Generasi Qurani: Harmoni Pikir dan Dzikir

ali imron
Hanya mereka yang beriman dan berilmu yang akan mampu membentengi diri dari berbagai tantangan kehidupan yang makin berat.

Umat Islam memiliki predikat sebagai umat yang terbaik. Kita menyandang predikat mulia itu tentu saja jika memenuhi persyaratan yakni kita mau berjuang menyeru kepada kebajikan dan mencegah kejahatan. Tanpa persyaratan itu maka predikat tersebut tidak berarti apa-apa. Seperti difirmankan Allah Swt. dalam al-Qur’an:

“Kamu sekalian adalah sebaik-baik umat, kamu menyeru kepada kebaikan dan  mencegah kemunkaran” (Q.S. Ali Imran: 110)

Di pihak lain, Islam adalah agama yang paling sempurna, paling lengkap, paling tinggi dan tidak ada agama yang lebih tinggi daripadanya. Oleh karena itu, jika (umat) Islam sampai terpuruk, maka itu akibat ulahnya sendiri, antara lain mereka  tidak/ kurang mengikuti perintah Allah yang dibawa Rasulullah. Jika umat Islam ingin tetap menjadi umat terbaik di antara umat yang lain, dan menjadi umat yang kuat, tidak dipandang sebelah mata oleh umat non-Islam, maka umat Islam harus benar-benar memeluk agama Islam secara kaffah. Dalam hal ini umat Islam harus beriman kepada Allah swt. secara sungguh-sungguh yang tercermin dalam aqidah, ibadah, dan mu’amalah. Allah menegaskan dalam al-Qur’an: “Peluklah agama Islam itu secara sepenuh-penuhnya.”

Islam: Keseimbangan Dunia dan Akhirat

Dalam berbagai surat Allah menganjurkan agar manusia mencari penghidupan (kebahagiaan) hidup baik di dunia maupujn di akhirat, antara rohani dan jasmani, antara material dan spiritual, rasional dan emosional, iman dan ilmu. Sebab, manusia lahir dan mengarungi kehidupan di dunia, baru kemudian memasuki kehidupan di akhirat. Jadi, kehidupan dunia yang semu (ghurur) dan fana merupakan jembatan untuk menuju kehidupan akhirat yang abadi (baqa’). Karena itu, tidak ada alasan sama sekali bagi manusia untuk tidak mencari penghidupan dunia yang lebih baik (kebahagiaan).

Bahkan firman Allah dalam al-Qur’an terdapat doa (sering disebut doa sapu jagat) yang sangat populer di kalangan kaum muslimin:

“Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan hidup (kebahagiaan) di dunia, juga kebaikan hidup (kebahagiaan) di akhirat, dan jauhkanlah kami dari api neraka.”

Generasi Qur’ani: Harmoni Iman & Ilmu, Dzikir & Pikir, Imtak & Iptek

Seperti disebut di atas, bahwa al-Qur’an banyak menganjurkan manusia agar di dalam mengarungi kehidupan dunia dan akhirat dilakukan secara seimbang. Karena itu generasi Qur’ani adalah generasi yang memiliki keharmonisan: antara psikologis dan fisiologis, kecerdasan rasional dan emosional,  kemajuan material dan spiritual, kesejahteraan kehidupan dunia dan ketekunan ibadah untuk akhirat, keteguhan iman dan kedalaman ilmu.  Jika salah satu dari dua hal tersebut tidak seimbang satu dengan lainnnya dalam diri seseorang, niscaya sulit baginya untuk menjadi generasi muda Islam yang prospektif.

Pakar Psikologi secara gamblang menyebut kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient) sebagai kecerdasan ketiga yang sangat penting di samping dua kecerdasan lainnya yakni kecerdasan rasional (Rational Quotient) dan kecerdasan emosional (Emotional Quotient)(lihat Daniel Goleman, 1997).  Oleh karena itu, patut kita renungkan pernyataan Sang genius penemu atom Albert Enstein yang kesohor itu, bahwa: “Ilmu tanpa agama berbahaya, dan agama tanpa ilmu menyesatkan.”       

Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa generasi Qur’ani adalah mereka yang memiliki kesimbangan berbagai hal di atas yang kesemuanya itu sebenarnya dapat diringkas dalam keseimbangan iman dan ilmu. Atau, dalam masyarakat Islam populer dengan istilah keseimbangan ‘dzikir dan pikir’, atau meminjam istilah B.J. Habibi ‘imtak dan iptek’. Di sinilah generasi muda Islam yang dipelopori para mahasiswanya memiliki kesempatan yang baik untuk mewujudkan dirinya menjadi generasi Qur’ani yang ideal dan didambakan.

