Ditulis oleh 11:18 am KABAR

Empat Agenda Strategis Umat Islam Menurut Shoimah Kastolani Ketua PP’Aisyiyah

Agenda umat muslim kita harus kuat, dengan memiliki positioning yang baik. Kedua harus mandiri. Umat Islam besar namun belum menguasai sektor-sektor ekonomi yang strategis. Kita masih ada di bawah.

“Kita itu macan besar, banyak peluang namun juga ada tantangan. Tantangan itu harus menjadi peluang bagi kita, sehingga dapat menjadi besar,” ujar Shoimah Kastolani Ketua PP ‘Aisyiyah.

Hal tersebut ia sampaikan dalam diskusi buku rutin Yayasan Abdurrahman Baswedan pekan ini yang mengangkat buku dengan judul Agenda Strategis Umat Islam Membangun Indonesia Maju, Adil, Makmur, Berdaulat dan Bermartabat, yang ditulis M. Din Syamsuddin Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat, Jum’at, 6 Maret 2020, di Sekretariat yayasan, Perumahan Timoho Asri IV, Muja Muju, Yogyakarta.

Oleh karena itu, lanjut Shoimah, orang Islam harus menjadi diri sendiri dan memperkuat positioning-nya. Untuk itu, satu-satunya cara adalah dengan bersatu. “Jika dikatakan bahwa umat Islam ini merupakan umat yang akan menebar rahmatan-lil-alamin, apa itu yakni kelembutan yang akan mendorong kepada kebaikan yang nyata dirasakan umat. Oleh karena itu, dakwah yang paling baik adalah dakwah yang langsung dapat dirasakannya oleh umat,” jelas Shoimah. 

Untuk menuju Indonesia berkemajuan, yakni Indonesia yang adirl, makmur, berdaulat dan bermartabat, maka harus memiliki spiritual yang kental bahwa kita ini satu, walau ada beberapa aliran. Di sisi lain, umat Islam juga harus cerdas dan berilmu. Mandiri dan mempunyai etos kerja yang tinggi.

Agenda umat muslim kita harus kuat, dengan memiliki positioning yang baik. Kedua harus mandiri. Umat Islam besar namun belum menguasai sektor-sektor ekonomi yang strategis. Kita masih ada di bawah. Sektor ekonomi harus dikuasai, misalnya dengan memperkuat UMKM, serta aktif melakukan pemberdayaan masyarakat. 

Agenda ketiga, perlunya transformasi kebudayaan membangun insan pembelajar. Pendidikan tidak cukup dengan pengetahuan, tetapi juga moral dan spiritual. Serta yang penting pula pengetahuan nilai sosial, agar anak-anak memiliki rasa toleran, tidak memperuncing perbedaan. “Anak itu harus dididik menjadi orang yang cerdas, berilmu, gemar membaca sehingga menjadi orang yang kritis dan kreatif,” ujar Shoimah yang pernah menjadi guru di lingkungan sekolah Muhammadiyah selama 30 tahun lebih.

Keempat, umat Islam membutuhkan pimpinan yang profetik. Pemimpin yang tidak menghamba pada manusia, tidak hanya mementingkan kelompok apalagi kepentingannya sendiri. Namun membawa ghiroh islam yang benar. Oleh karena ada kriteria pemimpin, yakni pertama religius. Kedua, punya visi dan karakter kuat. Ketiga, berani mengambil keputusan yang tegas, jangan sampai melempar masalah kepada pihak lain. “Kempat bersih dan wibawa. Walau bagaimana pun juga, pimpinan itu akan kita tokohkan, maka harus memiliki kewibawaan. Kewibawaan bukan karena jabatannya tetapi karena bersih,”

Hanya saja, lanjut Shoimah, kriteria ini juga harus diawali juga dari diri kita sendiri. Jika kita ingin mengajak orang lain, maka kita harus mulai dari diri kita sendiri.  

Selain Shoimah Kastolani, hadir juga sebagai pembicara dalam diskusi ini Drs. Muhammad Jamaluddin Ahmad, Wakil Rektor II universitas Cokroaminoto Yogyakarta dan Laili Isna, S.Pd.I Alumni Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sunan Kalijaga. 

(Visited 75 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 13 Maret 2020
Close