Distorsi Akan Waktu Mungkin Disebabkan oleh ‘Lelah’nya Sel-Sel Otak

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Mereka masih belum dapat mengatakan bahwa kelelahan neuron 'menyebabkan' persepsi waktu salah oleh karena penelitian mereka hanya menunjukkan korelasi antara kelelahan dari neuron dan distorsi waktu subjektif.

Waktu di dalam otak kita tidaklah mengikuti keteraturan jam paling akurat di dunia. Sebaliknya, nampaknya waktu dapat nampak cepat pada suatu saat, dan nampak lambat hingga berhenti di saat berikutnya. Menurut studi terbaru, kesadaraan akan waktu yang terdistorsi ini mungkin disebabkan, sebagian, akibat dari lelahnya sel otak.

Temuan studi tersebut mengatakan bahwa ketika otak terkena interval waktu yang sama berulang kali, neuron atau sel-sel otak terstimulasi secara berlebih dan hal tersebut menyebabkan berkurangnya aktivitas dari sel-sel tersebut. Namun demikian, persepsi kita mengenai waktu memanglah rumit, dan banyak faktor lain yang mungkin juga dapat menjelaskan mengapa waktu terkadang bergerak lambat dan terkadang bergerak cepat

Dapat dikatakan bahwa kita baru saja mulai memahami bagaimana otak kita mempersepsikan waktu. Baru pada 2015, para peneliti menemukan bukti pertama dari neuron yang aktivitasnya berubah-ubah terhadap persepsi kita terhadap waktu. Namun demikian, belumlah jelas apakah neuron-neuron tersebut, yang ditemukan dalam area kecil otak bernama supramarginal gyrus (SMG), menjaga keakuratan waktu untuk otak, atau menciptakan suatu keadaan waktu yang subjektif. 

Dalam studi terbaru, para peneliti menggunakan “ilusi waktu” pada 18 relawan sehat untuk menyelidiki fenomena tersebut. Para relawan tersebut dipasangkan pada alat, functional magnetic resonance imaging (fMRI) yang mengukur aktivitas otak dengan mendeteksi perubahan pada aliran darah.

Para relawan kemudian memasuki masa “adaptasi”, dimana mereka ditunjukkan sebuah lingkaran abu-abu di atas latar belakang hitam dalam kurun waktu 250 mili detik atau 750 mili detik, 30 kali berturut-turut.

Setelah itu para relawan ditunjukkan pada sebuah lingkaran lain untuk periode waktu tertentu sebagai “tes stimulus”. Kemudian mereka diminta untuk mendengarkan suara yang ringan untuk waktu tertentu dan mereka diminta menjawab apakah tes stimulus sebelumnya lebih lama atau lebih cepat dibandingkan dengan suara ringan tersebut.

Para peneliti menemukan bahwa jika tes stimulusnya memiliki waktu yang serupa dengan stimulus adaptasi, aktivitas dalam supramarginal gyrus berkurang. Dengan kata lain, neuron dalam area tersebut beraktivitas lebih sedikit dibandingkan ketika mereka diperlihatkan dengan lingkaran abu-abu.

Penulis utama studi, Masamichi Hayashi, yang merupakan ilmuwan saraf kognitif dari Pusat Jaringan Saraf dan Informasi di Institut Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi di Jepang mengatakan bahwa pengulangan ini “melelahkan neuron” yang senditif pada durasi waktu itu. Namun demikian, menurutnya, neuron lain yang sensitif terhadap durasi lainnya masihlah aktif.

Perbedaan dalam tingkat aktivitas ini mengganggu persepsi para relawan terhadap waktu. Jika terkena stimulus dari durasi adaptasi otak, para relawan meleset terlalu jauh dalam memperkirakan waktu, dan begitu juga sebaliknya ketika diberi stimulus yang lebih pendek, mereka terlalu cepat dalam memperkirakan waktu.

Hal tersebut dapat merusak pemahaman kita mengenai waktu di dunia nyata. Sebagai contoh, penonton dalam suatu konser piano mungkin beradaptasi dengan suatu tempo musik. Menurut Hayashi penonton dalam konser tersebut kemungkinan merasakan tempo musik yang secara subyektif lebih lambat daripada waktu yang sebenarnya setelah disuguhkan dengan musik yang memiliki tempo lebih cepat, bahkan juga ketika musik dimainkan dengan tempo yang normal.

Namun demikian, menurut Hayashi, mereka masih belum dapat mengatakan bahwa kelelahan neuron ‘menyebabkan’ persepsi waktu salah oleh karena penelitian mereka hanya menunjukkan korelasi antara kelelahan dari neuron dan distorsi waktu subjektif, dan mengatakan bahwa langkah selanjutnya adalah memeriksa hubungan sebab akibat. 

Terdapat juga kemungkin ada banyak mekanisme yang bekerja di dalam otak guna menciptakan persepsi tunggal kita tentang waktu. Sebagai contoh, persepsi kita tentang waktu mungkin terkait erat dengan apa yang kita harapkan, atau mungkin karena bahan kimia di otak atau bahkan kecepatan di mana sel-sel otak mengaktifkan diri mereka satu sama lain dan membentuk jaringan saat melakukan suatu aktivitas. Hayashi mengatakan bahwa untuk memahami dan memecahkan pertanyaan ini akan menjadi arah penting dalam penelitian di masa depan.

Sumber:
Disadur dari situs livescience. Materi berasal dari Live Science. Naskah pertama kali ditulis oleh Yasemin Saplakoglu. Note: Naskah telah mengalami penyesuaian gaya dan panjang.

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti