Ditulis oleh 8:21 am KALAM

Didikte Makhluq?

Orang model Rubi’ bin Amir dan Khalid bin Walid adalah orang independen. Orang yang berfikir merdeka, tidak mau didekte oleh makhluq, dan hanya kepada Allah saja mereka tunduk dan bergantung.

Umar bin Khatab RA. ketika hendak membebaskan Persia, pasukan yang dikirimnya telah beberapa kali terlibat peperangan, diantaranya adalah perang Qadisiyyah.

Perang Qadisiyyah dianggap sebagai perang penentu bagi umat Islam terhadap Persia, yang saat itu merupakan salah satu imperium, super power dunia, disamping Byzantium.

Setelah mendapat masukan dari sejumlah sahabat, Khalifah Umar menunjuk Sa’ad bin Abi Waqqash sebagai panglima perang. Sa’ad dijuluki “Singa” karena berwatak keras dan gigih. Nabi pernah berdo’a untuknya, “Ya Allah, tepatkanlah bidikan anak panahnya dan kabulkanlah do’a-do’anya”.

Satu bulan pertama ketika bermarkas di Qadisiyyah, Sa’ad tidak sekalipun mendapatkan serangan dari Persia, bahkan hingga satu tahun. Selama itu pula hanya disibukkan dengan berbagai macam negosiasi dan insiden insiden kecil saja.

Sementara, Persia waktu itu dipimpin oleh seorang raja yang masih ingusan, Yazdagird, berusia kurang dari 20 tahun. Dia memerintahkan Rustum untuk menyerang pasukan muslim. Rustum adalah panglima perang tertinggi, kaya dengan pengalaman militer, tapi sudah gaek.

Rustum sadar, untuk mengalahkan pasukan Islam tidaklah mudah, bahkan sebagai misi yang mustahil. Ia mencoba mengulur ulur waktu. Tapi karena pasukan muslim terus menggempur perbatasan Irak, di daerah daerah subur, sebagai sarana menghimpun logistik, sekaligus memprovokasi Persia, akhirnya Rustum didesak Yasdagird untuk menuju medan perang.

Rustum dengan berat hati akhirnya berangkat, mengerahkan 120 ribu pasukan, setengahnya adalah pasukan berkuda. Dan diantaranya membawa beberapa ekor gajah. Rustum berangkat dari kota Mada’in menuju Qadisiyyah.

Tapi Rustum masih ingin bernegosiasi, dan Sa’ad bin Abi Waqqash menerimanya. Dia mengutus Rubi’ bin Amir sendirian.

Rustum ingin semuanya dipersiapkan, sebelum utusan muslim datang. Ia ingin disediakan ruang khusus penyambutan. Berbagai perhiasan digantung dan ditampilkan. Karpet, bantal, permadani terbaik dan termahal dihamparkan.

Rustum juga berdandan sedemikian rupa. Ia memakai pakaian kebesaran lengkap dengan pangkat dan perhiasannya. Ia berharap, kemegahan dan kemewahannya akan mempengaruhi utusan muslim yang datang.

Rubi’ bin Amir datang sambil membawa tombak, yang disandangnya saat berjalan. Akibatnya, ujung tombak melukai permadani, dan membuatnya sobek.

Ketika sudah dekat dengan singgasana Rustum, Rubi’ malah duduk di atas pasir sambil meletakkan tombaknya. “Apa yang engkau lakukan?” Tanya pengawal Rustum. Rubi’ menjawab, “Kami tidak suka duduk diatas kemewahan kalian!”

Semula Rustum mengira, utusan itu setidaknya akan minder atau jatuh mental. Menjadi tidak stabil ketika menghadapi kemegahan dan kemewahan yang dipamerkannya, sehingga nanti akan melunak saat bernegosiasi. Kali ini Rustum meleset.

Ia tidak bisa didikte oleh makhluq.

Rubi’ bin Amir tidak terpengaruh dengan penampilan kemegahan, tidak silau dengan kemewahan. Ia tidak bisa didikte oleh makhluq. Ia tetap kokoh, tetap stabil dan tidak limbung. Rustum salah alamat.

