Ditulis oleh 3:09 pm SAINS

“Dokter Wabah”, antara Mitos dan Kenyataan

Beberapa dari mereka juga menulis buku pendek, yang dikenal sebagai risalah wabah, untuk menasihati rekan-rekan mereka dan masyarakat yang dapat membaca tentang pencegahan wabah.

Pernahkah mendengar nama ‘dokter wabah’? Sosok ini digambarkan sebagai sosok misterius yang sekujur tubuhnya dibalut dengan pakaian kulit berminyak, mengenakan kacamata hitam dan topeng berparuh, yang membuatnya nampak seperti campuran manusia dan gagak hitam yang menyeramkan. Sosok ini biasa dikaitkan dengan black death (1347-1351) dan keterbatasan obat pada abad pertengahan. Namun apakah benar demikian? 

“Dokter Wabah”

Pada akhir abad pertengahan hingga awal era modern, dokter yang menangani wabah tidak mengenakan pakaian standar. Seiring dengan bertambahnya pengetahuan (baik dari pengalaman maupun riset), berkembang pula pemahaman tentang penyebab dan pola penyebaran wabah. Selama beberapa abad, pakaian yang dikenakan oleh para dokter dan metode yang mereka gunakan untuk mengobati penyakit pun mengalami perubahan. Pada kenyataannya pencegahan dan perawatan wabah tidak hanya dari mereka yang dilatih di perguruan tinggi, tetapi juga dari pengalaman ahli bedah, tukang cukur, ahli obat, bidan, ahli herbal, dan agamawan.

Para “dokter” ini bekerja tanpa pengetahuan akan kuman dan antibiotik seperti sekarang dan mereka tidak dapat menyembuhkan wabah tersebut. Namun demikian, mereka layak dipuji karena dapat mengenali penyebaran dan gejala wabah dan memberi orang harapan di zaman krisis medis. Beberapa dari mereka juga menulis buku pendek, yang dikenal sebagai risalah wabah, untuk menasihati rekan-rekan mereka dan masyarakat yang dapat membaca tentang pencegahan wabah.

Setelah wabah kematian hitam (black death) muncul, dokter dan ilmuwan segera mencoba menyesuaikan pemahaman dan pengetahuan mereka dengan penyakit ini, yang artinya mendefinisikan wabah dalam teori empat cairan tubuh (darah, dahak, empedu kuning, empedu hitam), yang pertama kali dikembangkan oleh dokter kuno Hippocrates dan Galen yang kemudian dijelaskan oleh dokter Arab dan Latin abad pertengahan.

Menggunakan teori medis kuno dan abad pertengahan, para dokter wabah berpendapat bahwa kematian hitam adalah demam berbahaya yang merusak cairan tubuh dan menyebabkan gelembung atau kelenjar getah bening yang membengkak oleh darah dan nanah. Dokter menyadari bahwa gelembung ini cenderung terbentuk di pangkal paha, ketiak dan leher, dan menetapkan hal ini sebagai bukti tubuh mengeluarkan cairan dari organ utama terdekat: hati, jantung, dan otak. Menurut mereka wabah dapat dicegah dengan memperkuat cairan atau menjaganya melalui perencanaan medis atau rejimen yang ketat, termasuk perubahan dalam diet, serta mengonsumsi obat-obatan yang menyebabkan muntah dan buang air kecil yang “bermanfaat”, dan pembuangan darah profilaksis. 

Semua prosedur ini dimaksudkan untuk mengeluarkan bau busuk dari tubuh dan menjaga empedu hitam, yang dikenal sebagai melancholia, agar tidak mendominasi tubuh. Empedu ini pada saat itu dianggap sebagai yang paling berbahaya dari semua cairan.

Salah satu teori paling populer diuraikan panjang lebar oleh fakultas kedokteran di Universitas Paris. Pada 1348, Raja Prancis meminta nasihat sarjana ketika wabah mendekati pusat kerajaannya. Para sarjana menggabungkan pengobatan dengan astrologi, yang pada saat itu dianggap sebagai ilmu yang serius, untuk menjelaskan penyebab dan penyebaran wabah. Udara bumi, kata mereka, terlalu panas dan rusak oleh konjungsi planet Mars, Saturnus dan Jupiter (yang semuanya dianggap panas, keras atau rusak dalam pengaruh astrologi) pada tahun 1345 dan dalam zodiak Aquarius (diasosiasikan dengan basah). Udara panas dan lembab yang tidak wajar ini bertiup melintasi Asia menuju Eropa, menyebabkan wabah ke mana pun udara ini pergi. Ketika dokter abad pertengahan merujuk pada wabah penyakit, mereka seringkali tidak merujuk pada penyakit itu sendiri, alan tetapi pada udara beracun yang menyebabkan penyakit dalam tubuh manusia.

Untuk melindungi dari udara yang menular, para dokter mendorong pemakaian atau memegang bahan-bahan manis atau pahit, seperti violet, wormwood, cuka atau sepotong ambergris, yang mengeluarkan aroma yang sangat kuat diambil dari lapisan usus paus sperma. Para dokter juga menyarankan membakar dupa, atau kayu yang berbau pahit untuk membersihkan dan memurnikan udara. Dari abad pertengahan akhir, dokter juga merekomendasikan menembakkan meriam untuk memerangi racun dengan asap mesiu.

