Ditulis oleh 5:36 am KALAM

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebudayaan dan Berdampak Terhadap Ekologi Manusia (Bagian Ke-1)

Oleh: Prof. Dr. Bambang Subali, M.S
(Jurdik Biologi FMIPA UNY)

Budaya adalah semua hasil reka daya/akal budi manusia sehingga budaya merupakan kultur yang spesifik yang dimiliki oleh kelompok orang/suku pada suatu daerah maupun oleh suatu bangsa. Budaya berkembang sejalan dengan daya nalar dan karakter manusia. Dalam ekologi manusia budaya merupakan faktor yang tidak dapat dipisahkan dari kelompok/suku/bangsa yang ada di tempat di mana mereka tinggal sebagai habitatnya. Dengan akalnya relung ekologi manusia dapat amat jauh berada di luar habitatnya. Beberapa factor yang mempengaruhi budaya dan akhirnya berpengaruh kepada ekologi manusia yang perlu ditambahkan dalam kajian buku Ekologi Manusia karangan Prof. Oekan S. Abdoellah, Ph.D, antara lain:

I. Kompetensi manausia (diambil dari tulisan saya pada masukan draf Arah Kompetensi 1945, BSNP, November 2019)

A. Kompetensi Dasar (Basic competence)
Kompetensi dasar merupakan kompetensi mendasar yang dimiliki oleh seorang manusia untuk menopang kehidupannya. Kompetensi dasar akan berkembang melalui usaha dan proses belajar, yakni belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar untuk mengerjakan (learning to do), belajar untuk menjadi diri sendiri (learning to be), dan untuk hidup bersama (learning to live together). Untuk dapat belajar, maka seseorang harus menguasai ilmu pengetahuan dan memiliki kepasrahan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk dapat menguasainya. Oleh karena itu, diperlukan tiga kompetensi untuk mendukung kompetensi dasar yakni kompetensi spiritual, kompetensi ilmu pengetahuan, dan kompetensi belajar untuk belajar.

1. Kompetensi Spiritual
Bagi masyarakat/bangsa yang religious, kompetensi spiritual adalah kemampuan untuk melakukan atau mendemonstrasikan sesuatu yang bukan hanya mengandalkan usaha diri, namun juga mengandalkan kepada kekuasaan dan berdasarkan nilai-nilai Ketuhanan Tuhan Yang Maha Kuasa yang diekspresikan antara lain dengan:

  1. Menerima,menjalankan,danmenghargaiajaranagamayangdianutnya,padasaatyang sama mampu menghomati, menerima dan menghargai keberagaman sebagai warga bangsa serta bersedia bekerjasama dengan pemeluk agama yang lain.
  2. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dengan mengakui persamaan derajat, persamaan kewajiban dan hak asasi manusia, bersedia menghormati, dan menghargai keberhasilan orang lain, serta jujur, sabar, kerja keras, tenggang rasa, dan pemaaf.
  3. Menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan serta cinta bangsa dan tanah air, sehingga senang bergotong royong dan suka tolong-menolong orang lain, bekerjasama, bernegosiasi, komunikatif, berperan aktif di masyarakat.
  4. Menghargai hak, kedudukan, dan kewajiban serta menjunjung tinggi martabat, nilai- nilai kebenaran, mampu mengambil keputusan bersama dengan penuh pertimbangan yang didasarkan pada nilai moral yang dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, serta mampu mendahulukan kepentingan kemajuan bangsa yang berkeadilan di atas kepentingan pribadi atau golongan tanpa melepaskan diri dari kepentingan sebagai warga dunia.

2. Kompetensi Berbasis Literasi Ilmu Pengetahuan
Kompetensi berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS) dalam abad 21 tidak lepas dari literasi data dan STEM. STEM merupakan integrasi dari berbagai disiplin ilmu (interdisiplin) yang menggabungkan Science, Technology, Engineering, dan Mathematics. STEM berkembang dengan berbagai akronim antara lain STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics), e-STEM (Environment, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics), STEMIE (Science, Technology, Engineering, Mathematics, Invention and Entrepreneurship), STEMAL (Science, Technology, Engineering, Mathematics, Art, Language), dll. Pada konteks ini terfokus pada STEMAL. Literasi data menyangkut kemampuan individu dan warga bangsa untuk membaca, menganalisis, dan menggunakan informasi (big data) di dunia digital. Karena itu, literasi STEM-AL menyangkut hal-hal antara lain:

  1. Literasi sains (science) melalui penemuan fakta, konsep, prinsip, teori, dan prosedur baru dalam bidang sains baik dalam sains alami (natural science) maupun sains sosial (social science).
  2. Literasi teknologi (technology) melalui kemampuan memahami, mengembangkan, menggunakan, mengatur, dan menilai inovasi bidang teknologi yang dikembangkan guna menemukan terobosan baru yang kreatif dalam bentuk penemuan aplikasi pemrograman dan digital.
  3. Literasi engineering melalui kemampuan memahami, mengembangkan, menggunakan, mengatur, dan menilai cara kerja mesin guna menemukan terobosan baru yang kreatif sehingga sebagai individu dan warga bangsa dalam bidang engineering dapat tampil sejajar dengan bangsa-bangsa lain
  4. Literasi seni (art) melalui kemampuan mengapresiasi dan mengembangkan serta mengaktualisasi seni sebagai ciri khas, baik sebagai individu maupun sebagai bangsa, sehingga melahirkan kekhasan seni sebagai budaya bangsa.
  5. Literasi bahasa (language) melalui kemampuan menguasai bahasa internasional sebagai alat/sarana komunikasi global.

3. Kompetensi Belajar untuk Belajar
Kemampuan manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk berbudaya ditandai dengan semangat atau kemauan belajar untuk belajar agar kebutuhan dasar manusia sebagai manusia dapat terpenuhi. Dengan belajar untuk belajar mengetahui, belajar berbuat, belajar menjadi diri sendiri, dan belajar hidup bersama, maka eksistensi manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk berbudaya akan dapat diaktualisasikan. Belajar untuk mengetahui diperlukan untuk menguasai ilmu pengetahuan (knowledge), belajar berbuat diperlukan untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang didasari dengan sikap (attitude), belajar untuk menjadi diri sendiri dan belajar untuk hidup bersama diperlukan nilai-nilai (values) yang tidak dapat lepas dari keyakinannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Belajar untuk belajar tidak dapat lepas dari semangat belajar sepanjang hayat karena selama hidup manusia baik sebagai individu, warga bangsa, dan warga dunia akan selalu berhadapan dengan berbagai permasalahan akibat adanya ketidakpastian (uncertainty). Belajar untuk belajar juga belajar kapan saja, di mana saja, dengan siapa saja, dan pada situasi yang apa saja. Belajar untuk belajar juga dapat belajar dari sesama manusia dan belajar dari alam semesta.

Bersambung Ke Bagian Kedua


Disampaikan dalam Diskusi Buku dengan judul Ekologi Manusia dan Pembangunan Berkelanjutan, Jum’at, 17 Januari 2020 di Yayasan Abdurrahman Baswedan.

(Visited 3.273 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 3 Februari 2020
Close