Evaluasi Pembelajaran

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kita boleh menaruh perhatian khusus, yakni berlangsungnya suatu "tradisi" dimana hasil evaluasi menjadi semacam indikator dalam pencapaian sosial.

Apakah suatu proses pembelajaran merupakan perjalanan untuk mencapai pada satu titik, atau suatu proses mencapai kemandirian diri, sehingga setiap peserta didik dapat memperoleh kemampuan untuk mengubah potensi dirinya menjadi hal aktual yang dapat membantu dirinya, baik untuk menyelesaikan masalah pribadinya atau pun masalah orang lain.

Pertanyaan dasar ini, barangkali sudah saatnya menjadi bahan kajian atau renungan bersama. Bukan hanya insan pendidikan, melainkan juga seluruh masyarakat, terutama keluarga-keluarga yang mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah. Keluarga secara khusus perlu membuat renungan untuk menjawab pertanyaan apa sebenarnya yang diharapkan dari bangku sekolah.

Mengapa pertanyaan ini perlu diajukan? Oleh karena jawaban tersebut akan ikut memberi pengaruh pada proses belajar mengajar dan khususnya pada sistem evaluasi yang dikembangkan. Masyarakat luas sudah saatnya juga mengerti apa sebenarnya yang diselenggarakan dalam proses evaluasi. Apa yang dievaluasi? Apakah kemampuan peserta didik memahami apa yang diajarkan? Apakah yang dievaluasi adalah keseluruhan proses pembelajaran atau apa?

Kalau peserta didik mendapatkan nilai rendah, apa artinya? Apakah semata-mata merupakan cermin dari kemampuan peserta didik? Apa itu yang dimaksud kemampuan peserta didik? Mengapa ketika hasil evaluasi tersebut diketahui oleh orang lain, akan punya akibat psikologis pada peserta didik, seperti dianggap bodoh dan lainnya.

Hal yang terakhir ini memiliki dampak yang sangat serius. Kita boleh menaruh perhatian khusus, yakni berlangsungnya suatu “tradisi” dimana hasil evaluasi menjadi semacam indikator dalam pencapaian sosial.

Hal inilah yang mungkin ikut bertanggungjawab pada terjadinya peristiwa contek-mencontek dan berbagai perilaku menyimpang lainnya. Para peserta pendidikan akan berusaha mendapatkan nilai tertinggi dalam proses evaluasi. Hal tersebut dilakukan bukan untuk menguji tingkat pemahaman atau untuk mengetahui seberapa besar pengetahuan yang telah diserap, melainkan untuk keperluan lain yang sama sekali tidak terkait dengan proses belajar mengajar, yakni status sosial.

Hal ini pula yang mungkin ikut bertanggungjawab mengapa orang tua harus mendatangkan berbagai bentuk intervensi, yang ujungnya bukan meningkatnya pengetahuan atau kemampuan peserta didik, melainkan kemampuan dalam menjawab pertanyaan evaluasi, sehingga nilai yang dicapai ada di atas rata-rata.

Pada tulisan terdahulu telah disebutkan betapa erat kaitan antara kultur yang berkembang di masyarakat dan proses pembelajaran di kelas. Jika orientasi di masyarakat lebih kepada pencapaian “nilai” dalam suatu proses evakuasi, maka akan sulit diharapkan di kelas akan berlangsung proses pembelajaran yang substansial.

Situasi di luar kelas tentu akan juga mempengaruhi para siswa dan hubungan mereka dengan para pendidik. Para pendidik pun demikian. Mereka juga akan mengalami tekanan sosial, karena sekolah dengan nilai siswa yang dikatakan buruk, akan dianggap sebagai sekolah yang buruk. Penilaian tersebut akan membawa pengaruh pada penerimaan siswa pada tahun selanjutnya.

Siklus inilah yang menjadi tantangan bagi sekolah dan pada seluruh sistem pembelajaran di sekolah. Jika kita ingin mendapatkan sistem pembelajaran ideal, rasanya masalah sistem evaluasi perlu menjadi perhatian, bukan hanya menjadi perhatian sekolah, tapi juga masyarakat dan seluruh elemen yang ada, termasuk para pembuat kebijakan.

Syamsudin, S Pd., MA

Syamsudin, S Pd., MA

Ketua Pusat Studi Pendidikan IKA UNY. Dosen UP45 Yogyakarta.

Terbaru

Ikuti