23.8 C
Yogyakarta
11 September 2021
BENTARA HIKMAH
KALAM

Demokrasi

Tiba-tiba saja ada yang bertanya: apakah demokrasi dapat menyelesaikan masalah wabah. Mengapa pertanyaan tersebut diajukan, pada saat seluruh warga dalam rasa cemas dan tidak pasti apa yang akan terjadi di depan. Mengapa pertanyaan itu diajukan, pada saat warga sibuk memikirkan masalah APD, alat pelindung diri, masker dan lain-lain. Dimana-mana terbit rasa solidaritas, dengan cara menghimpun bantuan, baik untuk mendukung layanan kesehatan maupun untuk membantu yang tidak mampu.

Mengapa pertanyaan tersebut diajukan, di tengah angka korban wabah terus bertambah, tanpa ada kejelasan apa yang dapat dilakukan secara tepat untuk dapat menghentikan jumlah korban yang jatuh? Mengapa?

Rupanya pertanyaan terus mengalir deras, disertai wajah kota-kota, kampung-kampung dan desa, yang merunduk sepi, menanti namun entah apa yang dinanti. Namun pertanyaan tersebut: apakah demokrasi dapat menyelesaikan masalah wabah, tetap datang, seakan-akan hendak menandingi pertanyaan yang mempersoalkan mengapa dia tampil dalam suasana seperti ini. Satu pertanyaan berhadapan dengan banjir pertanyaan, yang intinya apakah relevan bicara demokrasi di tengah wabah? Seseorang berlagak filsuf menimpali: apakah demokrasi ada? Apa itu demokrasi, sehingga perlu dibahas dalam suasana duka bangsa? Sang pemilik pertanyaan rupanya terganggu pikirannya, dan mulai ragu dengan pertanyaan yang disorongnya.

Temannya mencolek, sembari menyajikan pertanyaan baru: lho, tadi apa yang kamu pikir, sehingga melontarkan pertanyaan tersebut? Apa yang terjadi di kepalamu, sehingga terlintas demokrasi? Apakah kamu penad memikirkan cara mengatasi wabah, oleh karena itu muncul demokrasi? Yang ditanyakan, malah tercenung? Diam. Mungkin sedang berpikir kembali, mengapa pertanyaan tersebut terperucut keluar begitu saja? Apakah tidak sengaja? Atau pertanda bahwa pikiran tidak bisa lagi mengontrol perkataan, sehingga kata keluar tanpa maksud dan tanpa makna. Apa yang sebenarnya terjadi?

Tanpa disadari pertanyaan tersebut telah berlari jauh, menyebar bagai wabah. Apakah demokrasi dapat mengatasi masalah wabah? Datang ke kota, tapi kota sepi, tidak ada otak yang dapat dihinggapi. Datang ke kampung-kampung, tapi gagal masuk, karena di gerbang telah ada peringatan dilarang masuk karena sedang lockdown. Datang ke desa, pun desa melarang yang dari luar untuk masuk, karena yang dari luar telah dianggap sebagai pembawa wabah. Hendak ke rumah sakit, pertanyaan menghentikan langkahnya, rasa sedih membatalkan. Pertanyaan menyebar, tapi tidak punya tempat untuk menclok. Kini justru pertanyaan itu sendiri yang terduduk merenung. Apakah dibenarkan dia datang mengisi pikiran warga?

Sementara itu, sang empu pertanyaan duduk dalam diam, di sudut ruang. Ada penyesalan mengapa pertanyaan itu lepas dari mulutnya, sementara dia tidak merasa berpikir. Lama terdiam. Jawaban tidak kunjung datang. Yang tiba malah sesuatu yang sama sekali tidak diduganya, yakni pertanyaan tersebut datang kepadanya, dan masuk begitu saja mengisi sel-sel otak. Dia seperti terkena setrum kejut. Seperti orang yang tersadarkan. Tetap dalam diam, tetapi kini pikirannya bekerja: apakah demokrasi dapat menyelesaikan masalah wabah?

Banjir pertanyaan yang semula menghadang, seakan terurai, dan pertanyaan tersebut kembali pada majikan masing-masing. Pertanyaan itu justru bertanya balik, mengapa mereka dikeluarkan untuk menghadapi pertanyaan tentang letak demokrasi dalam mengatasi wabah? Suasana segera berbalik? Pertanyaan tersebut justru bertanya, mengapa mereka harus dikeluarkan begitu saja? Para pemilik pertanyaan tertegun? Semua dia, terpaksa berpikir kembali, tadi apa sebab dengan segera melontarkan pertanyaan balik? Apa alasannya? Apakah pertanyaan tersebut datang dari pikiran yang mendalam? Atau juga sekedar spontanitas tanpa dasar dan tanpa maksud? Semua terdiam. Mungkin ada yang melanjutkan kerja pikiran, mungkin ada pula yang menghentikan. Apakah demokrasi dapat menyelesaikan masalah wabah?

Fajar pagi berkemas di ufuk timur. Ayam berkokok menyambutnya dengan penuh optimisme, lantang, tanpa pertanyaan apakah dia yang jadi lantaran sebab terbitnya fajar. Mentari hanya tersenyum, seperti biasanya.

(t.red)

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA