Ditulis oleh 8:16 pm KALAM

Filantropi Dalam Islam dan Implementasinya Zaman Now

Filantropi Islam yang selama ini hanya berkutat dengan semangat berbagi dalam hal-hal yang konsumtif, terpaksa harus mencari inovasi baru agar tidak terjadi problematika sosial yang baru lagi.

Judul ini saya ambil dari judul diskusi online yang dilaksanakan oleh BAZNAS Kota Yogyakarta dan BAZNAS Daerah Istimewa Yogyakarta, bekerjasama dengan Yayasan Edukasi Waqaf Indonesia dan Bank CIMB Niaga Syariah.

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, filantropi berarti cinta kasih, kedermawanan dsb kepada sesama manusia. Filantropi merupakan suatu jalan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Dalam filantropi sesuatu tidak hanya dirasakan oleh sekelompok orang saja, akan tetapi juga dirasakan oleh masyarakat kebanyakan, terutama masyarakat kalangan menengah ke bawah.

Dalam Islam, filantropi merupakan suatu risalah yang diwujudkan dalam bentuk Zakat, Infaq, Sedekah dan Wakaf. Filantropi Islam yang berupa Zakat hukumnya wajib, sedangkan Infaq, Sedekah dan Wakaf bersifat sunnah.

Dalam Qur’an surah At Taubah (9) ayat 60 dan 103, Surat Al Baqoroh (2) ayat 177 dan 261, Surat Ali Imran (3) ayat 92, 133 dan 134, Surat Al Fathir (35) ayat 29 dan 30 menjelaskan tentang kedudukan filantropi dalam Islam khususnya zakat, infaq dan shodaqoh. Dalam ayat tersebut pengamalan Zakat Infaq Sedekah merupakan bukti dari keimanan dan ketaqwaan seorang hamba kepada Allah (Hablumminallah). Dan juga merupakan wujud cinta kasih sayang seorang hamba kepada sesama mahkluk (hablumminannas) yang membawa konsekwensi positif baik di dunia maupun di akhirat bagi yang mengamalkan.

Dalam Islam, filantropi merupakan Briging antara para agniya dengan kaum du’afa, agar supaya si agniya bisa mendermakan sebagian kecil hartanya kepada para du’afa yang dimotivasi oleh ajaran agama, dimana terdapat keyaqinan bahwa harta yang dikeluarkan tidak akan mengurangi harta yang dimiliki, bahkan akan bertambah dan bertambah serta mensucikan harta yang dimiliki (Q.S 9 : 103).

Karena harta bukan mutlak milik manusia, kepemilikan harta mutlak hanya pada Allah SWT. Dalam hal ini manusia dituntutuntuk membelanjakan hartanya sesuai dengan konsep Islam.

Problematika klasik masyarakat bangsa di berbagai belahan dunia saat ini adalah tingkat kemiskinan yang tiada pernah tuntas, bahkan sebaliknya kemiskinan kian hari kian meningkat baik jumlahnya, menyebar dari masyarakat industri perkotaan ke masyarakat pertanian desa. KebIjakan pemerintah telah banyak digulirkan untuk menanggulangi kemiskinan.

Lemahnya mental kewiraswastaan (enterprenurship) dalam skala usaha besar di kalangan masa pribumi kita berhadapan dengan sangat siapnya warga keturunan Cina memanfaatkan setiap momentum perdagangan skala kecil, menegah dan besar, baik nasional maupun internasional (tahun 1950-an maupun masa orde baru) sebagai hasil pengalaman berusaha dan proses akumulasi dan formasi kapital yang begitu panjang (praktis sejak zaman VOC). (puskas Baznas kemiskinan masyarakat tani Indonesia dan pemberdayaan zakat hal.1)

Keterlibatan pemerintah dalam pengelolaan harta ummat dengan lahirnya UU nomor 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, dan UU RI Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, merupakan angin segar dalam perkembangan Filantropi Islam di Indonesia. Pada masa-masa kolonial dan awal setelah kemerdekaan, filantropi Islam hanya dikelola oleh individu-individu dan sebagian kecil kelompok agama tanpa campur tangan dari pemerintah.

