Ditulis oleh 7:09 am KABAR

Fungsikan Akal Agar Menjadi Manusia Seutuhnya

Jika akal tidak difungsikan, tulis Hamka, tamak akan harta adalah pintu kebinasaan jiwa, tamak akan harta adalah menyuburkan tipuan dan menanggalkan baju budi bahasa.

Buya Hamka sebagai seorang tokoh bangsa, guru bangsa, memiliki kebanggaan terhadap ayahnya yang bernama Dr. Abdul Malik Karim Amrullah. Ada satu ungkapan dari ayahnya dalam Muktamar Muhammadiyah tahun 1930 yang sangat berkesan. Ayahnya mengatakan bahwa ulama itu harus berada di depan masyarakat, memimpin masyarakat menuju kebenaran. Ulama tidak boleh sembunyi-sembunyi, plin plan dalam membela kebenaran. Dan jangan mau dibeli dengan apa pun.

Pesan tersebut sangat terpatri dalam diri Buya Hamka dan diungkapkannya kembali saat menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama tahun 1975. Buya Hamka mengatakan bahwa kita ulama telah menjual diri kita kepada Allah, maka jangan sampai kita menjual diri kita kepada yang lain.

“Ini prinsip Hamka dalam mempertahankan kebenaran. Menunjukkan keteguhan prinsip hidupnya,” papar Dr. Irsyadunnas, M.Ag Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga. Hal tesebut disampaikan Irsyadunnas dalam diskusi buku Yayasan Abdurrahman Baswedan, yang mengangkat buku Falsafah Hidup karya Buya Hamka, Jum’at, 31 Januari 2020 di sekretariat Yayasan. Hadir pula sebagai pembicara Dr. Hj. Sri Rohyanti Zulaikhah, M.Si Dosen Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga.

Irsyad mengatakan bahwa isi buku ini berisi tentang hidup dan rahasia kehidupan, sopan santun dan budi dalam Islam. Bagaimana kita menjalani hidup selamat dunia dan akhirat. Dalam salah satu bagian buku, Hamka menjelaskan tentang ilmu dan akal sebagai cara meljalani hidup. Manusia diberikan oleh Allah tiga hal, yakni nafsu, akal dan kulbu. Hamka menjelaskan kalau manusia ingin menjadi manusia sempurna seperti yang diharapkan Allah dalam Al Qur’an, maka manusia harus memfungsikan akalnya. “Oleh karena itu, nilai seorang manusia itu sejauh mana ia memfungsikan akalnya,” ujar Irsyad yang putera Padang ini.

Dalam kultur minang, lanjut Irsyad, ada ungkapan “mengikat binatang dengan tali, mengikat manusia dengan akal”. Artinya binatang supaya dia tidak berkeliaran dia harus diikat, begitu juga dengan manusia, namun manusia diikat dengan akal. Jika manusia ingin selamat maka gunakan akalnya, karena jika tidak difungsikan maka manusia akan bebas, seperti binatang yang tidak diikat dengan tali, bebas kemana-mana.

Jika akal tidak difungsikan, tulis Hamka, tamak akan harta adalah pintu kebinasaan jiwa, tamak akan harta adalah menyuburkan tipuan dan menanggalkan baju budi bahasa. Jika kita refleksikan dalam kehidupan saat ini, memperlihatkan orang yang tidak puas dengan kekayaan yang dimilikinya, sebut saja koruptor.

Didalam buku ini Hamka juga menulis bahwa lebih dari sepuluh kali terdapat dalam Al Qur’an menganai akal manusia. Oleh sebuah hadis disebutkan pula bahwa “tiada sempurna agama manusia selama-lamanya, sebelum sempurna akalnya.” Oleh karena itu, memfungsikan akal secara sungguh-sungguh adalah modal kita mengarungi hidup.

Saksikan video paparan yang disampaikan Dr. Irsyadunnas, M.Ag di bawah ini saat menyampaikan bahasannya tentang buku Falsafah Hidup karya Hamka.

(Visited 141 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 11 Februari 2020
Close