Dwi Kuswantoro: Berkah Pandemi, UMKM Dapat Akuisisi Pasar

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Bermodalkan kolektivitas dan solidaritas, terjadi perubahan perilaku merumuskan penyelesaian masalah.

Pandemi Covid-19 telah memukul sektor ekonomi yang terlihat dari banyaknya usaha-usaha yang tutup. Tidak hanya usaha besar, kalangan UMKM dan petani pun terpuruk. Namun, Covid-19 juga memberikan peluang usaha kecil menciptakan pasar sendiri berbasis digital.

Demikian disampaikan Dwi Kuswantoro, SE., M.EK, Direktur Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK), Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PW Muhammadiyah DIY, Pegiat Jogja Tetulung, dalam diskusi Obrolan Ringan Yayasan Abbdurrahman Baswedan, Sabtu, 4 Juli 2020, sore melalui aplikasi meeting online Zoom.

Lebih lanjut, Dwi mengatakan bahwa dampak ekonomi yang diakibatkan Covid-19 sangat unik. Berbeda dengan krisis ekonomi 1998 atau terpuruknya ekonomi akibat bencana alam yang hanya menghantam pengusaha besar dan bersifat lokal. Covid-19 menghantam seluruh tingkatan usaha, mulai besar hingga kecil serta berdampak di seluruh wilayah.

“Melihat ekonomi yang mulai tidak bergerak tersebut terutama di kalangan usaha kecil menengah serta petani, kami menginisiasi Jogja Tetulung. Karena masalah ini harus ditanggulangi dengan kerja besar, kerja kolektif dan semua harus bergerak. Apalagi sampai hari ini kita belum melihat upaya pemerintah dalam sektor ekonomi,” ujar Dwi.

Perbaikan ekonomi, terutama untuk kalangan UMKM ini butuh kerja kolektif, oleh sebab itu filosofi dasar Jogja Tetulung adalah solidaritas. Melalui gerakan gotong royong. Jogja Tetulung membantu UMKM yang ingin memasarkan produknya melalui media sosial.

Berbagai cerita unik memperlihatkan solidaritas warga dalm membantu UMKM terjadi. “Ada cerita unik, di Jogja Tetulung, ada soal nila merah yang harga jatuh, setelah didrive omset naik hingga 300 persen,” ujar Dwi.

Hal itu terjadi karena banyak ibu-ibu yang membeli ikan hingga Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Bukan untuk dikonsumsi sendiri, tetapi dibagi-bagi ke tetanngga. Membeli ikan tersebut dengan niat membantu petani.

“Ada juga ibu-ibu yang mau membeli cabe merah sebanyak 50 Kg tapi minta diantar ke Solo, tetapi tidak bisa kami sanggupi karena alasan transportasi. Tapi besoknya telpon lagi mau beli satu ton. Setelah itu kami tanya, jadi ibu itu beli cabe dengan mengorganisir teman-temannya. Jadi tetangga, teman ditawari cabe, hingga terkumpul totalnya satu ton,” jelas Dwi Kuswantoro.

Melihat pengalaman tersebut, lanjut Dwi, sesungguhnya usaha kecil saat ini sudah melakukan transformasi. Bermodalkan kolektivitas dan solidaritas, terjadi perubahan perilaku merumuskan penyelesaian masalah.

“Covid-19 ini masalahnya pada pasar, jadi Jogja Tetulung yang digarap adalah pasarnya. Berkahnya dulu UMKM menjual produknya melalui pasar orang lain, tetapi sekarang mengakuisisi pasar dengan menciptakan pasarnya sendiri melalui media digital,” jelas Dwi Kuswantoro.

Apabila hal ini bisa bertahan setelah pandemi berlangsung, maka UMKM bisa memotong rantai distribusi yang dulu sangat panjang. “Akibatnya akan ada efesiensi yang luar biasa,” tandas Dwi.

Selain Dwi, hadir pula sebagai pembicara Sapardiyono, S.Hut., M.H, anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) DIY, yang juga Owner Coklat Makaryo. Dharma Setyawan, MA, Dosen Fakultas Eknomi dan Bisnis Islam, IAIN Metro Lampung dan Penggerak Payungi. Dengan host Dr. Untoro Hariadi, M.Si, Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra.

Obrolan Ringan dengan tema Ekonomi Berbagi Berbasis Digital, dapat disimak dalam video di channel Youtube Yayasan Abdurrahman Baswedan di bawah ini:

Erik T.

Erik T.

Terbaru

Ikuti