Disrupsi dan Eksistensi Pustakawan di Jaman Teknologi Informasi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kemampuan untuk kreatif dan inovatif inilah yang akan menjadikan pustakawan tetap eksis dan tidak terdisrupsi di era teknologi informasi ini. Pustakawan harus menjadi alat paling canggih di perpustakaan.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan, Bab I ketentuan umum pasal 1, telah disebutkan bahwa pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan.

Pustakawan sebagai pelaksana pengelolaan dan pelayanan dalam bidang informasi bertugas mengelola informasi serta menyediakan informasi tersebut kepada pemustaka. Tentu saja informasi tersebut harus akurat, cepat, tepat, dan up to date disajikan kepada para pemustaka.

Di jaman teknologi informasi ini, keberadaan pustakawan sebagai pengelola dan penyedia informasi seakan-akan sudah tidak dibutuhkan lagi, karena tergantikan oleh peralatan perpustakaan yang serba canggih. Untuk menghadapi permasalahan serius ini dibutuhkan kreativitas dari pustakawan itu sendiri. Bagaimana cara agar eksistensi pustakawan diakui dan tetap dibutuhkan oleh para pemustaka.

Pustakawan, yaitu orang yang bekerja di perpustakaan atau lembaga sejenisnya dan memiliki pendidikan perpustakaan secara formal (minimal D2 perpustakaan). Disrupsi /dis·rup·si/ n menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya: hal tercabut dari akarnya. Disruption (disrupsi), situasi di mana pergerakan dunia industri atau persaingan kerja tidak lagi linear. Perubahannya sangat cepat, fundamental dengan mengacak-acak pola tatanan lama untuk menciptakan tatanan baru.

Dapat dikatakan bahwa pustakawan merupakan salah satu profesi yang nantinya akan terdisrupsi, dan tergantikan dengan peralatan canggih sebagai pendukung kegiatan di perpustakaan. Pekerjaan lain yang sudah terdisrupsi oleh kemajuan teknologi informasi misalnya tukang pos.

Tukang pos dikatakan sudah terdisrupsi karena tergantikan oleh elektronik mail (e-mail) atau surat elektronik. Orang lebih memilih menggunakan e-mail untuk mengirimkan surat dikarenakan lebih cepat dan murah. Hanya dengan hitungan detik saja surat kita sudah sampai ke alamat yang di tuju. Sedangkan jika kita menggunakan jasa pos, untuk surat kilat baru akan sampai dalam hitungan jam. Jasa pos juga sudah tengantikan oleh SMS atau saat ini sudah beralih ke Whats App (WA). Posisi tukang pos semakin terdisrupsi oleh perkembangan teknologi yang tumbuh sangat cepat. Peran tukang pos sudah tidak dibutuhkan lagi.

Bukankah kita tidak ingin peran pustakawan terdisrupsi oleh perkembangan jaman yang serba canggih? Atau kita sebagai pustakawan cukup diam dan pasrah menunggu waktu dimana profesi pustakawan sudah tidak ada lagi. Yang ada hanyalah mesin-mesin canggih yang bekerja lebih cepat daripada manusia.

Di zaman modern yang serba menggunakan teknologi informasi dan daya saing yang tinggi ini, pustakawan dituntut untuk menjadi pribadi yang kreatif, serta peka terhadap perubahan. Mengapa demikian? Karena suatu saat (seakan-akan) keberadaan pustakawan sudah tidak diperlukan lagi.

Lihat saja sekarang, di beberapa perpustakaan yang sudah canggih, terutama perpustakaan perguruan tinggi, berbagai peralatan modern telah dihadirkan. Sehingga untuk keperluan sirkulasi (peminjaman dan pengembalian buku), pemustaka bisa melakukannya secara mandiri, tanpa bantuan dari pustakawan. Pustakawan benar-benar telah terdisrupsi, tergantikan oleh mesin buatan manusia yang lebih canggih.

Perubahan ini tidak hanya terjadi pada saat ini saja. Perubahan sudah terjadi sejak zaman dahulu. Mulai dari perubahan dari perpustakaan yang dahulunya konvensional kemudian beralih ke otomasi, hingga perubahan yang terjadi saat ini, yaitu dari otomasi ke digitalisasi. Semua proses dari akuisisi bahan pustaka sampai temu kembali bahan pustaka di tangan pemustaka sudah tidak banyak membutuhkan bantuan pustakawan.

Mari kita simak perubahan perpustakaan satu persatu.

1. Perpustakaan Kertas (Paper Library).
Perpustakaan ini masih konvensional dari segi akuisisi, pengolahan, pengatalogan, sirkulasi, dan pelayanan, dengan koleksi berbasis kertas.

2. Perpustakaan Terotomasi (Automated Library).
Yaitu perpustakaan yang koleksinya masih berupa kertas, tetapi teknik operasional seperti akuisisi, pengolahan, pengatalogan, sirkulasi, dan pelayanan sudah menggunakan teknologi komputer.

3. Perpustakaan Elektronik (Electronic Library).
Yaitu perpustakaan yang koleksi serta teknik operasionalnya sudah beralih ke bentuk elektronik. Peran pustakawan sudah tidak terlalu dibutuhkan lagi di sini.

4. Perpustakaan Hibrida.
Yaitu perpustakaan yang koleksinya berupa elektronik atau artifak digital digunakan bersama-sama sumber tercetak (heritage materials).atau dengan kata lain informasi yang disajikan merupakan campuran media tradisional dan media terbaru.

Dengan adanya perubahan perpustakaan, mulai dari perpustakaan konvesional berbasis kertas, perpustakaan terotomasi, hingga perpustakaan elektronik, menjadikan disrupsi pustakawan. Peran pustakawan, baik dari segi teknis maupun layanan seakan sudah tidak dibutuhkan lagi.

Pustakawan merupakan profesi. Dan sudah seharusnya sebagai jabatan yang dianggap sebagai profesi, mewajibkan kita untuk bekerja dengan profesional. Mengapa pustakawan dianggap sebagai profesi? Karena pustakawan merupakan suatu pekerjaan yang memenuhi persyaratan tertentu, diantaranya:

  1. Memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus
  2. Adanya sebuah asosiasi atau organisasi keahlian
  3. Adanya pendidikan profesi
  4. Adanya kode etik
  5. Berorientasi pada jasa
  6. Adanya tingkat kemandirian dan otoritas
  7. Internship
  8. Adanya budaya profesi
  9. Perilaku professional
  10. Adanya standar
  11. Adanya Klasifikasi keprofesionalan

Profesional merupakan suatu pekerjaan yang membutuhkan keahlian di bidangnya. Dengan demikian, profesionalisme dalam bidang perpustakaan adalah suatu pekerjaan di perpustakaan yang mensyaratkan latar belakang atau keahlian di bidang perpustakaan, dokumentasi, dan informasi. Profesionalisme membutuhkan kinerja yang profesional, dimana mensyaratkan suatu intelektualime bukan hanya sekedar keterampilan belaka sehingga kinerja yang profesional akan memberikan jasa yang optimal bagi pemustaka. Kinerja yang professional berhubungan dengan suatu jabatan keprofesionalannya, yang disebut jabatan fungsional.

Sebagai seorang profesional, pustakawan yang dahulu hanya sebagai book custodian, paradigmanya berubah menjadi information specialist. Stereotip tentang pustakawan ini muncul pada pertengahan abad ke-20 ketika terjadi ledakan informasi. Sebagai information specialist, pustakawan harus lebih kreatif dalam menyajikan suatu informasi. Pustakawan tidak boleh monoton hanya menjaga koleksi, menata buku, mengolah koleksi, serta menunggu pemustaka yang mau datang ke perpustakaan.

Pustakawan seharusnya lebih kreatif dan inovatif dalam memancing minat pemustaka agar mau berkunjung ke perpustakaan, termasuk mempromosikan koleksi dan fasilitas perpustakaan. Hal tersebut berkaitan dengan UU No. 43 tahun 2007, yang menyatakan bahwa “Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.”

Agar tidak tenggelam di dalam revolusi informasi dan terdisrupsi, maka pustakawan harus mampu menjadi information manager dan knowledge manager yang ideal seperti yang dikatakan Purwono (2014), dalam bukunya “Profesi pustakawan” yaitu:

  1. Seseorang yang memiliki visi tentang kapabilitas pengembangan, dan isu-isu terbaru untuk kompetisi jasa informasi.
  2. Seseorang yang memahami teknologi dan pendayagunaan teknologi secara optimal untuk layanan informasi.
  3. Pemahaman tentang sumber daya manusia dan infrastruktur budaya sebagai sarana berbagai informasi.
  4. Diberikan ukuran yang berhubungan dengan kriteria efektivitas perpustakaan guna pengembangan infrastruktur pengetahuan sendiri.
  5. Seseorang yang wajib mengambil tanggung jawab kunci sebagai sarana keberlangsungan berbagai pengetahuan dan penempatan kembali pengetahuan.
  6. Seseorang yang memerlukan pemahaman isu budaya yang relevan dengan proses kreasi pengetahuan dan keterbukaan pikiran.
  7. Seseorang yang harus memiliki pemahaman yang baik tentang keberagaman koordinasi dan teknologi informasi serta fakta-fakta yang relevan untuk penerapan teknologi.

Dengan menjadi pustakawan yang ideal, maka kita akan siap menghadapi berbagai macam perubahan di era informasi ini. Perubahan yang mungkin dan sudah terjadi diantaranya perubahan dalam hal teknologi informasi, perubahan yang menyangkut desentralisasi jasa, perubahan yang menyangkut profesional yang terus menerus belajar, perubahan yang menyangkut peranan pustakawan yang lebih banyak sebagai perantara informasi daripada penyedia informasi, serta perubahan dalam bentuk literatur yang beralih ke elektronik.

