuk pintu rumah dan minta ijin untuk bisa masuk. Kedaruratan datang begitu saja, harus diterima dengan segala konsekuensi. Oleh sebab itu, cara penanggulangannya merupakan hal pokok yang harus jadi pemikiran bersama.

Penanggulangan merupakan tindakan pilihan. Namun, waktu tidak banyak. Berlama-lama mengambil tindakan penanggulangan merupakan kemewahan atau hal yang sangat langka. Akan tetapi ketentuan kesegeraan bukan pembenar untuk tindakan yang tidak didasarkan pada pertimbangan yang masak.

Adalah keharusan membuat langkah penanggulangan yang didasarkan pada pertimbangan komprehensif. Mengapa? Karena penanggulangan kedaruratan harus membawa penyelesaian yang menyelamatkan manusia, bukan tindakan yang justru menyumbang masalah baru, atau malah menjadikan masalah bertambah-tambah kompleksitasnya.

Apa itu pertimbangan yang baik? Yaitu pertimbangan yang dihasilkan oleh pikiran jernih, pikiran luas, bukan pikiran biner, dan hanya punya satu tujuan atau tidak ada tujuan lain kecuali segera mengakhiri kedaruratan, sedemikian sehingga berbuah keselamatan untuk semua. Segala benih pikiran atau tujuan yang menyimpang dari tujuan mulia tersebut harus disingkirkan, dibuang jauh-jauh, dan ditutup semua celah yang memungkinkannya menyelinap.

Setelah kesulitan akan datang kemudahan, yakinlah.

(t.red)

Redaksi arbaswedan.id

Redaksi arbaswedan.id

Terbaru

Ikuti