28.3 C
Yogyakarta
25 Juli 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Desa Menghadapi Wabah

Oleh: Syamsudin, S.Pd., MA

Desa tentu bukan wilayah yang bisa begitu saja bebas dari wabah. Benar bahwa wabah bukan datang dari desa. Di tingkat global masih ada debat, yang cenderung non akademik, tentang asal mula wabah. Hal yang jelas bahwa wabah datang dari luar. Itu sebab pada awal-awal, ada usulan untuk melakukan penutupan akses, yakni agar yang dari luar tidak masuk begitu saja. Harus ada pemeriksaan intensif, atau bahkan di karantina lebih dahulu. Namun kesempatan merupakan cerita lama. Kini yang ada adalah kenyataan bahwa wabah telah masuk dan masalah yang nyata di depan: bagaimana mengendalikan penyebaran wabah tersebut.

Debat publik tentang apakah sebaiknya mudik diperkenankan atau tidak, sebenarnya makin membenarkan bahwa wabah bukan dari daerah. Kepala daerah yang menjadi asal dan yang akan menjadi tujuan mudik, terus menghimbau agar yang mudik membatalkan niatnya. Yang mudik diminta untuk mempertimbangkan keselamatan keluarga di kampung atau desa. Hal itu tidak lain karena potensi penyebaran akan semakin besar. Belasan atau bahkan puluhan juta orang yang bergerak, tentu membawa potensi penyebaran wabah.

Beberapa desa sebenarnya telah mengalami masalah wabah. Terutama desa-desa yang baru saja kedatangan keluarga atau tamu dari Jakarta atau daerah yang dinyatakan sebagai zona merah. Ada kisah penuh duka, ketika desa harus menerima korban wabah (lihat link). Ada pula desa dengan inisiatif untuk ambil bagian dalam pengendalian penyebaran lewat program khusus, melalui pembentukan satuan kerja khusus (lihat link). Sosialisasi digencarkan dan bagi yang punya masalah terkait wabah diminta untuk melaporkan. Bukan hanya itu, santunan untuk yang terpaksa tidak bekerja karena harus bekerja dari rumah. Pendek kata, dengan segala kemampuan, desa membangun daya tanggap terhadap apa yang tengah di alami bangsa.

Apakah keadaan telah pada puncak? Jika mengacu pada penjelasan resmi yang mengatakan bahwa puncaknya pada bulan Juni atau Juli, maka tentu amat dibutuhkan kerja lebih ekstra. Apa yang kini telah dimulai di desa, hendaknya dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan, kuantitas maupun kualitasnya. Apa yang diharapkan dari desa adalah: Pertama, menjadi bagian dari pihak yang sedapat mungkin membendung arus mudik. Jika desa menghimbau agar sanak saudara yang ada di perantauan tidak mudik, maka besar kemungkinan himbauan tersebut akan dipatuhi. Kepatuhan sangat penting, karena hanya itulah cara terbaik untuk menekan angka penyebaran wabah.

Kedua, menjadi bagian dari pihak yang mensosialisasikan bahwa wabah merupakan masalah bangsa, yang membutuhkan kesadaran, kesabaran dan kebersamaan. Kesadaran bersama, sebagaimana yang telah disebutkan pada tulisan terdahulu (lihat Liputan6.com dan Jogja.Tribunnews.com), merupakan hal yang mutlak. Kesadaran bersama berarti setiap warga mengerti apa yang harus dilakukan, baik sebagai diri sendiri maupun sebagai warga (bagian dari komunitas). Desa punya banyak wahana untuk melakukan sosialisasi wabah. Apakah pemerintah desa dengan seluruh perangkatnya, organisasi seperti PKK, Karangtaruna, dan lain-lain.

Kabar tentang desa yang tanggap, desa yang bebas wabah dan desa yang merawat kebersamaan, sesuai dengan kearifan lokal yang dimiliki, tentu akan menjadi kabar baik yang meneduhkan dan sekaligus membawa optimisme, bahwa sebagai bangsa kita mampu mengatasi wabah dengan selamat. Kita tentu percaya bahwa desa akan punya rute yang bijak untuk menjadi bagian menghadapi wabah.

Penulis: Dosen Administrasi Negara, Fisipol, UP45/Direktur Pelaksana Yayasan Abdurrahman Baswedan

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA