Emak-emak dan Covid-19

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Komunikasi pagi itu berjalan sangat menakutkan dan agak mengerikan!!. Secara, emak-emak yang semestinya duduk di dapur memasak, koq tiba-tiba diajak berfikir tentang tatanan sosial.

Pagi tadi saya membaca beberapa status teman-teman. Akhir-akhir ini memang saya senang membaca status yang berkaitan dengan Corona, khususnya status yang lucu dan agak-agak alay..: .. peace .. Selain status tulisan dan berbagai meme, saya juga suka membaca informasi tentang Covid-19 melalui WAG. Walau kadang banyak juga sih tulisan yang tidak masuk akal. Bahkan link-link youtube yang sudah jelas-jelas tidak valid namun viewers dan subscribernya banyak sampai ribuan, haduhh capek dehh …. Tapi sekali lagi, ini asumsi awal dari keterbatasan pengetahuan saya. Namanya juga emak-emak. Mungkin bisa jadi bukan nitizen sungguhan tapi hasil pecarian nitizen kamuflase.

Namun, pagi tadi ada status yang menggelitik. Katanya sih, “Corona ini tidak lama lagi akan meluluhlantahkan tatanan sosial” sambil diikuti beberapa mutikom orang melet pakai kaca mata hitam. Entah apa itu maknanya. Saya hanya tersenyum karena tidak tahu apa hubungan dari keduanya. Selain itu memang saya juga tidak terlalu tahu apa makna-makna yang diberikan dari berbagai muticom dalam berbagai media sosial. Namun, dari statemen itu, rasa penasaran mulai menggelayut di pikiran saya. Tak lama kemudian, akhirnya saya pun menjaprinya dan langsung menanyakan maksud dari status tersebut. Tak lama beberapa notifikasi pesan balasan dari teman saya itupun masuk. Padahal saya hanya menjaprinya dengan satu tanda tanya kecil. Kecil sekali. Bahkan saya sempat me-reduce size dengan ukuran paling kecil. Tanda bahwa pesan saya itu tidaklah serius. Teman saya itu malah membalas dengan tulisan panjang kali lebar dari berbagai aspek. Ada agama, sosial, ekonomi, politik. Bahkan tidak hanya argumennya saja iapun melengkapi dengan beberapa link jurnal bereputasi. Padahal ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan publikasi. Lagi-lagi, saya hanya membalas dengan satu emotikon kecil kepala melet dengan mata terbuka lebar. Menandakan bahwa saya tidak mampu memahami apa yang dimaksud dengan baik.

Pola Komunikasi

Saya meninggalkan komunikasi itu begitu saja. Tindakan saya ini mungkin contoh bentuk komunikasi yang tidak baik dan tidak sopan. Membuka komunikasi, tidak menutup dengan baik, malah meninggalkan begitu saja. Namun beberapa hari kemudian saya menjapri teman saya dan meminta maaf. Saya memberi tanda bahwa saya siap untuk berdiskusi. Komunikasi pagi itu berjalan sangat menakutkan dan agak mengerikan!!. Secara, emak-emak yang semestinya duduk di dapur memasak, koq tiba-tiba diajak berfikir tentang tatanan sosial. Lagi-lagi saya meninggalkan komunikasi itu begitu saja. Dalam hati saya berpikir bahwa dia too much talk. Padahal dalam hati kecil, apa yang dia sampaikan ada kemungkinan betul walau hanya 0,0000%. Berbagai kekhawatiran yang tidak masuk akal memang mulai datang. “Pemusnahan massal, pengurangan populasi, bumi sudah tidak cukup kuat menerima kita, proyek-proyek sosialis, ekspansi revolusi digital!” Wait, Wait … ini istilah-istilah yang cukup berat. Tidak murni muncul dari pikiran saya. Hanya kebetulan kemarin sempat buka Youtube yang membahas isu itu.