Biasanya, orang berperilaku dengan jalan fikiran atau pengalamannya. Orang biasa mengukur orang lain dengan sudut pandangnya, dengan ukuran kebiasaan menurut dia.

Bagi para pemuja dunia, yang berbangga bangga dengan pangkat, gelar, atau hartanya, akan menilai orang lain dengan perpektif semacam itu. Sebab itulah ukuran dunianya.

Kita kembali kepada kisah Rubi’ yang masyhur itu. Selanjutnya Rustum bertanya kepada Rubi’, “Untuk apa sebenarnya kalian di sini?”

Rubi’ menjawab, “Kami diutus Allah untuk mengeluarkan siapa saja yang mau, dari menyembah sesama menuju menyembah kepada Allah, dari kesempitan dunia dunia menuju kelapangan dunia dan akhirat. Dan dari tirani agama-agama menuju keadilan Islam. Kami diutus Allah untuk mengajak kalian agar menyembah-Nya. Siapa saja yang menerima, maka kami takkan mengganggu dirinya dan negerinya. Tapi, siapa saja yang mengabaikan dan menolak, maka kami akan terus memeranginya sampai kami memperoleh apa yang dijanjikan Allah”

“Apa yang dijanjikan Allah?” Sela Rustum. Rubi’ menjawab, “Surga bagi siapa saja yang mati karena perangnya, atau kemenangan bagi yang bersabar dan tetap hidup”

Lihatlah, Rubi’ sudah menyampaikan misinya dengan tunai dan tuntas. Tunai karena disampaikan dengan bahasa apa adanya, tidak dengan bahasa yang bersayap, lunak, agar aman dan menyenangkan lawan bicara. Tuntas karena disampaikan dengan lugas dan jelas, tanpa rasa takut sedikitpun.

Kita tahu, bahwa begitu orang ditetapkan sebagai utusan atau negosiator dalam peperangan, maka resikonya bisa dicincang dan dibantai di tempat. Orang sekelas Rubi’ pasti tahu resiko itu, bahwa misinya adalah “menjemput ajal”.

Tapi itulah kualitas iman para sahabat, dikatakan, “Mereka mencintai mati sama halnya seperti mereka mencintai hidup”.

Rustum masih heran dengan tamu yang satu ini, perkataannya begitu dalam dan menghujam, dia bertanya lagi, “Apakah engkau pemimpin mereka?” Jawab Rubi’, “Bukan! Tapi orang muslim satu dengan muslim lainnya ibarat satu tubuh, yang saling menguatkan satu sama lainnya”.

Setelah itu Rustum menoleh ke para penasehatnya, “Bagaimana pendapat kalian? Pernahkah kalian mendengar perkataan yang lebih jelas dan lebih kuat selain dari orang ini?”

Tapi jawab mereka, “Apa? Apakah engkau lebih memihak keyakinan orang ini, dan meninggalkan agamamu demi anjing ini? Tidakkah engkau lihat pakaiannya?”. “Celakalah kalian!” sergah Rustum.

Demikianlah, satu babak kisah tentang ketangguhan jiwa Rubi’ bin Amir.

Mereka lebih menilai penampilan seseorang daripada isi pikirannya. Mungkin juga mereka tidak sanggup mencerna kualitas pemikiran, karena mereka sudah terbiasa berfikir pendek, dan pragmatis.

Para pemuja dunia, berfikirnya hanya seputar dunia dan asesorinya, sekitar harta, status sosial, atau tahta. Bagi para pengikut Nabi, yang diajarkan oleh beliau adalah cara berfikir Nubuwah. Cara berfikirnya menembus langit, tegak lurus berorientasi kepada akhirat. Dunia tidak dihargai sebegitu rupa, jangan sampai mengesampingkan kedudukan Allah Azza Wajalla.

Inilah yang juga dilakukan oleh Khalid bin Walid saat di medan pertempuran. Khalid memeluk Islam setelah perjanjian Hudaibiyah. Khalid dikenal sebagai “Panglima Perang Terbesar” yang pernah dimiliki Dunia Timur. Sejak zaman Nabi, yang dimulai pada perang Mu’tah, dan setelah Nabi wafat, pada zaman Khalifah Abu Bakar ash Shidiq dan Umar bin Khatab.

