Ditulis oleh 3:12 am KALAM

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebudayaan dan Berdampak Terhadap Ekologi Manusia (Bagian Ke-3 Terakhir)

Oleh: Prof. Dr. Bambang Subali, M.S
(Jurdik Biologi FMIPA UNY)

II. Revolusi industri (disarikan dari Mengenal Revolusi Industri dari 1.0 sampai 4.0 https://www.wartaekonomi.co.id/read226785/mengenal-revolusi-industri-dari-10- hingga40.html)

Kebudayaan tidak terlepas dari perkembangan ilmu dan teknologi. Perkembangan teknologi di dunia dikenal dengan istilah revolusi industry. Istilah Revolusi Industri merujuk pada perubahan yang terjadi pada manusia dalam melakukan prose produksinya. Pertama kali muncul di tahun 1750 an, ini lah yang biasa disebut Revolusi Industri 1.0.

Revolusi industri 1.0 (Mechanical production,equipment powered by steam and water) melahirkan sejarah ketika tenaga manusia dan hewan digantikan oleh kemunculan mesin bertenaga uap dan tenaga air. Salah satunya adalah kemunculan mesin uap pada abad ke-18. Revolusi ini dicatat oleh sejarah berhasil mengerek naik perekonomian secara dramatis di mana selama dua abad setelah Revolusi Industri terjadi peningkatan rata-rata pendapatan perkapita Negara-negara di dunia menjadi enam kali lipat.

Revolusi Industri 1.0 berlangsung periode antara tahun 1750-1850. Saat itu terjadi perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi serta memiliki dampak yang mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia. Bagaimana perbedaan ekologi manusia sebelum ada mesin dan sesudah ada kereta api tampak sangat nyata.

Revolusi Industri 2.0, juga dikenal sebagai Revolusi Teknologi adalah sebuah fase pesatnya industrialisasi di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Revolusi Industri 1.0 yang berakhir pertengahan tahun 1800-an, diselingi oleh perlambatan dalam penemuan makro sebelum Revolusi Industri 2.0 muncul tahun 1870. Meskipun sejumlah karakteristik kejadiannya dapat ditelusuri melalui inovasi di bidang manufaktur, seperti pembuatan alat mesin industri, pengembangan metode untuk pembuatan bagian suku cadang, dan penemuan Proses Bessemer untuk menghasilkan baja, Revolusi Industri 2.0 umumnya dimulai tahun 1870 hingga 1914, awal Perang Dunia I. Revolusi industri 2.0 (mass production assembly lines requiring labor and electrical energy) ditandai dengan kemunculan pembangkit tenaga listrik dan motor pembakaran dalam (combustion chamber). Penemuan ini memicu kemunculan pesawat telepon, mobil, pesawat terbang, dll yang mengubah wajah dunia secara signifikan.

Revolusi industri 3.0, yakni revolusi digital (automated production using electronic and IT). Kemunculan teknologi digital dan internet menandai dimualinya Revolusi Indusri 3.0. Proses revolusi industri ini kalau dikaji dari cara pandang sosiolog Inggris David Harvey sebagai proses pemampatan ruang dan waktu. Ruang dan waktu semakin terkompresi. Waktu dan ruang tidak lagi berjarak. Revolusi kedua dengan hadirnya mobil membuat waktu dan jarak makin dekat. Revolusi 3.0 menyatukan keduanya. Sebab itu, era digital sekarang mengusung sisi kekinian (real time).

Selain mengusung kekinian, revolusi industri 3.0 mengubah pola relasi dan komunikasi masyarakat kontemporer. Praktik bisnis pun mau tidak mau harus berubah agar tidak tertelan zaman. Namun, revolusi industri ketiga juga memiliki sisi yang layak diwaspadai. Teknologi otomatisasi membuat pabrik-pabrik dan mesin industri lebih memilih mesin ketimbang manusia. Apalagi mesin canggih memiliki kemampuan berproduksi lebih berlipat. Konsekuensinya, pengurangan tenaga kerja manusia tidak terelakkan. Selain itu, reproduksi pun mempunyai kekuatan luar biasa. Hanya dalam hitungan jam, banyak produk dihasilkan. Jauh sekali bila dilakukan oleh tenaga manusia.

Revolusi industri 4.0 (intelligent productionin corporeated with Intelligent o think (IoT), cloud technology, and big data) maka manusia telah menemukan inteligensi pola baru berupa mega teknologi dan data raksasa maka era disruptif teknologi (disruptive technology) hadir begitu cepat dan mengancam keberadaan perusahaan-perusahaan incumbent. Sejarah telah mencatat bahwa revolusi industri telah banyak menelan korban dengan matinya perusahaan-perusahaan raksasa.

