Diksi Dalam Suasana Pandemi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Oleh: Supriyanto

Tulisan ini hanya merupakan sisi lain realita di lapangan dalam kondisi bersama melawan Covid-19. Asa dan rasa bercampur aduk menjadi satu.  Semua berharap wabah Covid-19 segera berakhir.  Semua juga merasakan dampak dari wabah Covid-19.

Saya pun sepakat. Di balik wabah Covid-19 dapat membuat masyarakat menjadi cerdas. Siapa pun kita seakan sudah familier dengan berbagai istilah baru. Pandemi, epidemi, virus,  lockdown, karantina, ODP, PDP, isolasi, social distancingphysical distancing, PSBB, WFH, PJJ, LH, gugus tugas, dan silakan Anda tambah lagi.

Saya yakin diam-diam banyak masyarakat bertanya kepada Mbah Google tentang berbagai istilah di atas. Demikian dengan Anda?

Saya juga merasakan bahwa wabah ini dapat mempererat tali silaturahmi. Banyak kerabat (saya) sudah lama tidak menyapa. Munculnya Covid-19 mereka seakan mengenaliku kembali. Dari Aceh sampai Papua banyak yang mencari tahu tentang kondisi Jakarta. Saya menyadari bahwa ini sebuah resiko sebagai warga yang menjadi episentrum Covid-19 di Indonesia.

Secara kebetulan wabah Covid-19 di Indonesia bersinggungan dengan Idul Fitri 1441H. Fenomena mudik adalah sebuah tradisi. Hanya saja, kali ini pemerintah membuat kebijakan larangan mudik bagi semua. Tidak terkecuali saya.  Penyanyi sekelas Didi Kempot pun “Ora Iso Mulih”

Lagi-lagi saya sepakat dengan kebijakan pemerintah tersebut.

Masih tentang mudik.  Ada yang  beda persepsi masyarakat tentang mudik dan pulang kampung. Untuk ini saya tidak ambil pusing. Apapun istilahnya pada dasarnya (kita)  tidak bisa pulang dari perantauan untuk berlebaran.

Pemerintah pusat membuat aturan larangan mudik untuk ditaati.  Banyak jalan dari dan menuju Jabodetabek dibatasi dan bahkan ada yang ditutup.

Realita di lapangan masih ada saja pelanggaran. Baik itu pelanggaran PSBB maupun pelanggaran terhadap larangan mudik. Barbagai cara dilakukan masyarakat agar bisa mudik. 

Amati saja berbagai berita di televisi maupun medsos lainnya. Akhir-akhir ini muncul berita tentang berbagai pelanggaran larangan mudik.

Saya tersenyum melihat dan mendengar berita di televisi. Saking semangatnya salah satu presenter TV menyampaikan berita tentang mudik di tengah pandemi. Sepertinya dia kurang tepat menggunakan  pilihan kata.

Misalnya begini,” Untuk menghindari razia petugas ada warga yang nekad mudik dengan cara bersembuyi di belakang mobil bak terbuka yang ditutup terpal. Ada juga yang bersembunyi di belakang truk”.

Silakan Anda cermati apa yang membuat kesalahan presenter dalam penggunaan pilihan kata?

Sebagai ASN dan warga negara yang baik saya tidak berani mudik. Walaupun Gubernur Anies Baswedan memberi dispensasi khusus, saya tetap tidak akan mudik atau pulang kampung.  Apalagi kalau mudik disuruh lewat jalan tikus. Siapa pula yang mau melewatinya.  Bagimana dengan Anda?

Supriyanto

Supriyanto

Praktisi Pendidikan di Jakarta

Terbaru

Ikuti