Pada intinya, pustakawan merupakan seorang manager. Sebagai seorang manager di sebuah perpustakaan, pustakawan harus mampu mengembangkan perpustakaan. Maju dan tidaknya perpustakaan tergantung dari manager itu sendiri. Banyak dan tidaknya pemustaka, tergantung dari promosi yang dilakukan sang manager. Pustakawan yang cenderung apatis tidak akan pernah bisa memajukan perpustakaan sampai kapanpun. Sedangkan pustakawan yang kreatif dan inofatif, tentunya akan sangat bisa dengan mudahnya memajukan perpustakaan yang dikelolanya.

Kemampuan untuk kreatif dan inovatif inilah yang akan menjadikan pustakawan tetap eksis dan tidak terdisrupsi di era teknologi informasi ini. Pustakawan harus menjadi alat paling canggih di perpustakaan, dan tidak boleh kalah dengan serentetan alat-alat canggih seperti barcode scanner, radio frekuensi identification (RFID), dan alat-alat canggih lainnya.

Kini perpustakaan hadir dalam bentuk digital yang ditandai dengan:

  • Penekanan pada akses ke bahan digital ari manapun mereka berada. Digitalisasi menghilangkan kebutuhan untuk memiliki atau menyimpan barang fisik.
  • Katalogisasi ke kata-kata individu.
  • Menjelajah berdasarkan hyperlink, kata kunci, atau ukuran yang ditetapkan keterkaitan.
  • Teknologi siaran: pemakai tidak perlu mengunjungi perpustakan digital, karena perpustakaan ada di setiap tempat yang dapat diaksesnya, misalnya rumah, sekolah, kantor, atau di dalam mobil.

Di era teknologi informasi, peran pustakawan sangat dibutuhkan dalam literasi informasi. Seperti kita ketahui bahwa literasi informasi merupakan suatu kemampuan seseorang mengenali kapan informasi itu dibutuhkan. Serta seperangkat keterampilan yang dimiliki seseorang dalam mencari, menemukan, menganalisis, mengevaluasi, dan mengomunikasikan informasi yang berfungsi dalam pemenuhan kebutuhan informasi yang akan memecahkan berbagai masalah.

Sehingga pustakawan harus mampu memberikan keterampilan kepada seseorang agar mampu mengakses dan memperoleh informasi mengenai kesehatan, lingkungan, pendidikan, pekerjaan mereka, dan lain lain. Memandu para pemustaka dalam membuat keputusan yang tepat mengenai kehidupan mereka, dan lebih bertanggung jawab terhadap kesehatan dan pendidikan pemustaka. Sehingga pemustaka mampu mengambil keputusan, menjadi manusia pembelajar di era informasi, dan mampu menciptakan pengetahuan baru.

Untuk itu, sebagai seorang pustakawan yang professional, kita harus mengetahui kriteria dalam literasi informasi. Menurut Breivik dalam Kuhlthau (1987: 12), kriteria literasi informasi yaitu: skill and knowledge (kemampuan dan pengetahuan), attitudes (sikap), time and labor intensives (waktu dan intensitas penggunaan), need driven (pengendali kebutuhan), computer literacy (literasi komputer), keterampilan literasi informasi.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa eksistensi pustakawan sudah banyak tergeser oleh peralatan modern yang canggih. Pustakawan sebagai penyedia informasi dituntut untuk mengembangkan kompetensinya agar bisa tetap eksis di jaman teknologi informasi ini. Pustakawan yang bekerja monoton di ruang lingkup akuisisi, pengolahan, pelayanan di zona aman dan tidak mengembangkan keterampilannya dalam mengembangkan perpustakaan, akan jauh tertinggal oleh perkembangan teknologi informasi yang maju sangat pesat.

Profesi pustakawan akan terus eksis manakala pustakawan mampu meningkatkan kompetensinya, dan selalu tanggap terhadap perubahan yang ada, memiliki kemampuan menggunakan teknologi informasi dalam mengelola perpustakaan.

Daftar Pustaka

Septiyantono, T. (2014). Literasi Informasi. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.
Basuki, S. (2010). Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Universitas Terbuka.
Purwono, (2014). Profesi Pustakawan. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

Baca juga: DPRD DIY Godok Perda Perpustakaan

Dwi Astutiningsih, S.I.Pust.

Dwi Astutiningsih, S.I.Pust.

Pustakawan SMP Negeri 1 Bantul. Ketua Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia (ATPUSI) Kecamatan Pundong, Bantul. Founder Ajang Kreasi Pustakawan Bantul Menulis (Annelis)

Terbaru

Ikuti