Topeng Berparuh “Dokter Wabah”

Menurut buku Michel Tibayrenc “Encyclopedia of Infectious Diseases” (John Wiley & Sons, 2007), dikatakan bahwa kostum “dokter wabah” yang terkenal ditemukan dalam sebuah karya pertengahan abad ke-17 yang ditulis oleh Charles de Lorme, seorang dokter kerajaan dibawah kepemimpinan Raja Louis XIII dari Perancis. De Lorme menulis bahwa selama wabah di Paris pada 1619, ia mengembangkan pakaian yang seluruhnya terbuat dari kulit kambing Maroko, termasuk sepatu bot, celana pendek, mantel panjang, topi, dan sarung tangan. Menggunakan peralatan pelindung ini menunjukkan bahwa dokter semakin khawatir tertular wabah langsung dari pasien mereka, daripada dari udara itu sendiri.

Fitur utama dari pakaian tersebut adalah topeng ketat, lengkap dengan lensa mata kristal yang diperpanjang menjadi paruh panjang, sekitar 15 cm dan diisi dengan parfum atau ramuan aromatik. Paruh inilah fitur paling ikonik dari pakaian tersebut, dan dianggap penting bagi dokter untuk mencegah menghirup “miasma wabah,” atau udara penyakit yang datang langsung dari pasien.

Setelah deskripsi tertulis dari kostum wabah De Lorme, bukti visual terbaik berasal dari tahun 1656, ketika wabah yang menewaskan ratusan ribu orang di Roma dan Napoli. Pemahat Jerman Gerhart Altzenbach menerbitkan gambar populer seorang dokter wabah dengan pakaian lengkap, dengan teks yang menggambarkan bagaimana pakaian melindungi pemakainya terhadap kematian.

Gambar yang lebih ikonik dari dokter wabah adalah ukiran satirical Paulus Fürst pada 1656 yang disebut “Doctor Schnabel von Rom,” atau “Doctor Beaky from Rome.” Disalin dari ilustrasi Altzenbach, Fürst menggambarkan bagaimana dokter hanya menakuti orang-orang dan mengambil uang dari orang mati dan sekarat. Fürst juga menambahkan beberapa elemen tambahan pada pakaian dokter wabah yang muncul hingga hari ini, seperti sarung tangan seperti cakar dan tongkat penunjuk diatapi oleh jam pasir bersayap kelelawar. Unsur-unsur ini bersifat menyindir dan bukanlah realitas sejarah, tetapi mereka tetaplah membentuk banyak gambaran stereotip “dokter wabah” yang digambarkan hari ini.

Topeng paruh, pakaian hitam kelam mungkin telah menjadi simbol yang mengerikan dari masa primitif dalam sejarah medis, namun demikian, hal ini sebenarnya mewakili bagaimana selama berabad-abad, para dokter, ilmuwan dan para pekerja kesehatan telah memikirkan penyebaran dan pencegahan wabah. Kostum tersebut mewakili perubahan gagasan tentang penyebab dan penularan penyakit, tentang hubungan antara dokter dan pasien, dan tentang peran negara dalam melindungi kesehatan masyarakat. 

Pengetahuan Baru

Perkembangan pemahaman tentang dokter, dunia medis dan seluruh atribut yang digunakan mencerminkan suatu gerak tumbuh pengetahuan. Dari tidak tahu menjadi sedikit tahu, dari sedikit tahu menjadi lebih banyak tahu dan demikian itu seterusnya. Memang ada pengetahuan yang disusun dengan prosedur ketat, namun ada pula pengetahuan yang ditemukan dalam kejadian tertentu, dan kemudian diwariskan turun-temurun tanpa pengujian. Yang pertama berkembang menjadi ilmu pengobatan modern, ilmu kedokteran dan seluruh rumpunnya. Yang kedua, berkembang menjadi metode pengobatan alternatif, yang umumnya mengandalkan obat-obatan herbal, yang berbeda dengan industri farmasi. 

Sejarah telah memberi contoh untuk kita pelajari. Wabah kematian hitam dan peristiwa wabah yang lain telah mengilhami berbagai macam pengetahuan yang digunakan hingga kini. Pertanyaannya, apakah pandemi COVID-19 yang tengah kita hadapi kini dapat pula dijadikan sebagai pusat pembelajaran? Sebagai sumber pengetahuan, pengalaman wabah, tidak hanya dapat dipelajari oleh para dokter atau tenaga medis, atau tidak hanya menjadi ladang studi bagi perguruan tinggi, tetapi terbuka kesempatan bagi siapa saja, tanpa terkecuali. Artinya, pengetahuan yang dapat dikembangkan tidak hanya tentang bagaimana menangani wabah, namun juga sebagai pembelajaran dalam menata kehidupan manusia di masa depan. (Diolah dari berbagai sumber, antara lain livescience).

(Visited 67 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 3 Juni 2020
Close