Disebut era disruptif merupakan inovasi yang membantu menciptakan pasar baru, mengganggu atau merusak pasaryang sudah ada dan akhirnya menggantikan teknologi yang sudah ada. Inovasi disruptif mengembangkan suatu produk atau layanan dengan cara yang tak terduga oleh pasar, umumnya dengan menciptakan jenis konsumen baru sehingga menurunkan harga pada pasar yang lama.

Lebih dari itu, pada era industri generasi 4.0 ini, ukuran besar perusahaan tidak menjadi jaminan, namun kelincahan perusahaan menjadi kunci keberhasilan meraih prestasi dengan cepat. Hal ini ditunjukkan oleh Uber yang mengancam pemain-pemain besar pada industri transportasi di seluruh dunia atau AirBnB (layanan online yang menyediakan jasa sewa rumah atau apartemen/home stay) juga layanan travel yang mengancam pemain-pemain utama di industri jasa pariwisata yang selama ini dilayani dengan jaringan travel baik jasa transportasi dan hotelnya. Ini membuktikan bahwa yang cepat dapat memangsa yang lambat dan bukan yang besar memangsa yang kecil.

Kalau kita perhatikan tahap revolusi dari masa ke mas timbul akibat dari manusia yang terus mencari cara termudah untuk beraktifitas. Setiap tahap menimbulkan konsekuensi pergerakan yang semakim cepat. Perubahan adalah keniscayaan dalam kehidupan umat manusia

III. Kasus-kasus yang ada

a. Di daerah tengah kota maupun pinggiran sekarang sudah berkembang adanya home stay juga adanya konversi lahan pekarangan yang yang diubah menjadi rumah sewa atau kamar sewa. Sementara ada juga di daerah pinggiran kota yang sudah mengubah atau menjual sawahnya untuk membangun rumah sewa atau kamar sewa di tanah pekarangan. Hal ini dilakukan karena penghasilan dengan menyewakan rumah atau kamar jauh lebih besar hasilnya dibandingkan dengan mengolah lahan untuk pertanian sementara rumah sewa atau kamar sewa harganya juga semakin membaik jika dibandingkan tetap dalam bentuk lahan sawah.

b. Di daerah pedesaan lahan pekarangan juga semakin sempit karena umumnya sudah diwariskan ke anak-anaknya. Sebagai kaum muda rata-rata jika tidak mengolah lahan di pedesaan mereka lebih baik pergi sebagai tenaga kerja buruh di perkotaan. Akibatnya saat sekarang sangat sulit memperoleh tenaga untuk bekerja di sawah.

c. Di kawasan Klaten banyak para petani yang yang semula hanya bekerja sebagai petani kemudian juga bekerja sebagai penarik becak ketika tidak bekerja di sawah karena sawahnya sudah selesai ditanami dan belum memerlukan penanganan lanjut seperti menyiangi gulma atau ketika pagi belum siap panen. Namun demikian dengan berkembangnya Armada Go-jek di wilayah perkotaan maka kehidupan penarik becak juga menjadi terbatas operasionalnya.

d. Berbicara tenaga Armada Go-jek dan Go-car banyak di antara mereka yang berasal dari lulusan sarjana yang belum memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya. Akibat distruptif armada ini maka taksi argo menjadi kalah bersaing, kecuali taksi bandara yang sudah punya pangsa pasar tersendiri.

e. Di wilayah tertentu misalnya di Desa Kalialang Wonosobo Jawa Tengah banyak penduduk yang bekerja sebagai tenaga penderes getah pinus di Dinas Kehutanan dengan diupah sesuai banyaknya sadapan yang diperoleh, sekaligus diijinkan menanami lantai hutan dengan kopi, yang karena terjadi perusakan masal saat awal era reformasi dan kemudian karena tuntutan pasar maka tanaman bawah yang semula berupa kopi diganti dengan kapulogo (Rp.30rb/kg) dan bisa panen tiap 40 hari dengan panen raya 3x/th.

f. Di wilayah tertentu berkembang desa wisata dengan tanaman tertentu sebagai penghasil buah, dimana wisatawan dapat memetik buah bahkan dapat memperoleh informasi bagaimana untuk bercocok tanamnya. Ada buah naga dan salak (di Sleman dan Kulonprogo), belimbing dan jambu air (di Purwodadi), apel dan kurma (di Jatim).

