Ditulis oleh 6:06 am KALAM

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebudayaan dan Berdampak Terhadap Ekologi Manusia (Bagian Ke-2)

Oleh: Prof. Dr. Bambang Subali, M.S
(Jurdik Biologi FMIPA UNY)

B. Kompetensi Terintegrasi (Integrated Competence)

Kompetensi dasar oleh setiap individu atau sebagai warga bangsa akan dipadukan/diintegrasikan sebagai kompetensi yang membentuk suatu kesatuan (unity) yang melibatkan domain kognitif, domain afektif, domain sensorimotor, dan domain sosial yang ada dalam diri seseorang. Kompetensi yang terintegrasi tersebut diperlukan untuk mendukung 1) kompetensi untuk hidup (kompetensi biologis), 2) kompetensi untuk kehidupan (kompetensi sosial- budaya), dan 3) kompetensi untuk penghidupan baik untuk penghidupan di dunia maupun untuk penghidupan di akhirat.

1. Kompetensi untuk Hidup

Kompetensi untuk hidup merupakan kemampuan manusia untuk bisa melangsungkan kehidupannya di dunia. Kemampuan tersebut berupa kemampuan untuk memenuhi kesejahteraan/kecukupan kebutuhan fisiologis (physiological needs), kebutuhan rasa aman dan keselamatan (safety and security needs), serta kebutuhan psikis atau kebahagiaan (psychological needs).

a. Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs)
Kebutuhan ini berhubungan dengan fisik tubuh manusia. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka seseorang tidak dapat bertahan untuk dapat hidup dengan baik. Kebutuhan fisiologis meliputi:

  1. Kebutuhan untuk mendukung proses metabolisme dan proses tumbuh kembangnya sel, jaringan, organ dan sistem organ penyusun tubuh manusia supaya berlangsung secara baik dan terbebas dari ancaman stunting, misalnya: oksigenasi, cairan, dan nutrisi.
  2. Kebutuhan eleminasi yakni kebutuhan yang berhubungan dengan proses pengeluaran zat-zat sisa makanan yang telah diproses oleh tubuh melalui eleminasi urin atau buang air kecil dan pengeluaran keringat dan eleminasi alvi atau buang air besar.
  3. Kebutuhan istirahat yakni kebutuhan yang dibutuhkan untuk merelaksasikan semua organ dan sistem organ tubuh yang sudah digunakan untuk beraktivitas seharian penuh agar terhindar tekanan secara emosional dan tubuh kembali bugar.
  4. Kebutuhan suhu lingkungan yang kondusif untuk beraktivitas secara optimal.
  5. Kebutuhan sandang dan papan tempat tinggal yakni kebetuhan terhadap pakaian penutup tubuh dan tempat untuk tinggal yang mampu memberikan perlindungan bagi diri seseorang.
  6. Kebutuhan bereproduksi, sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi karena pada dasarnya insting dan sifat dasar manusia adalah ingin mendapatkan keturunan. Dalam hal pemenuhan kebutuhan ini disesuaikan dengan umur, latar belakang seseorang, sosial budaya, etika dan nilai-nilai hidup, harga diri, dan tingkat kesejahteraan yang dimilikinya.

b. Kebutuhan Rasa Aman dan Keselamatan (Safety and Security Needs)
Kebutuhan selanjutnya adalah kebutuhan yang berhubungan dengan keselamatan dan keamanan manusia. Dalam hal ini kebutuhan akan keselamatan dan keamanan dibagi menjadi dua, yakni keselamatan fisik dan keselamatan fisiologis. Pertama, keselamatan fisik melibatkan situasi dimana mengurangi atau mengeluarkan ancaman yang ada dalam tubuh atau kehidupan kita. ancaman tersebut meliputi penyakit, kecelakaan, kerusakan lingkungan, bencana, dan lain sebagainya. Kedua, keselamatan fisiologis berhubungan dengan keadaan psikis seseorang. Keadaan psikis tidak kalah pentingnya dengan keadaan fisik, jika psikis kita merasa terkena ancaman maka aktivitas sehari-hari akan terganggu.

c. Kebutuhan Psikologis (Psychological Needs)
Kebutuhan psikologis merupakan kebutuhan yang berkenaan dengan jiwa yang terpenuhi dalam hal rasa tenang, nyaman, dan terbebas dari tekanan, sehingga memiliki mental yang sehat dan hidup bahagia. Karena itu, kebutuhan psikologis ditopang kebutuhan fisiologis atau dengan kata lain di balik badan yang kuat terdapat mental yang sehat.

Kompetensi untuk hidup akan dimiliki seseorang jika terpemenuhi kebutuhannya baik berupa kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman dan keselamatan, serta kebutuhan psikologisnya. Semua itu tidak dapat terlepas dari integrasi kompetensi dasar. Dengan demikian, dalam memenuhi kompetensi untuk hidup, seseorang tetap berpegang teguh kepada kompetensi spiritual, kompetensi berbasis literasi ilmu pengetahuan, dan kompetensi belajar untuk belajar. Secara nyata seseorang harus menjaga lingkungan alam sekitar milik Tuhan Yang Maha Kuasa agar dapat lestari menyediakan kebutuhan fisiologis dengan menggunakan kompetensi yang berdasarkan literasi ilmu pengetahuan yang dikuasainya dan terus belajar untuk belajar memelihara lingkungan alam.