Pada dasarnya apa yang kita lihat dan kita baca akan memberi dampat baik langsung dan tidak langsung dan sadar atau tidak dasar dalam pikiran kita. Karena saya beberapa saat rutin membuka Youtube dan mengikuti channel berita dan diskusi-diskusi sosial akhirnya tanpa saya sadari saya ikut-ikut latah menggunakan istilah-istilah berat tersebut. Baiklah, saya terlalu jauh melangkah. Harus kembali ke jalan yang lurus. Ampuni hamba ….

Jadi gini, apa sih yang dimaksud dengan “Pola Komunikasi” itu? (Model tulisan alay, sudah miring dikasih tanda petik pula. Jangan ditiru ini model penulisan yang salah). Kalau kata Pak Pareno di bukunya yang terbit tahun 2002 tepatnya di halaman 22, pola komunikasi ini dapat diartikan sebagai deskripsi ideal mengenai apa yang dibutuhkan untuk komunikasi. Masih abstrak ya dengan kata ideal di sana? Coba saya kutip lagi beberapa konsep kumunikasi yang sudah ditawarkan oleh para ahli. Pak Harold Dwight Lasswell (HDL), salah satu inovator kreatif ilmu sosial di abad ke-20 memberi penjelasan tentang teori komunikasi yang meliputi Who (says), What (to), Whom (in), What Channel (with), dan What Effect (apa dampaknya). Menurut saya gagasan Bapak ilmu politik dan metodologis ini dapat membantu pemahaman kita. Seperti tulisan-tulisannya tentang kepribadian, struktur sosial, budaya dalam fenomena politik, dan berbagai pendekatan metodologis yang telah menjadi standar di berbagai tradisi intelektual misalnya teknik wawancara, analisis isi, para-eksperimental teknik, dan pengukuran statistik, teori komunikasi dapat dijelaskan dengan baik dan runtut oleh beliau. Model Komunikasi yang ditawarkan oleh PakHDL adalah model komunikasi 5W.

Kembali pada model komunikasi antara saya dan teman saya tadi. Komunikasi antar personal atau interpersonal yang terjadi antar komunikator dengan komunikan secara langsung melalui media sosial whatsapp tidak berjalan dengan baik. Padahal sebenarnya, model komunikasi inter personal ini sebenarnya cukup efektif untuk menyampaikan pesan dengan catatan komunikator serius. Sayangnya pesan yang sarat nilai dan didukung dengan berbagai data tersebut tidak disambut baik oleh receiver sehingga pesan yang sudah disajikan dengan baik tidak menghasilkan output yang berarti. Pesan yang sudah dilancarkan dengan sempurna tadi tidak memperoleh feedback karena salah satu komunikator tidak mematuhi sarat dalam komunikasi. Alias tidak serius.

Dari Komunikasi Menuju Tatanan Sosial Masyarakat

Saya mulai mencermati statemen tentang alur dan kronologi bagaimana tatanan sosial yang sudah bagus dan yang akhirnya akan mulai porak-poranda. Teman saya yang berada di seberang mengatakan bahwa “Nah, pendemik Covid ini juga sangat tepat jika dijadikan contoh”. Saya tidak merespon karena asumsi ini tertalu berlebihan. Namun, dia mencoba meyakinkan lagi, “Cobalah kita tengok, ketidakseimbangan yang mulai terjadi di lingkungan terdekat kita”. Dia mencoba meyakinkan saya. “Saat ini kita santai dengan stay at home, work from home, silaturuuhmi from home, buying all the things from home. Asal ada internet semua bisa dapat dilakukan. Namun, tidakkah kita sadari dampak masa depan tatanan sosial kita?” Saya mulai serius membaca chat ini. Saya juga mulai berfikir dampak social awareness yang kelak akan dimiliki oleh generasi setelah kita. Saya mulai memikirkan baik-baik apa yang disampaikan oleh teman saya ini.

Beberapa penjual wedang ronde dan jagung rebus yang biasanya mangkal di pinggir terminal kota Jogja akhirnya mulai kena getah dari virus ini. Tiga malam berturut-turut tak satupun pembeli yang singgah. Karena tidak laku, akhirnya pulang dengan hampa karena dagangan masih utuh. Begitu juga dengan beberapa penjual lainnya. Beberapa minggu lalu saya juga tidak sengaja mendengar simbok-simbok yang biasanya jualan mainan dari lidi dan lontar di sekitar Malioboro. Dangannya tidak laku karena tempat-tempat umum yang biasanya dipakai mangkal akhirnya tutup dengan waktu yang tidak tahu kapan akan berakhir. Simbok itupun mulai tertawa sendiri sambil sesekali menoleh ke seseorang di sebelahnya. Katanya sambil saya nguping saat mereka berbincang “Iki, jare putuku, musime pemusnahan massal wong cilik yho yu?. Seng ora iso internetan berarti ra iso opo-opo. Mulo kene mesti iso belajar nganggo hape seng ono internet.” Simbok itu tidak memperoleh respon yang serius dari mitra wicaranya, namun hanya senyum datar. “ Terus njhur piye yu?” “Kene kudu piye jal?”

Setelah saya selesai berbelanja berbagai sembako untuk persediaan selama wfh, saya berpikir di sepanjang jalan tentang kata pemusnah itu. Apa mungkin pendemik ini memang bagian dari rencana besar dunia untuk mengurangi keseimbangan populasi penduduk. Ah, terlalu jauh saya berpikir. Saya meluruskan pikiran saya bahwa pandemik corona ini memang wabah yang memang di datangkan untuk menguji umat secara global. Barang siapa yang bersabar dalam ujian ini maka dia akan mendapat pahala. Jadi tidak perlu mewarnai pikiran kita dengan hal-hal yang negatif agar tiadk menjadikan kondisi semaking keruh.

Saya buka lagi beberapa WAG yang paling aktif memposting kabar tentang Covid-19. Group keagamaan sering sekali mengupload berita penanganan masalah ini dari sisi agama. Pro-kontra tentu saja selalu mengalir deras dalam group ini. Tidak perlu takut dengan Covid-19, semua itu sudah ada garisnya mau tidak keluar sampai setahun jika yang di atas mau ngambil nyawa kita, toh kita mau apa. Lain lagi group yang ada teman-teman filsafat dan teman-teman pemikir sosialis. Banyak hal-hal yan sebelumnya kita tidak fikirkan mulai muncul di group ini. Termasuk kecurigaan akan pelenyapan tatanan sosial yang sudah baik ini. Teman-teman dalam group ini mulai mengajak kita untuk berpikir berbagai kecurigaan yang muncul karena pendemik ini. Tentu dengan berbagai solusi konstruktif yang ditawarkan.

Dalam berbagai kelompok WAG, saya lebih memilih menjadi silent readers, karena sebenarnya saya sendiri juga bingung. Menurut saya semua berita itu bisa jadi betul bisa jadi salah. Bisa jadi 50% betul dan sisanya tidak. Namun beberapa postingan terhadap realitas sosial kaum bawah memang benar. Masyarakat non-digital yang tidak tahu dunia digital secara langsung terkena dampak pandemi ini. Munculnya berbagai ketimpangan sosial sudah sangat nyata di sekitar kita. Para penjual tradisional mulai tersingkir dan gulung tikar. Para karyawan batik sudah hampir 2 bulan tidak bekerja karena batik tidak dapat didistribusikan secara normal. Semua pertokoan tutup total. Tidak ada transaksi ekonomi dalam 2 bulan terakhir ini. Ini lebih dari kepincangan ekonomi bagi para pengusaha kelas menengah. Syukurlah, pemerintah mulai waspada dengan kondisi ini sehingga mulai mengeluarkan beberapa kebijkan baru yang diperkirakan cukup solutif seperti new normal yang saat ini sedang viral di berbagai media sosial. Semoga kebijakan ini dapat meredam permasalahan sosial yang tengah terjadi saat ini.

Wiwiek Afifah Ardi

Wiwiek Afifah Ardi

Sedang menyelesaikan tugas akhir di Program Studi Ilmu Pendidikan Bahasa Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

Terbaru

Ikuti