Ditulis oleh 8:39 am KABAR

Genjot Produksi untuk Hindari Krisis Pangan Dunia

Ada satu pertanyaan besar dalam buku Berebut Makan, Politik Baru Pangan karya Paul McMahon, yakni masih dapatkah dunia memberikan makan kepada 9 milyar penduduk bumi tahun 2050?

Buku tersebut diangkat dalam diskusi buku rutin Yayasan Abdurrahman Baswedan, Jum’at, 20 Desember 2019 di Sekretriat Yayasan Perumahan Timoho asri IV, Yogyakarta. Hadir dalam diskusi sebagai pembicara Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA. Dekan Fakultas Peternakan UGM dan Ir. Edy Santosa Asrori dari Dinas Pertanian DI Yogyakarta.

Pertanyaan ini menjadi sangat penting karena jumlah penduduk bumi semakin membesar sedangkan tanah untuk menghasilkan makanan semakin mengecil. Sebagian besar penduduk bumi pun berada di wilayah perkotaan, sehingga semakin sedikit manusia yang bersentuhan langsung dengan produksi pangan. Akibatnya jika tidak ada penataan, krisis pangan dunia sudah di depan mata.

Menurut Prof. Ali Agus, kondisi demikian membuat kita harus menggiatkan produksi pangan. Pemerintah Indonesia bercita-cita memberi makan penduduk dunia, namun memput memberi makan penduduk kita sendiri  yang jumlahnya beberapa tahun kedepan 350 juta orang saja sudah sangat baik. “Kita masih memiliki masalah, misalnya profesi petani yang tidak menarik sehingga ditinggalkan. Lahan pertanian semakin sempit akibat alih fungsi lahan pertanian, serta tantangan iklim karena global warming,” jelas Prof. Ali Agus.

Prof. Ali Agus menekankan agar harus ada kerja nyata meningkatkan produksi pangan. Oleh karena itu dilakukan promosi-promosi agar kebutuhan pangan keluarga, masyarakat lingkup kecil, RT, RW, desa dapat dipenuhi secara mandiri. “Jargon tanam yang kita makan dan makan yang kita tanam, harus sama-sama kita usahakan perwujudannya,” papar Prof. Ali Agus yang juga Ketua HKTI DIY.

Pangan, lanjut Prof. Ali Agus, merupakan bisnis yang sangat menjanjikan kedepan sebab semua manusia memerlukan makanan. Oleh karena itu, ia mendorong anak-anak muda untuk menekuni usaha-usaha pertanian. “Revolusi industri 4.0 yang selama ini dibicarakan, tidak dapat menghasilkan makanan. Untuk memproduksi makanan kita memerlukan lahan, pupuk, air, petani yang kongkrit. Teknologi digital dapat mendukung kita dalam hal informasi,” jelas Prof. Ali Agus.

Ir. Edy Asrori menyampaikan kondisi pangan di DI Yogyakarta. Menurutnya dibeberapa komoditas DIY masih tergolong surplus, misalnya beras dan cabe. Bahkan DIY dapat menjual produksi pertaniannya ke luar daerah. “Kita masih surplus kalau bicara soal pangan yang sifatnya karbohidrat, namun jika bicara protein, kita masih harus dari luar, bahkan import,” jelasnya.

Pemerintah DIY sendiri sudah banyak melakukan usaha-usaha meningkatkan produksi pertanian dan membuat bertani menjadi lebih menarik untuk ditekuni. “Kita banyak mendamping petani agar juga memproduksi benih, sehingga memberikan nilai tambah,” jelasnya.

(Visited 34 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 3 Februari 2020
Close