2. Kompetensi untuk Kehidupan
Kompetensi untuk kehidupan berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan untuk hidup bermasyarakat serta kehidupan berbangsa dan bernegara.

a. Kebutuhan untuk Hidup Bermasyarakat
Kebutuhan hidup bermasyarakat merupakan kebutuhan yang harus terpenuhi setiap manusia sebagai makhluk sosial yang religius. Supaya bisa memenuhi kebutuhan hidup bermasyarakat, maka seseorang harus mampu memahami perilaku keteraturan hidup sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat yang berpegang teguh kepada nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Untuk hidup di lingkungan masyarakat diperlukan pemahaman terhadap karakteristik dan budaya masyarakat yang religius. Kesadaran akan adanya keberagaman suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) menjadi modal untuk hidup bermasyarakat.

b. Kebutuhan untuk Hidup Berbangsa dan Bernegara
Hidup berbangsa dan bernegara memerlukan modal utama berupa kejujuran. Dengan kejujuran maka akan terhindar dari bujuk rayu untuk bertindak tidak adil atau merugikan orang lain. Bagi bangsa Indonesia, Pancasila dasar Negara yang merupakan rujukan bagi setiap warga negarab untuk hidup berbangsa dan bernegara dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan berpegang teguh terhadap sila-sila dalam Pancasila diharapkan bangsa Indonesia akan mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang berbeda ideologi.

3. Kompetensi untuk Penghidupan

Kompetensi untuk penghidupan berupa kapasitas diri untuk memiliki keahlian dalam memenuhi kebutuhan untuk penghidupan (livelihood) yang didasarkan pada nilai spiritual, literasi berdasarkan ilmu pengetahuan yang mendukung kehidupannya dan kemampuan untuk terus belajar guna mengembangkan diri untuk penghidupannya dan penghidupan yang berkelanjutan (sustainable livelihood) baik sebagai diri maupun sebagai warga bangsa. Untuk mendukung penghidupan dan kehidupan yang berkelanjutan harus ditinjau dari aspek human capital, natural capital, dan finansial capital.

a. Kompetensi Human Capital
Kompetensi human capital, yaitu kemampuan berbasis modal intelektual religius baik dalam hal kemampuan menguasai pengetahuan, kemampuan bersikap dan dan kemampuan melakukan keterampilan. Kompetensi ini diperlukan untuk menemukan penemuan- penemuan inovatif yang kreatif, yang bersifat out of the box dalam upaya menghadapi ketidakpastian tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar kehidupan sebagai manusia yang religius. Human capital tidak dapat terlepas kemampuan individual, motivasi individual, kemampuan memimpin, kemampuan berorganisasi, dan kemampuan bekerja dalam kelompok dengan dasar berkehidupan yang religius.

b. Kompetensi Natural Capital
Kompetensi natural capital merupakan kemampuan untuk menguasasi dan memberdayakan sumber daya alam, meliputi geologi, tanah, air, udara, dan semua organisme yang ada di lingkungan. Dengan memiliki kompetensi natural capital, maka seseorang dapat memenuhi kebutuhan hidup dan penghidupan yang layak dan berkelanjutan dengan tetap menjaga kelestarian alam sebagai amanah dari Tuhan Semesta Alam. Dengan demikian, pemanfaatan sumber daya alam justru mendasarkan pada pengelolaan yang mendasarkan pada kebutuhan ekonomi dan kebutuhan kelestarian ekologis.

c. Kompetensi Financial Capital
Kompetensi financial capital merupakan kemampuan untuk menguasai sumber daya ekonomi yang diukur dalam bentuk uang yang digunakan untuk berbisnis, untuk memenuhi apa yang dibutuhkan, untuk menghasilkan produk yang dibutuhkan, untuk memberikan layanan/jasa keuangan bagi ritel, perusahaan, investasi perbankan dan lain-lain. Namun demikian, dalam menguasai sumber daya ekonomi tetap pada kerangka sistem ekonomi kerakyatan bukan sistem ekonomi hegonomi liberal kapitalistik.

Penguasaan kompetensi financial capital oleh seseorang, bangsa, atau negara akan mampu memenuhi kehidupan dan penghidupan yang berkelanjutan bagi bangsanya. Sejalan dengan Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia, maka poliltik ekonomi Indonesia diarahkan kepada penguasaan strategi pengembangan sistem ekonomi keraakyatan yang bertujuan untuk menyejahterakan semuruh rakyat Indonesia secara berkeadilan dan berkeadaban.

Bersambung Ke Bagian Ketiga


Disampaikan dalam Diskusi Buku dengan judul Ekologi Manusia dan Pembangunan Berkelanjutan, Jum’at, 17 Januari 2020 di Yayasan Abdurrahman Baswedan.

(Visited 4.003 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 3 Februari 2020
Close