Ditulis oleh 5:50 pm COVID-19

Dunia Belum Bebas COVID-19

Hal yang mungkin saja dikhawatirkan adalah jika krisis kesehatan berubah menjadi krisis ekonomi dan kemudian berlanjut menjadi krisis sosial dan politik.

Apakah dunia telah benar-benar bebas dari virus korona (COVID-19)? Pertanyaan ini tentu saja tidak bisa dijawab dengan cara semau sendiri, tetapi hanya bisa dijawab dengan mengajukan data obyektif yang ada.

Selama masa Pandemi Global ini, kita membaca ada perdebatan tentang kualitas data yang dilaporkan. Tudingan AS ke China, yang mengatakan bahwa data yang dipublikasikan oleh pemerintah China sebagai bukan saya sebenarnya, merupakan contoh bagaimana debat terjadi.

Sebuah negara bisa saja mengatakan negara lain lebih banyak korban COVID-19, tetapi hal tersebut tidak akan menghilangkan kenyataan bahwa di negaranya virus telah beredar. Mereka yang pergi ke rumah sakit dan hasil diagnosis rumah sakit merupakan hal yang sangat sulit untuk ditutupi. Apalagi kini ada media sosial yang akan dengan segera mengabarkan apa yang sedang terjadi.

Artinya, dunia makin tidak menyediakan tempat bagi persembunyian data. Cepat atau lambat data yang disembunyikan akan mencari jalan untuk keluar dan menjadi informasi bagi publik dunia. Dan kumpulan informasi tersebut yang disusun dengan metode tertentu akan menjadi pengetahuan. Hari-hari di depan menjadi ajang pertaruhan bagi pejabat publik. Nama mereka akan dicatat sejarah, apakah dirinya mampu mengendalikan penyebaran COVID-19 ataukah tidak. Jumlah korban yang terpapar akan menjadi saksi yang tidak terbantahkan.

Sepinya pusat-pusat bisnis, telah menjadi lokomotif utama bagi penurunan gerak ekonomi.

Saat ini, dunia tengah bersiap-siap untuk melakukan pelonggaran, karena ada alasan ekonomi yang kuat. Tidak ada negara yang tidak mengalami problem ekonomi akibat pembatasan sosial. Sepinya pusat-pusat bisnis, telah menjadi lokomotif utama bagi penurunan gerak ekonomi, akibatnya ekonomi mengalami kontraksi yang hebat. Hal yang mungkin saja dikhawatirkan adalah jika krisis kesehatan berubah menjadi krisis ekonomi dan kemudian berlanjut menjadi krisis sosial dan politik.

Sangat masuk akal kekhawatiran tersebut, karena krisis baru pasti akan semakin memperparah krisis kesehatan. Namun yang menjadi masalah adalah apakah data memang telah menunjukkan kecenderungan penurunan kurva penularan COVID-19? Catatan Reuters (2/7), menunjukkan angka yang sangat mengejutkan. Dikatakan bahwa di lebih dari tiga puluh negara bagian AS mengalami peningkatan kasus COVID-19.

Pada hari Kamis (1/7) tercatat rekor baru dengan lebih dari 51.000 infeksi dalam satu hari. Keadaan ini dipandang sebagai gelombang baru terbesar. Sebanyak sembilan negara membukukan rekor baru pada Kamis tersebut, termasuk Florida, yang mengkonfirmasi lebih dari 10.000, yang sejauh ini merupakan lonjakan terbesar. California, juga merupakan episentrum, tes positif naik 37% dengan rawat inap naik 56% selama dua minggu terakhir.

Gubernur Texas Greg Abbott, seorang Republikan yang sebelumnya telah menolak saran untuk mewajibkan penggunaan masker, pada Kamis lalu, memerintahkan penggunaan masker, di daerah yang punya lebih lebih dari 20 kasus virus corona.

“Kita perlu fokus kembali memperlambat penyebarannya.”

 “Dalam beberapa minggu ini, terdapat peningkatan secara cepat dan substansial dalam kasus coronavirus,” kata Abbott dalam pesan rekaman video. “Kita perlu fokus kembali memperlambat penyebarannya. Namun kali ini, kami ingin melakukannya tanpa menutup Texas lagi.”

Texas melaporkan hampir 8.000 kasus baru pada hari Kamis.

Infeksi baru meningkat di 37 dari 50 negara bagian AS dalam 14 hari terakhir dibandingkan dengan dua minggu sebelumnya, menurut analisis Reuters. Amerika Serikat sekarang telah mencatat 128.706 kematian, hampir seperempat dari total global yang diketahui.

Kasus-kasus di Amerika tentu hanya sebagai dari kejadian di hampir seluruh negara. Kini korban COVID-19 di tingkat dunia telah mencapai angka hampir 11 juta dengan angka kematian lebih dari setengah juta jiwa. Beberapa negara memang mengabarkan ada perbaikan atau terjadinya penurunan angka korban. Namun hal tersebut masih belum dapat dikatakan sebagai tanda berakhirnya Pandemi di negara tersebut. Oleh karena beberapa negara yang telah melakukan pelonggaran dengan segera dijawab oleh pelonjakan kembali angka penularan. Kenyataan ini tentu perlu menjadi perhatian masyarakat dunia, tidak hanya pemerintah. Karena usaha mengatasi Pandemi Global tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi harus melibatkan seluruh warga dunia. (Reuters/njd)

(Visited 36 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 3 Juli 2020
Close