Fosil Dari Petir Memberi Petunjuk Waktu Badai Zaman Dahulu

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Kita tahu bahwa fosil merupakan salah satu cara para ilmuan untuk dapat mengetahui apa yang terjadi di masa lalu. Namun, fosil ternyata tidak terbatas pada fosil hewan atau tumbuhan, petir ternyata juga memiliki fosil. Ketika sambaran petir menyambar puncak gunung, bebatuan yang terkena petir tersebut dapat meleleh dalam sekejap, dan meninggalkan bekas “luka” seperti kaca yang disebut fulgurite. Kini, para peneliti menunjukkan bahwa fosil dari petir tersebut merupakan suatu jam geologis yang mencatat perjalanan waktu. Teknik dari para peneliti tersebut menawarkan para ahli geologi cara untuk mengetahui tanggal badai petir dari puluhan ribu tahun yang lalu, dan dapat memberi mereka jendela ke pola iklim kuno. Metode yang dikembangkan ini, menurut Rafael Navarro González, ahli kimia dari National Autonomous University of Mexico, University City, sangat menarik dan cerdik.

Jonathan Castro, ahli vulkanologi di Universitas Johannes Gutenberg di Mainz mengatakan bahwa saat terkena elemen, kacamata seperti fulgurite perlahan dan pasti akan menyerap kelembapan, layaknya spons. Dahulu, para peneliti telah mencoba mengukur jumlah air di lapisan luar artefak arkeologi kaca, seperti pada obsidian arrowheads, sebagai cara untuk mengetahui waktu mereka telah terpapar. Akan tetapi, metode untuk mencarinya dianggap berantakan.

Sebagian dari masalahnya adalah banyak dari kaca-kaca tersebut berasal dari gunung berapi dan sudah mengandung air sejak mereka ditempa. Air tersebut dapat mengacaukan ukuran air baru yang diserap di dekat permukaan kaca. Tapi Castro berpikir bahwa pada fulgurites, sambaran petir mungkin menguapkan sisa, kelembapan internal.

Untuk menyelidiki hal tersebut, para peneliti pertama-tama membuat fulgurit buatan mereka sendiri. Mereka mesetrum inti batuan vulkanik dengan tukang las busur, menaikkan suhu hingga 10.000 ° C. Menyetrum batuan mendidihkan sebagian besar kelembaban di dekat permukaan sampel. Artinya dapat dikatan bahwa sambaran petir memulai stopwatch geologi saat fulgurite dibuat..

Ahli geokimia Matthew Pasek dari University of South mengatakan bahwa percobaan tersebut menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa kandungan air benar-benar turun selama sambaran petir, meninggalkan permukaan bersih yang dapat menbuat suatu tempat dimana air lingkungan dapat terakumulasi.

Untuk selanjutnya, para peneliti mencoba menerapkan sistem penanggalan pada fulgurit alami. Mereka mendaki puncak gunung berapi di Oregon untuk membuat sampel hitam yang mengilap. Bebatuan kaca tersebut menurut peneliti terlihat “stand out in stark relief” atau sanagt terlihat dari bebatuan di sekitarnya.

Pemeriksaan yang cermat dari kulit luar fulgurites mengungkapkan suatu tingkat kelembaban yang lebih tinggi yang menurun tajam lebih jauh ke dalam batuan. Profil kelembapan tersebut berperilaku “secara matematis”, yang baik untuk penanggalan. Para ilmuwan mengkalibrasi jam mereka dengan menggunakan model komputer untuk mengetahui tingkat penyerapan kelembaban yang paling sesuai untuk profil yang terlihat pada sampel.

Mereka menemukan bahwa beberapa fulgurites (beserta badai petir yang membuat mereka) berumur ratusan tahun. Dan yang lebih penting, metode tersebut dapat menentukan usia batuan dalam beberapa dekade atau abad. Penemuan ini menawarkan sebuah resolusi waktu yang lebih tajam daripada teknik yang mengandalkan pemboman batuan oleh sinar kosmik. Selain menjelaskan pola petir bersejarah, tim yakin metode baru ini dapat mengungkap saat puncak gunung menjadi rentan terhadap sambaran petir.

Sebagai contoh, fulgurite dapat muncul ketika gletser zaman es mulai menyusut. Ahli geologi sudah tahu di mana menemukannya : tumpukan puing gunung, yang disebut morain terminal, mencatat dorongan terjauh dari gletser yang semakin maju. Di daerah pegunungan, morain ini seharusnya mencakup fulgurit. Dengan memberikan mereka tanggal, para ilmuan dapat menentukan waktu yang dapat membantu merekonstruksi tren iklim pada masa lalu. Cara ini dapat menjadi cara yang sangat ampuh untuk mengelompokkan usia morain.

Sumber:

Situs sciencemag. Naskah pertama ditulis oleh Nikk Ogasa

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti