Ditulis oleh 11:15 am COVID-19

Doktrin Islam dan Wabah Korona

Seluruh ikhtiar preventif melawan wabah korona tersebut sesungguhnya ada dalam doktrin agama Islam.

Oleh: Hadi Supeno

GELOMBANG pandemi korona/Covid-19 tak terbendung. Seluruh masyarakat dunia bingung, para pemimpin dibuat linglung. Wabah bergerak cepat dari Wuhan, Eropa, Amerika, dan seluruh Asia terus berlangsung. Angka-angka penderita, dan mayat-mayat yang tak tertolong terus menggunung. Corona terus mengurung kehidupan, entah sampai kapan.

Para peneliti di lab-lab kesehatan tak pernah tidur. Dibantu kacamata tebal silinder plus minus terus memelototi super micro organisme guna menemukan sebab dan jawab atas obat apa yang mujarab. Sampai bulan kelima sejak pertama kali Covid-19 ditemukan, belum juga para peneliti menentukan obat penyembuhnya.

Yang ada ikhtiar pencegahan. Dari sterilisasi area dengan zat desinfektan, cuci tangan dengan sabun dan atau hand sanitizer, tampil ke publik menggunakan masker, mengambil jarak fisik dalam pergaulan, hingga menggiring massa untuk tetap tinggal di rumah. Ihtiar lainnya adalah, memperkuat daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung gisi tinggi dan diolah dengan standar hygienes.

Berserah diri dan selamat

Sampai di sini kita baru tersadar, bahwa seluruh ikhtiar preventif melawan wabah korona tersebut sesungguhnya ada dalam doktrin agama Islam.   

Islam berasal dari kata aslama dan salima yang berarti berserah diri, selamat, damai, sentosa. Untuk mencapai kehidupan yang selamat, damai, dan sentosa harus dimulai dengan perilaku dan gaya hidup bersih. Bersih fisik lahiriah, juga fisik batiniah. Karena hidup bersih adalah doktrin, maka tak heran manakala semua kitab kajian fikh selalu dimulai dari bahasan tentang thoharoh (bersuci).

Bersih lahir tercermin dalam ajaran berwudhu sebelum sholat. Air yang digunakan bukan saja suci, tetapi mensucikan. Air untuk berwudhu mengutamakan  air mengalir, tidak berbau, tidak berwarna, dan dipastikan tidak mengandung zat-zat beracun. Jika air yang tersebut tidak tersedia, mending bersuci dengan bertayamum.

Dimulai dari membasuh kedua telapak tangan, berkumur, membersihkan lobang hidung, membasuh muka, lengan, kening dan rambut kepala, telinga, hingga kedua kaki, untuk memastikan semua panca indera kita bersih. Sebab kuman, baksil, atau virus, masuk ke dalam tubuh kita melalui panca indera.

Sampai di sini kita baru tersadar, bahwa seluruh ihtiar preventif melawan wabah korona tersebut sesungguhnya ada dalam doktrin agama Islam.   

Nabi Muhammad SAW pun mencontohkan bersiwak untuk membersihkan gigi dan mulut. Setelah bangun tidur pun disunnahkan untuk mencuci tangan karena selama tidur kita tak tahu benda apa saja yang dipegang. Sehabis berjima’ pasangan suami isteri diwajibkan berjunub. Saat mau ke masjid sisunahkan mandi, memakai baju bersih, teteskan minyak wangi, dan masih banyak lagi anjuran kebersihan.

Bersih batin berkait agar kita terbebas dari sikap sirik, musrik, bid’ah, klenik, takhayul, sombong, egois,  dan sejenisnya. Harapannya, setiap saat tumbuh dalam jiwa kita sikap iman, tawakal,  peka, peduli, jujur, rendah hati, tawaddu’, qonaah, dan sebagainya.

Jika bersih raga dan bersih jiwa secara holistik menjadi kebiasaan, jalan menuju keselamatan, kedamaian, dan kebahagiaan akan mudah diwujudkan. Itulah Islam!

Jauh dari kenyataan

Sayangnya kesadaran akan kebiasaan hidup bersih masih jauh dari kenyataan. Mayoritas kaum Muslimin hidup dalam tradisi kotor, ceroboh, tidak disiplin, dan jauh dari indikator perilaku hidup bersih. Yang menyedihkan hal tersebut tidak hanya milik kaum dhuafa, fakir miskin, tetapi juga kaum elite berpunya. Rumah megah dan mobil mewah tetapi sembarangan buang sampah. Puntung rokok dibuang pada setiap pojok, lingkungan dibiarkan penuh comberan, selokan mampet air berbau menjadi sarang nyamuk sepertinya hal yang biasa.

Pandangan naif

Demikian juga untuk tempat ibadah. Kita dengan mudah menemukan masjid-masjid dan mushola berlantai kotor. Karpet jarang dibersihkan. Teras penuh tinja hewan piaraan. Toilet-tolet jorok, tempat berwudhu kolah berwarna hijau penuh lumut dan binatang-binatang renik. Naif sekali, ada pandangan pada sekelompok kaum Muslimin bahwa sisa-sisa air wudhu penuh barokah. Ironis sekali masih ada pemimpin agama yang berprinsip, “Jangan mengaku santri kalau kamu belum gudhigen”. Masjid yang semestinya menjadi obat penenang jiwa, bisa-bisa beralih fungsi menjadi penebar sumber penyakit.

Begitu anehnya jikalau ada masjid yang bersih, rindang, dan penuh gairah ghirah amaliyah seperti dicontohkan masjid Jogokriyan, Yogyakarta misalnya. Berbondong-bondong aktivis masjid lakukan studi banding berombongan. Dan sepulang ke kampungnya mereka diskuisi, lalu mencoba mengikuti, hanya sebentar, mereka kembali ke kebiasaan lama.  Studi banding okay, meniru nanti dulu. Duh..!   

Kini saat wabah korona menyerbu menyerang umat manusia di seluruh dunia, juga Indonesia. Saatnya kembali ke doktrin pokok Islam, bahwa Islam itu bersih, Islam itu suci. Jangan mengaku Islam manakala tidak terbiasa dalam perilaku hidup bersih dan suci. Para ulama bahkan berpendapat, bahwa kebersihan adalahan sebagian dari pada iman.

Dan ingatlah firmal Allah dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 222: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang mensucikan diri”.

Melawan virus korona, dan juga virus-virus lainnya harus dimulai dari diri sendiri dengan membiasakan perilaku hidup bersih. Demikian juga melawan virus-virus jahat dalam hati kita, harus dimulai dengan hati yang bersih dan suci.

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang mensucikan diri”

Doktrin Islam adalah hidup bersih lahir batin. Doktrin Islam dengan demikian pertahanan preventif sejak awal melawan aneka wabah atau pandemi apapun. Termasuk langkah melawan korona.

Hendaklah setiap Muslim tidak hanya merasa cukup dengan melakukan ritual formal serta amaliyah lainnya. Selalu, mulailah dengan fisik yang bersih, lingkungan yang bersih, serta jiwa yang bersih. Inilah jembatan emas menuju kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akherat. In syaa Allah.***


Penulis: Mantan aktivis dan kolomnis freelance, tinggal di Banjarnegara. Mengarang beberapa buku, di antaranya: Umrah Sampai Aqsha., Manusia Jawa Modern., Kriminalisasi Anak.

(Visited 246 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 13 April 2020
Close