Galaksi Terjauh Di Alam Semesta

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Seiring dengan semakin banyaknya eksplorasi dan penelitian yang ditujukan pada luar angkasa, semakin banyak juga hal yang kita temukan, dalam hal ini adalah galaksi yang diyakini berjarak terjauh di alam semesta ini. Para astromon, dengan menggunakan teleskop Keck I guna mengukur jarak ke galaksi kuno, membuat kesimpulan bahwa galaksi yang diteliti, yakni GN-z11, tidak hanya merupakan galaksi tertua, akan tetapi juga merupakan galaksi yang paling jauh. Jaraknya yang sangat jauh ini, menurut para astronom, memberikan definisi mengenai batas dari alam semesta yang dapat kita amati. Para astronom berharap bahwa penelitian tersebut dapat menjelaskan periode sejarah kosmologis ketika alam semesta baru berusia beberapa ratus juta tahun.

Pertanyaan mengenai seberapa besarkah alam semesta ini? atau bagaimana dan kapan galaksi terbentuk? Merupakan pertanyaan yang membuat para astronom tetap fokus untuk meneliti alam semesta diluar sana dan secara serius berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan menggunakan bantuan alat-alat fantastis yang mendorong batas-batas teknologi manusia. Profesor Nobunari Kashikawa dari Departemen Astronomi di Universitas Tokyo, dengan didorong oleh rasa ingin tahunya mengenai galaksi, secara khusus, ingin mencari galaksi paling jauh yang dapat manusia amati untuk mengetahui bagaimana dan galaksi tersebut terbentuk.

Berkaca dari studi yang sebelumnya pernah di lakukan, Kashikawa mengatakan bahwa galaksi GN-z11 dapat dikatakan sebagai galaksi terjauh yang dapat dideteksi dari bumi, yakni pada 13,4 miliar tahun cahaya, atau 134 non miliar kilometer. Akan tetapi mengukur dan memverifikasi jarak dari galaksi yang amat jauh ini tentunya bukan tugas yang mudah.
Kashikawa dan para astronom lainya melakukan pengukuran pada apa yang dikenal sebagai pergeseran merah GN-z11. Hal ini mengacu pada cara cahaya membentang, akan menjadi lebih merah jika dirinya bergerak semakin jauh. Tanda kimia tertentu, yang disebut sebagai garis emisi, mencetak pola berbeda dalam cahaya dari objek yang jauh. Dengan mengukur seberapa panjang tanda-tanda ini, para astronom dapat memberikan kesimpulan mengenai seberapa jauh jarak yang harus ditempuh cahaya, sehingga dapat mereka dapat memberikan jarak dari galaksi yang menjadi target.

Mereka secara khusus melihat sinar ultraviolet, oleh karena sinar tersebut adalah area spektrum elektromagnetik yang diperkirakan akan menemukan tanda kimia pergeseran merah. Teleskop Luar Angkasa Hubble mendeteksi tanda beberapa kali dalam spektrum GN-z11. Akan tetapi, bahkan Hubble tidak dapat menyelesaikan garis emisi ultraviolet ke tingkat yang dibutuhkan para astronom. Oleh karenanya, mereka beralih ke spektograf berbasis darat yang dipandang lebih mutakhir, yakni sebuah instrumen untuk mengukur garis emisi, disebut MOSFIRE, yang dipasang ke teleskop Keck I di Hawaii.

MOSFIRE dapat menangkap garis emisi dari GN-z11 secara rinci, yang memungkinkan para astronom untuk membuat perkiraan yang jauh lebih baik mengenai jarak dari galaksi bila dibandingkan yang dimungkinkan dari data sebelumnya. Saat bekerja dengan jarak pada skala ini, menggunakan satuan kilometer atau bahkan dengan kelipatannya bukanlah hal yang wajar. Sebaliknya, para astronom menggunakan nilai yang dikenal sebagai bilangan pergeseran merah yang dilambangkan dengan z. Kashikawa dan astronom lainnya meningkatkan akurasi nilai z galaksi dengan faktor 100. Jika pengamatan selanjutnya dapat mengkonfirmasi hal ini, maka para astronom dengan yakin dapat mengatakan GN-z11 adalah galaksi terjauh yang pernah terdeteksi di alam semesta.

Sumber:
Situs sciencedaily. Materi pertama berasal dari University of Tokyo. Foto: Pixabay.

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti