Ditulis oleh 4:08 am KABAR

Generasi Millenial Tak Bisa Dipisahkan dengan Smartphone

Ada satu hal yang menggelisahkan saya yakni bagaimana masa depan anak-anak kita kedepan. Sebab anak-anak saat ini sudah sangat lekat dengan smartphone dan tidak bisa dilepaskan lagi. Demikian disampaikan Ali Audah penulis buku Chef Academica, The Spirit of Robandian, saat menjadi pembicara dalam diskusi buku rutin Yayasan Abdurrahman Baswedan, Jum’at, 11 Oktober 2019, di Sekretariat Yayasan Abdurrahman Baswedan, Perumahan Timoho Asri IV, Muja Muju, Yogyakarta.

Selain Ali Audah (Penulis Buku), hadir pula sebagai narasumber yakni Ki Herman Sinung Janutama (Budayawan), Qoirun Nisa (Siswa Kelas XII SMA MUHA Jogja) dan Yusuf Hafidzun Alim (Siswa Kelas XII SMA MUHA Jogja).

Ali kemudian menceritakan kejadian di Gunungkidul dimana anak SMA yang datang membawa parang ke sekolah untuk meminta kembali handphone-nya yang disita gurunya. Hal tersebut, menjadi tanda anak-anak tidak bisa dipisahkan dengan handphone. “Jadi jangan coba-coba memisahkan anak-anak sekarang dengan handphone-nya,” jelas Ali.

Dengan media sosial sekarang, kita seolah-olah dipaksa menjadi global village atau kampung global. Ciri khas kampung itu peduli, sedangkan ciri khas kota itu orang mempunyai ruangnya sendiri-sendiri.  “Kalau kampung tidak ada ruang pribadi, semua orang boleh masuk. Jadi rasan-rasan, gosip itu ada di kampung atau village,” papar Ali.  

Melihat hal tersebut, lanjut Ali, negara ini harus benar-benar dipimpin oleh kepemimpinan yang menyadari perbedaan generasi ini. Jadi, kalau anak-anak millenial ini turun kejalan tidak perlu ditakuti.

“Saya termasuk yang kecewa dengan negara ketika para pemimpin masih melihat bahwa kalau demonstran yang turun ke jalan harus ditembak. Pendekatannya masih sama dengan yang dulu, ketika saya juga ikut demonstrasi,” ujarnya.

Generasi dulu, masing berdebat mengenai ideologi. Sekarang anak millenial tidak berpikir ideologi, tapi mereka berpikir aplikasi atau konten apa ya yang akan diposting di media sosial. “Generasi ini turun ke jalan karena undang-undang itu mengancam kebebasan mereka. Yang diminta oleh anak-anak ini adalah kebebasan,” jelasnya.

Yusuf memberikan pandangannya mengenai buku ini. Menurutnya, dengan buku ini kita bisa mempelajari filsafat dengan mudah. Kita sebagai anak muda juga bisa belajar berpikir secara filsafat dengan buku ini. Salah satu bagian yang paling disukainya adalah bagian mencintai perbedaan. Menurut Yusuf, penulis menceritakan pentingnya perbedaan dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan perbedaan itulah muncullah stabilitas. “Contoh saja jika semua orang menjadi pegawai nanti bingung siapa yang akan menggaji kita,” tutur Yusuf yang kini duduk di kelas XII.

Ia juga berharap ada buku lanjutan yang bisa diterbitkan, lebih mendalam namun dengan bahasa yang mudah dimengerti semua kalangan.

Hal senada juga disampaikan Nisa. “Buku Chef Academica ini mudah dibaca, ringan tetapi berisi,” tandasnya.

(Visited 37 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 3 Februari 2020
Close