Ditulis oleh 5:26 am MAKLUMAT

Diskusi Buku Minggu Ini: Memanen Air Hujan dalam Bayang-bayang Jawa Kehabisan Air 2040

Diskusi buku rutin Yayasan Abdurrahman Baswedan minggu ini akan membahas buku Memanen Air Hujan, karya Dr. -Ing. Ir. Agus Maryono. Buku ini mengingatkan kepada kita betapa pentingnya mengelola lingkungann terutama sumber daya air. Tidak dapat dipungkiri Indonesia merupakan salah satu negara terkaya dalam sumber daya air. Negara ini menyimpan 6% potensi air dunia, tapi pada 2040 pulau Jawa terancam kehabisan air.

Dalam laporan badan kerja sama lintas negara, Water Environment Partnership in Asia (WEPA), memprediksi Jawa bakal kehilangan hampir seluruh sumber air bersih tahun 2040. Pulau yang dihuni 150 juta penduduk di pulau terpadat Indonesia akan kekurangan air, bahkan untuk sekadar makan atau minum (Sumber: BBC Indonesia).

Para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut sejumlah faktor pemicu krisis air, dari perubahan iklim, pertambahan penduduk hingga alih fungsi lahan. Pemerintah berupaya melakukan revitalisasi waduk dan danau untuk mencegah krisis air bersih, namun kalangan akademisi menilai upaya itu belum cukup membendung bencana yang bakal datang.

Diskusi buku rutin Yayasan Abdurrahman Baswedan minggu ini ingin mengkaji pengelolaan sumber daya air, yang akan dilihat dari bagaimana pemanfaatan air hujan untuk mengantisipasi krisis air dimasa depan. Diskusi buku akan dilaksanakan Jum’at, 18 Oktober 2019, pukul 15.30 sampai selesai, di Sekretariat Yayasan Abdurrahman Baswedan, Perumahan Timoho Asri IV, No.B9C, Muja Muju Yogyakarta. Akan hadir Dr. -Ing. Ir. Agus Maryono, Penulis Buku dan Dosen Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.


Buku ini terinspirasi oleh kajadian banjir di Jakarta dan berbagai tempat di Indonesia yang berlangsung setiap tahun, dan ironisnya kekeringan mulai terjadi di berbagai tempat pada musim kemarau. Masyarakat umum mengerti bahwa penyebabnya ialah karena hujan. Namun, kita menyadari bahwa sebenarnya bukanlah hujan sebagai penyebab utama banjir, melainkan bagaimana kita mengelola air hujan yang turun di daerah aliran sungai (DAS) selanjutnya mengalir ke hilir.

Memang sebagian besar masyarakat kita tidak mengelola air hujan tersebut. Justru hampir di semua tempat dilakukan perbaikan drainase yang intinya secepat-cepatnya “mengatuskan” air genangan akibat hukan. Air hujan dibuatkan “jalur cepat” drainase konvensional mengalir ke hilir. Semakin baik drainase konvensional di suatu tempat, semakin besarlah kemungkinan banjir yang akan terjadi di bagian hilirnya, dan semakin besar kemungkinan terjadi kekeringan di bagian hulunya saat musim kemarau.

Konsep drainase ramah lingkungan yang akhir-akhir ini menjadi bahan pembicaraan belum tersosialisasikan di masyarakat. Hingga buku ini diterbitkan, perencanaan dan implementasi drainase masing menggunakan cara drainase konvensional. Drainase ramah lingkungan didefinisikan sebagai upaya mengelola air hujan dengan cara menampung, meresapkan, mengalirkan, dan memelihara dengan tidak menimbulkan gangguan aktivitas sosial, ekonomi, dan ekologi lingkungan yang bersangkutan. Drainase ramah lingkungan dikenal dengan slogan drainase TRAP, yaitu Tampung, Resapkan, Alirkan, dan Pelihara.

Memanen hujan merupakan bagian dari drainase ramah lingkungan pada bagian Tampung dan Resapkan. Air hujan ditampung untuk dipakai sebagai sumber air bersih dan perbaikan lingkungan hidup, dan diresapkan untuk mengisi air tanah. Efek memanen air hujan di antaranya ialah berkurangnya banjir, berkurangnya kekeringan, berkurangnya masalah air bersih, berkurangnya penurunan muka air tanah, dan berkurangnya masalah lingkungan.

Buku ini membahas latar belakang memanen air hujan, pemakaiannya di negara-negara maju dan pemakaiannya secara tradisional, metode-metode dan infrastruktur pemanen air hukan, hitungan dimensi infrastruktur dan peralatan, kualitas air hujan dan metode perbaikan kualitas air hujan, dan ditutup dengan rekomendasi.

Judul                : Memanen Air Hujan
Penulis            : Agus Maryono
Tebal               : 132 halaman
Ukuran            : 15,5 cm X 23 cm
Kategori        : Lingkungan, Teknik Sipil, Sains & Teknologi
Penerbit          : UGM Press

Sumber: Cover belakang buku Memanen Air Hujan

(Visited 22 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 10 Februari 2020
Close