g. Kawasan Gua juga dijadikan objek wisata seperti Gua Watugong, ada juga sebagai tempat produksi wallet secara alam seperti di gua Rongkop di daerah Gunungkidul juga gua-gua lain sampai kawasan Kebumen.

h. Wisata religius juga banyak berkembang dengan mobilitas yag relatif cukup tinggi sepanjang tahun sehingga memakmurkan daerah di mana tempat wisata religius berada.

i. Di daerah tertentu Dinas kehutanan menanam jkayu jati dengan memanfaatkan tenaga masyarakat setempat bahkan ada yang hidupnya selalu berada di kawasan hutan jati, seperti di Pati.

j. Di desa tertentu baik di Jawa maupun di Sumatra banyak anak-anak muda yang menjadi TKI di LN dan sangat menarik bagi anak-anak warga setempat untuk segera selesai sekolah SMP/SMA kemudian ikut pergi bersama TKI yang sudah terlebih dahulu bekerja di LN. Lain halnya jika TKI merupakan tenaga terampil yang menguasai hitech.

k. Nelayan Cilacap berada di pantai Depok menangkap ikan dengan perahu jingking bertenaga motor temple sementara armada kapal ikan asing menggunakan kapal besar.

l. Dalam skala nasional banyaknya bencana tanah longsor, banjir, kebakaran hutan, terus melanda Indoneia, meskipun Negara seperti Australia tidak terbebas dari kebakaran huta.

IV. Peran hukum
Kepastian hukum menata manusia masuk ke budaya hokum di mana setiap orang atau warga Negara sama kedudukannya di dalam hokum. Namun demikian, praktik-praktik penyimpangan terus terjadi sehingga berdampak pada ekosistem, seperti (a) reklamasi pantai, pembangunan kawasan pemukinman modern yang dipermasalahkan AMDAL dan perizinannya, (b) penggunaan alat transportasi yang kedaluwarsa surat Layak Operasinya, (c) pembangunan rumah di sempadan dan palung sungai, (d) penggunaan bom untuk penangkapan ikan, (e) penanganan kebakaran hutan (walau Australia sebagai negara maju juga langganan dalam hal kebakaran hutan), (f) penanganan illegal logging, (g) kontrol terhadap kegiatan penebangan hutan oleh Hak Pengelola Hutan akibat terlalu sedikitnya tenaga lapangan.

V. Peran Pendidikan
Pada masyarakat tradisional, manusia belajar dengan trial and error melalui pengalaman hidup, dan akhirnya dijadikan sesuatu yang agar tidak dilanggar maka dibuat larangan-larangan bahkan dihubungkan dengan keberadaan makhluk halus. Di era modern, mayarakat banyak belajar, namun kenyataannya dengan keterampilannya masyarakan mengekploitasi sumber daya alam sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan yang sangat masif. Sementara dalam ekologi tidak diajarkan pada seluruh program studi, padahal baik aspek IPOLEKSOSBUDHANKAM semuanya sebagai budaya sangat erat dan tidak terpisahkan dari ekosistemnya. Dengan penguasaan pasarnya, Singapura menjadi pemasok terbesar minyak ke Indonesia dan negara- negara lain, padahal Singapura bukan Negara penghasil minyak.

VI. Politik pemerintah
Pengambilan keputusan pemerintah dalam politik dan penegakan hukum menjadi kunci kualitas ekologi, seperti politik dalam mengelola hutan yang menjadi paru-paru dunia. Berapa banyak konversi hutan aklam menjadi perkebunan sawit? namunThe Guardian terbitan Inggris masih menilai Indonesia sebagai Negara yang paling mampu melakukan pencegahan deforestasi hutan tropis dibandingkan dengan Ghana,Pantai gading, Papua Nugini, Suriname, Liberia, dan Kolombia. Kebijakan penerintah berkait dengan otonomi daerah juga berdampak kepada kebijakan dalam pengelolaan kawasan hutan di mana semula ditangani oleh pusat kemudian ditangani oleh daerah. Indonesia sebagai negara pemilik hutan tropis terluas secara politik mestinya harus memiliki nilai tawar yang tinggi jika berbicara pelestarian hutan agar terjadi pelestarian paru- paru dunia. Ketika di kawasan subtropics dan kawasan kutub berada pada musin dingin maka produksi oksigen dunia terletak pada keberadaan hutan tropis.

Selesai


Disampaikan dalam Diskusi Buku dengan judul Ekologi Manusia dan Pembangunan Berkelanjutan, Jum’at, 17 Januari 2020 di Yayasan Abdurrahman Baswedan.

(Visited 2.730 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 3 Februari 2020
Close