25.2 C
Yogyakarta
1 Agustus 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Garengpung

Pagi ini, suara garengpung sahut menyahut, menyiram sepi dengan nyaring riuh yang khas. Bagi yang kurang terbiasa mendengar garengpung, akan bertanya-tanya, apa itu garengpung. Serangga ini tidak asing bagi Jawa. Garengpung atau tonggeret, dalam biologi masuk dalam anggota subordo Cicadomorpha, ordo Homoptera.

Anak-anak dahulu sering berburu serangga ini, sekedar untuk koleksi. Mata garengpung tergolong mata majemuk. Artinya, punya kemampuan menangkap obyek dengan sudut yang sangat lebar, sehingga dapat mendeteksi gerakan cepat. Bentuknya mirip lalat, berbeda ukuran. Alat penghasil suara di bawah sayap membuat bentuk garengpung akuistik.

Bunyi garengpung mempunyai makna tersendiri. Daur hidupnya dipengaruhi musim. Suara garengpung, secara umum dianggap sebagai tanda akhir dari musim penghujan, atau akan datangnya musim kemarau. Mengapa demikian. Karena itulah momen yang telah dewasa ke luar dari bawah permukaan tanah untuk menjemput musim kawin.

Suara garengpung pagi ini, terasa punya makna. Utamanya jika merujuk pada beberapa riset, yang meskipun belum final atau bukan merupakan riset final, yang menyatakan bahwa Virus Corona tidak cocok dengan iklim tropis yang memiliki suhu dan kelembaban tinggi (Kompas.com).

Baca juga: BMKG: Iklim Tropis Bisa Tekan Penyebaran Covid-19

Asal usul pandangan tersebut mungkin dapat dilacak dari struktur virus corona yang merupakan jenis virus dengan selubung atau sampul. Tubuh virus dilindungi oleh lapisan yang terbuat dari lipid bilayer, yakni membran polar tipis yang tersusun atas dua lapisan molekul lipid. Adapun lipid secara kimia dimengerti sebagai zat yang tidak larut air dan larut dalam alkohol, eter, dan kloroform.

Dikatakan bahwa virus berselubung cenderung bersifat musiman. Lapisan sampul dinyatakan lebih rentan terhadap panas. Pada suhu dingin, sampul akan mengeras. Hal inilah yang mungkin menjelaskan mengapa virus dengan bungkus lebih banyak menginfeksi pada musim dingin dengan kelembaban rendah.

Apakah demikian itu adanya? Tentu riset yang lebih mendalam dan akurat dibutuhkan. Bagi komunitas keilmuan memang tidak perlu terlalu cepat mengambil kesimpulan dari riset permulaan (Tempo.co). Namun bagi kehidupan sehari-hari, yang membutuhkan optimisme dan terus berusaha menjawab pertanyaan, meskipun tidak ada informasi yang dapat mendukung, setiap tanda tentu punya makna.

Membaca tanda tentu bukan hal buruk. Upaya tersebut dapat dipandang sebagai bagian dari cara berpikir. Yakni upaya untuk memahami perpaduan teks dan konteks, yang datang tiba-tiba, tanpa teks pendahuluan atau peristiwa penandanya. Suara garengpung, mungkin memang merupakan tanda, yang memungkinkan suatu harapan. Bagi garengpung sendiri, apa yang dilakukan merupakan bagian dari siklus. Suaranya jelas merupakan teks perubahan. Setidaknya dari musim penghujan kepada musim kemarau.

Apakah ini tanda bahwa wabah akan segera berlalu. Demikian itulah doa kita: semoga wabah segera berlalu.

(t.red)

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA