Ditulis oleh 11:23 am KABAR

Diperlukan Penajaman Arah Pendidikan Indonesia

Dengan kondisi faktual pendidikan Indonesia seperti saat ini, apabila ingin diperbaiki maka harus terlebih dahulu merumuskan filosofi pendidikan Indonesia.

Yayasan Abdurrahman Baswedan menggelar diskusi buku online rutin yang kali ini mengangkat buku berjudul Cakrawala Pendidikan Islam di Indonesia, Jum’at, 26 Juni 2020, melalui aplikasi meeting online Zoom.

Diskusi buku kali ini menghadirkan tiga narasumber yakni Dr. Muhamad Murtadlo, penulis buku yang juga Peneliti Badan Litbang Kementerian Agama RI, Dr. Khoiruddin Bashori, M.Si Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Ahmad Dahlan, serta Dr. Hj. Siti Aminah, M.A, Widyaiswara di Balai Diklat Keagamaan Semarang. Dipandu oleh Iwan Setiawan, M.Si, dosen Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.

Dalam diskusi ini Muhamad Murtadlo menyampaikan latar belakang penulisan buku ini ingin mempotret pendidikan Indonesia, dimana jika dilihat dari Human Development Indexs (HDI) angkanya masih tinggi yakni 111 di tahun 2019. Hal ini memperlihatkan hasil pendidikan kita masih memprihatinkan.

Kemudian, lanjut Murtadlo, orang Indonesia di luar negeri masih dominan dengan kesan bangsa buruh. Kualitas pendidikan Indonesia juga terlihat dari global competitiveness Index yang pada tahun 2019 menurun dari 45 menjadi 50 (semakin kecil angkanya semakin baik).

“Ini yang menjadi kegelisahan dari kita yang bergerak dalam dunia pendidikan, lalu pendidikan kita ini ngapain aja,” ujar Murtadlo.

“Dan mereka belum mendapatkan penghargaan yang selayaknya,”

Namun demikian ada pula faktor yang menggembirakan dari pendidikan Indonesia, yakni tingginya peran serta masyarakat. Banyak yayasan, lembaga, organisasi keagamaan pendidikan, perseorangan yang berjuang menyelenggarakan pendidikan di daerah-daerah pelosok. “Dan mereka belum mendapatkan penghargaan yang selayaknya,” ujar Murtadlo.

Dengan kondisi pendidikan yang seperti sekarang ini, butuh berapa lama Indonesia untuk menjadi pusat ilmu pengetahuan, sehingga dapat menghasilkan manusia yang berkualitas. “Kita bisa ambil contoh Tiongkok, yang mungkin tidak butuh waktu sampai satu abad untuk menjadi negara yang besar dengan kekuatan ekonomi, kekuatan militer sehingga dapat menjadi penantang negara super power,” jelas Murtadlo.

Kondisi faktual pendidikan di Indonesia ini, menurut Murtadlo, belum merata, selalu berganti kebijakan, pendidikan kurang berkualitas, tidak menghargai lulusan dan sebagainya.

Dalam pendidikan ada tiga wilayah yang harus dicermati, yakni filosofi pendidikan, politik pendidikan dan praksis pendidikan. Dengan kondisi faktual pendidikan Indonesia seperti saat ini, apabila ingin diperbaiki maka harus terlebih dahulu merumuskan filosofi pendidikan Indonesia. “Hanya saja kita saat ini terlalu sibuk dengan praksis pendidikan,” ujar Murtadlo.

Sebut saja persoalan sertifikasi guru yang dianggap sebagai salah satu faktor yang dapat meningkatkan mutu pendidikan. Apabila kesejahteraan guru meningkat maka akan meningkatkan kualitas pendidikan. “Tetapi setelah sertifikasi banyak guru yang menjadi konsumtif, pada antri kredit mobil, contohnya. Artinya secara kesejahteraan guru sudah terpenuhi namun kualitas pendidikan masih berjalan apa adanya,” jelas Murtadlo.

Oleh karena itu perlu dilakukan penajaman arah atau tujuan pendidikan. Lembaga pendidikan baik dasar sampai perguruan tinggi, formal maupun non formal, masing-masing satuan pendidikan harus memperjelas bagaimana pembangunan karakter dan akhlak, reproduksi ilmu pengetahuan dan pembekalan life skill untuk peningkatan daya saing bangsa.

“Satuan pendidikan harus mampu melahirkan anak didik yang lebih maju, ini yang harus menjadi cita-cita kita sebagai pengelola pendidikan,” tandas Murtadlo.

(Visited 41 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 28 Juni 2020
Close