Sepanjang Kekhalifahan Abu Bakar, peperangan demi peperangan dimenangkan oleh Khalid. Ia adalah panglima perang yang memiliki strategi dan taktik brilian. Ada sekitar 100 kali pertempuran yang dimenangkannya.

Ditengah kemasyhuran dan keharuman namanya, begitu Khalifah Umar dilantik, setelah Abu Bakar wafat, kebijakan pertamanya justru memecat Khalid, yang digantikan oleh Abu ‘Ubaidah bin Jarah.

Ternyata, Umar ingin menjaga kehormatan sang panglima. Umar menulis sepucuk surat, yang menjelaskan kepada rakyat Mesir waktu itu, “Aku khawatir, jika mereka hanya akan percaya padanya dan berkorban hanya untuknya. Aku ingin memberi tahu mereka, Allah-lah yang memberi kemenangan, dan supaya mereka tidak menjadi sasaran fitnah”.

Ketika Khalid menanyakannya, Khalifah Umar menjawab, “Orang-orang sudah terfitnah olehmu, dan aku khawatir bila engkau juga terfitnah oleh mereka”.

Faktanya, pasukan Khalid tidak menolak. Khalid sendiri juga tidak berkeberatan atas pencopotannya. Justru, Khalid sendiri kaget, kenapa surat pencopotannya baru disampaikan setelah 20 hari. Hal ini disampaikan kepada komandan tempur baru penggantinya, Abu Ubaidah, “Mengapa engkau yang telah menerima surat pengangkatan dari Amirul Mukminin, tapi engkau tidak memberi tahuku, dan tetap shalat di belakangku, padahal kepemimpinan sudah ada di tanganmu?”

Ketaatan kepada Allah, Rasul dan pemimpin, diletakkan di atas logika.

Itulah kualitas para sahabat Nabi, baik Abu Ubaidah bin Jarah maupun Khalid bin Walid. Bagi Khalid pencopotannya tidak membuatnya limbung, protes, apalagi sampai melawan perintah Amirul Mukminin.

Ini semua karena cara berfikir Nubuwah yang pernah diajarkan RasuluLlah kepada para sahabatnya. Ketaatan kepada Allah, Rasul dan pemimpin, diletakkan di atas logika.

Orang dicopot dari puncak jabatan tanpa ia bersalah, bisa menjadi persoalan besar bagi umumnya orang. Jangankan dicopot, kalah dalam persaingan pemilihan sebagai ketua oraganisasi, bisa berbuntut panjang. Rivalitas bisa terjadi dengan menyempal, atau menggugat secara hukum, dengan mengumpulkan berbagai alasan.

Dan inilah yang menjadi fitnah bagi umat di kemudian hari. Betapa perpecahan mudah tersulut hanya karena perbedaan pendapat dalam masalah khilafiyah (fiqh), pilihan politik, atau beda organisasi.

Orang model Rubi’ bin Amir dan Khalid bin Walid adalah orang independen. Orang yang berfikir merdeka, tidak mau didekte oleh makhluq, dan hanya kepada Allah saja mereka tunduk dan bergantung.

Makhluq, baik yang berwujud uang, kekayaan, kekuasaan, opini, tekanan, penilaian atau pendapat, tidak bisa mendiktenya, sehingga sampai mengabaikan kebenaran Allah yang Maha Agung. Makhluq tidak bisa mendiktenya, sehingga mentalnya menjadi tidak stabil, galau, atau apalagi sampai tersungkur.

Ini semua karena berkat tarbiyah imaniyah, yang dilakukan pada masa generasi awal, yang dilakukan oleh Nabi. Iman itu ada didalam hati, diilmui, difahami dan diyakini, menghujam dalam dada.

Seperti yang disampaikan Nabi ketika mensifati Abu Bakar ash Shidiq dengan kalimat :

“Abu Bakar mengungguli kalian bukan karena banyaknya shalat dan banyaknya puasa, tapi karena sesuatu yang bersemayam di hatinya.” (HR at-Tirmidzi)

Wallahu ‘alam bishawab

(Visited 56 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 14 Agustus 2020
Close