Data dari Pusat Kajian Strategis BAZNAS, potensi Zakat di Indonesia mencapai Rp 233 T pertahun. Sedangkan realisasinya baru Rp 5 T pertahun. Sedangkan potensi Waqaf, menurut Badan Waqaf Indonesia mencapai Rp 2.000 T pertahun dengan tota luas tanah mencapai 420.000 hektar.

Baca Juga: Strategi Amil Zakat di Tengah Pandemi Covid-19

Di masa pandemik Covid-19 ini, seluruh dunia dipaksa berhadapan dengan tatanan dunia baru, atau lebih dikenal dengan the new normal. Kondisi ini memaksa kita untuk berubah total dalam menata kehidupan. Kita dipaksa berdamai dengan yang namanya virus corona. Dimasa pandemik ini sendi-sendi kehidupan sosial juga berubah dengan sangat cepat termasuk filantropi Islam. Filantropi Islam yang selama ini hanya berkutat dengan semangat berbagi dalam hal-hal yang konsumtif, terpaksa harus mencari inovasi baru agar tidak terjadi problematika sosial yang baru lagi.

Pola hidup konsumtif masyarakat harus dirubah dan diganti dengan pola hidup yang bisa meningkatkan produktivitas. Hal-hal yang produktif, bahkan produksi yang strategis harus menjadi fokus perhatian untuk mengembangkan filantropi Islam.

Filantropi Islam harus diarahkan ke sektor produktif strategis ummat yang berdampak pada lapangan pekerjaan, indek gini, dan wira usaha. Kodisi saat ini merupakan momentum yang sangat tepat, untuk mereview kembali arah kebijakan filantropi Islam.

Filantropi Islam harus menjadi gaya hidup, yang diarahkan kepada peningkatkan produktivitas ummat dan bisa merubah dengan cepat klaster mustahik menjadi muzaki. Untuk itu diperlukan langkah-langkah strategis antara lain:

Pertama, memperluas cakupan filantropi Islam yang tidak hanya bersifat konsumtif tapi juga ke hal-hal yang bersifat produktif jangka panjang, dengan bekerjasama dengan pihak ketiga baik itu perguruan tinggi maupun kalangan industri dalam rangka membantu pemerintah mengurangi jumlah pengangguran dan memotong mata rantai kemiskinan.

Kedua, memperkuat Organisasi Pengelola Zakat, BAZNAS dan LAZ, agar trush (kepercayaan) masyarakat kepada amil zakat semakin meningkat dan tetap terjaga kewibawaannya. Pemanfaatan tehnologi tinggi dan manajemen yang profesional dan modern perlu dilakukan, dengan tetap menjaga nilai-nilai ke Indonesiaan, tidak terkesan elit, dan harus dihindari kesan amil yang berjarak dengan para muzaki dan mustahik;

Ketiga, edukasi yang terus menerus agar ummat berkecenderungan dan tertarik untuk kerja-kerja kemanusiaan, dermawan kepada sesama, sangat cinta sesama dan menyukai amal-amal filantropis, karena agama lebih mementingkan amal daripada perdebatan yang bersifat spekulatif. Menurut data yang yang dirilis oleh Badan Amal Inggris (CAF) Indonesia termasuk Negara paling dermawan di dunia (media Indonesia, 04 Nov 2018).

Dengan tetap bersandar dan pasrah hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala, semoga catatan kecil ini bisa bermanfaat, dan Allah meridhoi terhadap segala upaya kita untuk kesejahteraan dan kejayaan ummat dimasa depan, seperti yang Rasulullah SAW ajarkan kepada ummatnya. Billahi taufiq wal hidayah, wallahu ‘alam bishhowab.

(Visited 374 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 30 Mei 2020
Close