Demokrasi Paska Wabah

web 2
Warga sebenarnya tengah diperlihatkan bagaimana sesungguhnya kinerja demokrasi. Wabah seperti hentakan yang membuka selimut yang memperlihatkan keseluruhan wajah demokrasi.

Dimana demokrasi ketika wabah datang mengepung hidup warga? Pertanyaan ini tiba-tiba saja menyembul di tengah kesulitan hidup warga makin bertambah, dan kepastian tentang akhir wabah masih belum tampak nyata. Kesulitan hidup warga sendiri tentu tidak bisa diperiksa dari tayangan televisi, berita media dan lain-lain.

Mengapa? Karena semua itu hanyalah potongan gambar, yang punya potensi menjauh dari kenyataan yang sebenar-benarnya. Kesulitan hidup warga, hanya dapat ditemukan sebagai keadaan yang demikian itu adanya dalam hidup sehari-hari.

Kesulitan hidup warga, hanya dapat ditemukan sebagai keadaan yang demikian itu adanya dalam hidup sehari-hari.

Mereka yang bekerja harian, yang artinya mendapatkan penghasilan harian, tentu merupakan pihak yang nyata terdampak dari adanya wabah. Masalah datang bukan langsung dari wabah, tetapi dari keadaan yang harus dihadirkan agar wabah berhenti penyebarannya. Ekonomi informal yang mengandalkan keramaian tentu segera ambruk, manakala sepi yang mengisi wajah kota.

Ada bantuan yang hendak diberikan. Namun cara kerja normal masih dominan, sehingga masalah-masalah di masa normal, jika tampil ke depan, seperti kegiatan mencocokkan data antar departemen, antar kantor dan seterusnya. Setelah kegiatan cocok-mencocokan, dilanjutkan dengan ritual saling menyalahkan dan ujungnya adalah cerita tentang bantuan yang disunat, bantuan salah sasaran, atau bantuan yang bergambar, seperti kala kampanye, dan sejenisnya.

Bagaimana dengan mereka yang benar-benar butuh bantuan dan segera? Kenyataan tersebut sungguh sulit diperoleh gambar nyatanya. Namun tidak diragukan lagi, bahwa keadaan bertambah sulit, karena ruang berusaha tertutup oleh keadaan yang tidak memungkinkan. Ada gerakan warga yang membanggakan, namun hal tersebut, belum sepenuhnya menjawab. Bahkan mungkin tidak menyentuh inti sari pokok persoalan.

Mengapa masalah warga yang sangat mendasar tersebut tidak menjadi agenda utama bagi demokrasi? Warga tidak melihat tangan demokrasi bekerja sigap memastikan wabah cepat berlalu, karena itulah kunci untuk memulihkan keadaan. Warga tidak melihat demokrasi mampu menjadi kekuatan yang mendisiplinkan warga, sedemikian sehingga upaya memutus mata rantai penyebaran wabah berjalan efektif. Warga juga tidak melihat suara demokrasi secara lantang mengawal penyaluran bantuan, sehingga tepat, cukup dan cepat.

Warga tidak melihat demokrasi mampu menjadi kekuatan yang mendisiplinkan warga.

Para tenaga medis juga tidak melihat demokrasi bekerja secara cepat, untuk ikut memastikan layanan kesehatan dapat bekerja optimal dan bersifat aman bagi mereka. Sebaliknya para tenaga medis seperti menyelenggarakan perjuangan tersendiri, agar dapat bekerja penuh demi kemanusiaan dan dapat bekerja secara aman dan selamat. Mungkin terakhir kali mereka menyaksikan bayangan demokrasi ketika kotak TPS masuk rumah sakit, untuk mengambil suara. Setelah seperti hilang tidak berbekas.

Sementara itu, para pekerja formal juga tidak melihat hadirnya demokrasi, manakala nasib kerja berada diujung tanduk, atau bahkan ada yang telah mengalami PHK massal. Bukan hanya tidak tampak batang hidungnya dalam menyelamatkan kerja, tetapi juga memikirkan bagaimana nasib paska PHK. Mereka adalah warga, yang harus memikirkan nasib sendiri, seakan-akan tidak pernah ada demokrasi.

Pernah terlontar pertanyaan: apakah demokrasi dapat menyelesaikan masalah wabah (lihat link 31/3), tetapi pertanyaan tersebut belum juga beroleh jawaban yang semestinya. Kita pertanyaan muncul lebih kongkrit: dimana dia selama ini? Apakah tengah bersembunyi, sambil bersiap, menunggu waktu yang tepat? Rasanya aneh jika demikian itu. Mengapa? Karena hidup warga telah makin terpuruk.

Apakah warga tidak membutuhkan demokrasi. Tentu yang dibutuhkan bukan konsepsi demokrasi, tetapi praktek kongkrit yang membawa keselamatan, kesejahteraan dan kecerdasan umum. Malah pertanyaan tersebut tidak tepat untuk diajukan, karena demokrasi merupakan tata yang diharuskan konsitusi. Jika keselamatan warga terancam oleh wabah dan akibat yang ditimbulkannya, demokrasi seharusnya tampil ke depan, memastikan perintah konstitusi berwujud nyata.

Jika semua itu tidak berlangsung, lantas apa artinya bicara demokrasi paska wabah? Apakah semua kejadian ini akan menjadi saksi bagi demokrasi yang dapat bekerja seperti kehendak konstitusi, atau sebaliknya? Yakni warga sebenarnya tengah diperlihatkan bagaimana sesungguhnya kinerja demokrasi. Wabah seperti hentakan yang membuka selimut yang memperlihatkan keseluruhan wajah demokrasi. Jadi, bagaimana demokrasi paska wabah?


Jika keselamatan warga terancam oleh wabah dan akibat yang ditimbulkannya, demokrasi seharusnya tampil ke depan, memastikan perintah konstitusi berwujud nyata.


(Visited 106 times, 1 visits today)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Official Website YAYASAN ABDURRAHMAN BASWEDAN Dikelola oleh Sekretariat ©2020