Bagaimanapun manusia mesti memperkokoh iman lebih dulu baru kemudian menggali ilmu sedalam-dalamnya dan/ atau menggapai ilmu pengetahuan setinggi-tingginya.  Pada zaman klasik (abad VII hingga abad XIII, abad pertengahan) umat Islam mengalami kejayaan, karena mereka lebih dulu mendalami al-Qur’an dan kemudian memperdalam berbagai ilmu pengetahuan seperti matematika, kimia, astronomi, teknik, arsitektur, filsafat, dan sebagainya. Dengan iman dan takwa sebagai fondasi kemudian dilengkapi dengan penguasaan sains dan teknologi yang dimiliki oleh generasi muda Muslim, maka kejayaan umat Islam pada masa depan –baik dalam bidang politik, ekonomi, budaya, teknologi, dan sebagainya–, insya’Allah akan dapat menjadi realitas bukan sekedar romantika masa lalu saja. Bukankah Allah swt. dalam firman-Nya sudah mengisyaratkan hal itu:

“Allah akan mengangkat orang-orang beriman dan orang-orang yang berilmu di  antara kamu sekalian dalam beberapa derajat.”

Bukankah Rasulullah Muhammad saw. juga bersabda, yang artinya:

“Barang siapa ingin meraih (kebahagiaan) di dunia capailah dengan ilmu; barang siapa yang ingin meraih (kebahagiaan) akhirat capailah dengan ilmu; dan barang siapa ingin meraih (kabahgiaan) kedua-duanya –dunia dan akhirat—capailah dengan ilmu” (al-Hadits) 

Jadi, jelaslah bahwa jika kita ingin berjaya mengarungi kehidupan yang mahaluas ini, maka iman dan ilmu harus menjadi prioritas untuk kita miliki dan diamalkan secara seimbang. Dan, secara ringkas hal itu tersimpul dalam ungkapan: “Carilah duniamu seolah-olah Anda akan hidup selamanya, dan carilah akhiratmu seolah-olah Anda akan mati besok pagi.” 

Tantangan dan Prospek

Tantangan yang menghadang untuk mewujudkan generasi Qur’ani adalah godaan kehidupan yang kini makin meluas, membanjir, dan kompleks. Gebyar dan gemerlapnya keduniaan yang maya dengan segudang kesenangan dan kemewahan, glamor, terlebih dalam era global ataupun era cyberspace sekarang ini, agaknya semakin ‘memikat hati’ generasi muda.  Hanya mereka yang benar-benar kokoh dan teguh iman yang akan mampu membentengi berbagai godaan dan tantangan tadi.

Di sisi lain, generasi Qur’ani memiliki prospek yang menggembirakan. Sebab, pada masa mendatang agaknya hanya mereka yang benar-benar memiliki keharmonisan antara kemampuan material dan spiritual, psikologis dan fisiologis, keteguhan iman dan kemampuan ilmu/ intelektual, yang akan berjaya menghadapi akselerasi perubahan zaman yang kompleks. Hanya mereka yang beriman dan berilmu yang akan mampu membentengi diri dari berbagai tantangan kehidupan yang makin berat. Dan, pada gilirannya perubahan zaman itu akan membawa paradigma baru yang berbeda dengan masa lalu yang harus disikapi dengan arif.

Pada kondisi demikian, maka akhlaqul karimah (datang dari Allah dan Rasul-Nya), moral, atau etika –di samping iman dan ilmu– memegang peran sangat penting guna menyongsong masa depan generasi muda yang masih panjang. Akhlak inilah yang sejak awal kenabian Muhammad saw. menjadi perhatian utama beliau dalam menjalankan misinya sebagai Rasul. Di balik misi utama Rasulullah saw. ini tentu mengandung rahasia atau hikmah, antara lain bahwa akhlak atau moral manusia ini sungguh menjadi permasalahan manusia sejak dulu zaman jahiliyah hingga kini lebih-lebih pada zaman modern. Oleh karena itu, sampai-sampai beliau merasa perlu bersabda:

Sesungguhnya aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak manusia.”    

Akhlak memang menjadi sorotan para ahli pendidikan, kalangan ulama/ agamawan hingga para negarawan. Karena, akhlak inilah sendi utama agama, bahwa inti dari taqwa adalah akhlak. Rasulullah saw. bersabda, bahwa “Sebaik-baik orang beriman adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (al-Hadits). Jadi, tidaklah cukup orang Islam yang memiliki ilmu yang tinggi dan ibadahnya bagus, namun akhlaknya rusak.

Itulah sebuah refleksi guna merangsang pemikiran kita. Pada akhirnya, tugas kita adalah bagaimana membangun generasi Qur’ani yang kelak akan lahir menjadi Mujaddid sekaligus Mujahid, Ulama sekaligus Intelektual, ilmuwan sekaligus pejuang. Inilah tantangan dan tanggung jawab kita bersama, bagaimana dapat melahirkan generasi muda Muslim yang benar memiliki keterpaduan iman dan takwa di satu sisi dan penguasan sains dan teknologi di sisi lain.

Tentu masih cukup panjang lorong yang harus dilalui, cukup terjal bukit rintangan yang mesti didaki, dan cukup banyak gerbang yang mesti dimasuki guna mewujudkannya. Semuanya terpulang kepada kita, umat Islam sendiri.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Close