24.9 C
Yogyakarta
21 September 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Dellirium Vs Covid-19

Oleh: Dr. Muhammad Zuhaery, MA

Akhir tahun 2019 dunia dikejutkan dengan fenomena kemunculan virus yang cukup ganas yang menyerang sistem pernapasan.  Virus tersebut dapat menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan, pneumonia akut, sampai kematian. Belakangan virus tersebut diidentifikasi sebagai Covid-19 (severe acute respiratory syndrome coronavirus 2/SARS-CoV-2). Covid-19 merupakan virus jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini bisa menyerang siapa saja, baik bayi, anak-anak, orang dewasa, para lansia, ibu hamil, maupun ibu menyusui. Menurut Bisman Batubara, kemunculan Covid-19 disebabkan oleh ruang hidup atau habitatnya terdesak dan karena itu manusia menjadi sasaran berikutnya untuk dijadikan inang. Patogen (bakteri, virus, atau mikroorganisme lain penyebab penyakit) yang tadinya berada dalam habitatnya di hutan, kini bergerak meninggalkan hutan karena hutannya sudah semakin habis. Patogen-patogen itu mencari inang-inang yang baru, salah satunya dengan menyasar manusia (Bangkitmedia.com).

Jumlah kasus perhari di seluruh dunia telah mencapai 79.100 kasus positif. Amerika Serikat menempati posisi teratas jumlah kasus dengan jumlah pasien positif sebanyak 244.230 orang, Spanyol dengan jumlah total pasien positif 117.710 orang, Italia dengan jumlah pasien positif sebanyak 115.242 orang, Jerman dengan jumlah pasien positif sebanyak 85.063 orang, dan Cina dengan jumlah kasus sebanyak 81.620 orang (CNNIndonesia.com).

Dr. Muhammad Zuhaery, MA saat membacakan do’a dalam Seminar Strategi Memperkuat Perangai Indonesia, di Universitas PGRI Yogyakarta, 10 Agustus 2019

Sedangkan di Indonesia jumlah pasien positif sebanyak 1.790 orang dengan jumlah kasus tiap hari tidak kurang dari 50 kasus. Dalam kasus Indonesia, jumlah yang meninggal lebih besar daripada yang sembuh yakni sebanyak 170 orang. Tingkat kematian akibat covid-19 di Indonesia cukup tinggi yakni 9,4 persen. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai Negara dengan tingkat kematian nomor dua dunia setelah Italia dengan prosentasi kematian sebesar 12 persen. Menurut Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban, Sp.PD, jika angka persentase kematian di Indonesia belum mendekati kebenaran karena temuan kasus yang masih terbilang sedikit.

Dalam menyikapi Covid-19, pemerintah Indonesia pada awalnya tekesan menyepelekan. Hal tersebut, terlihat dari komentar kontroversial sejumlah menteri dengan nada kelakar yang menampik bahwa ini sudah menyebar di Indonesia. Bahkan, pada saat yang bersamaan pemerintah pusat tengah menggodok rencana pemberian diskon insentif sebesar 30% untuk wisatawan domestik maupun mancanegara untuk menggenjot sektor pariwisata ketika sejumlah negara tengah diterjang virus Corona. Kondisi tersebut memperlihatkan kegagapan (dellirium dalam istilah psychology)  pemerintah  dalam menangani virus yang berasal dari Cina tersebut.

Pandemi Covid-19 yang menimpa telah menyebar ke hampir seluruh Negara dunia ini bukan kali pertama dalam sejarah. Dalam sejarahnya, dunia telah dilanda pandemi seperti dengan jumlah korban hingga jutaan manusia. Selain korban jiwa, juga berdampak pada kegiatan ekonomi, perdagangan, investasi dan pariwisata. Hal yang dirasakan langsung oleh Indonesia akibat corona adalah menurutnnya permintaan bahan mentah dari China seperti batu bara dan kelapa sawit; dari sector pajak, penerimaan pajak sektor perdagangan juga mengalami penurunan padahal perdagangan memiliki kontribusi kedua terbesar terhadap penerimaan pajak; dari segi investasi, investor banyak yang menunda investasi karena ketidakjelasan supply chain atau akibat asumsi pasarnya berubah.

Akibatnya, terjadi perlambatan ekonomi bagi Indonesia, aktifitas ekonomi masyarakat terhenti dan masyarakat menjadi tidak memiliki penghasilan. Hal tersebut rentan menjadi pemicu frustasi dan atau putus asa. Oleh karena itu, bagi manusia beragama khususnya umat Islam, dalam menghadapi virus corona tidak dapat dilepaskan cobaan dari Allah. Setiap datangnya cobaan yang datang dari Allah akan ada kebahagiaan setelahnya, sebagaimana dalam firman Allah Qs. Al-Baqarah, 2 berikut ini: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”(al-Baqaarah, ayat. 155). Kemudian dalam Qs. al-Mulk, ayat. 2, Allah berfirman: Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”,

Musibah dan ujian tersebut untuk menguji kadar kesabaran manusia sebagai wujud keimanan kepada Allah. Dalam tafsir Jalalain disebutkan bahwa ujian kesabaran terkadang sangat berat, akan tetapi manusia perlu mengingat bahwa setelah adanya ujian akan ada kebahagiaan. Manusia akan diuji oleh rasa ketakutan, kelaparan, paceklik, yang disebabkan datangnya malapetaka, serta ancaman terhadap jiwa oleh karena suatu penyakit. Ujian tersebut dimaksudkan untuk menguji kesabaran seseorang terhadap ketentuan Allah (Bahrun Abu Bakar, 1990).

Sementara itu, Quraish Shihab (2001) dalam Tafsir Misbah mengungkapkan bahwa bagi orang beriman, sabar merupakan perisai dan senjata dalam menghadapi beban dan tantangan hidup. Manusia Itulah ujian yang akan kalian hadapi berupa perasaan takut pada musuh, kelaparan, kekurangan bekal, harta, jiwa dan buah-buahan. Tidak ada yang melindungi kalian dari ujian-ujian berat itu selain jiwa kesabaran. Maka sampaikanlah, wahai Nabi, berita sukacita yang menggembirakan kepada meraka yang bersabar dengan hati dan ucapanmu.

Bagi penguasa, kesabaran dalam menghadapi ujian ditunjukkan dengan kesungguhan menjalankan tanggungjawab dan wewenangnya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang terdampak. Sedangkan bagi masyarakat, kesabaran dalam menghadapi covid-19 ditunjukkan dengan kepatuhan terhadap ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah, serta berserah diri dan pasra terhadap ketentuan Allah.

Bagi penguasa, kesabaran dalam menghadapi ujian ditunjukkan dengan kesungguhan menjalankan tanggungjawab dan wewenangnya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang terdampak.

Dampak pandemi Covid-19 yang telah menimpa sebagian besar masyarakat dunia pada umumnya dan Indonesia khususnya. Dalam menghadapi fenomena tersebut, para pemimpin terlihat gagap untuk bertindak. Selain kegagapan yang ditunjukkan oleh para pemimpin, masyarakat juga terlihat gagap dalam menghadapi fenomena tersebut. Perilaku gagap yang dirasakan oleh masyarakat sebagai dampak dari pembatasan pada sebagian besar aktifitas baik aktifitas ekonomi, social, agama dan lain sebagainya. Pembatasan tersebut menyebabkan krisis nyata yang dihadapi oleh masyarakat.

Dalam menghadapi pandemi ini sikap yang harus dilakukan tidak lain adalah sabar, ikhtiar dan tawakal. Sabar yang revolusioner untuk selalu menerima kenyataan dengan kewaspadaan,  ikhtiar dengan melakukan antisipasi dengan selalu hidup bersih dengan mencuci tangan sampai mengisolalsi diri dan tawakkal meningkatkan kepasrahan pada Tuhan Allah SWT pencipta alam semesta.

Wallahu ‘alamu bishawwaab

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA