24.1 C
Yogyakarta
19 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
SAINS

Gerak Mata Mengurangi Kepekaan Indera Peraba

Dapatkan indera kita bekerja simultan dengan akurasi yang tinggi? Misalnya mata memandangi lukisan “Jam Meleleh” karya Salvador Dali, telinga mendengarkan musik rock Queen “We Will Rock You”, lidah mencicipi rendang buatan Gordon James Ramsay, hidung sedang membaui air laut, dan peraba mendeteksi Mulberry Silk dari India. Apa yang akan terjadi.

Sedikit orang mungkin dapat mengklaim punya kemampuan untuk mendapatkan semuanya. Banyak orang mungkin akan mengatakan kesulitannya. Kata konsentrasi atau berfokus, dapat dikatakan sebagai petunjuk bahwa tidak mungkin semua bekerja secara simultan untuk obyek yang berbeda-beda. Konsentrasi justru merupakan metode untuk membuat seluruh indera mengarah ke satu obyek.

Laporan berikut ini, menunjukkan bahwa dalam hal kerja mata dan indera peraba, terdapat kaitan yang bersifat tidak saling memperkuat. Ketika mata berfokus melihat ke suatu tertentu, dan indera peraba akan terganggu kemampuannya. Sebaliknya jika indera peraba bekerja lebih dahulu, dan kemudian pandangan diarahkan ke suatu obyek, maka pandangan kurang akurat.

Penelitian baru para ilmuwan menemukan bahwa pergerakan kecil mata manusia dapat digunakan sebagai indeks kemampuan manusia untuk mengantisipasi informasi yang relevan di lingkungan independen dari modalitas sensorik informasi. Temuan ini mengungkapkan hubungan antara gerakan mata dan indera peraba.

Marisa Carrasco, seorang profesor psikologi dan ilmu saraf di New York University dan penulis senior laporan riset tersebut mengatakan bahwa gerakan kecil mata dapat menghambat kemampuan kita untuk membedakan rangsangan taktil. Dan bahwa penekanan gerakan mata sebelum stimulus taktil yang diantisipasi dapat meningkatkan kemampuan membedakan rangsangan taktil, yang juga memberikan refleksi area otak yang hubungannya dengan penglihatan dan perabaan.

Antara mata dan indera peraba, mengungkapkan hubungan mengejutkan di antara persepsi, kognisi, dan tindakan. Studi ini meminta beberapa peserta untuk membedakan antara dua jenis getaran (“cepat” – frekuensi tinggi vs “lambat” – frekuensi rendah) yang dihasilkan oleh perangkat yang terhubung ke jari mereka. Para peneliti kemudian melacak bahkan sampai gerakan terkecil mata yang tidak disengaja, yang juga dikenal sebagai micro-saccades. Gerakan kecil dan cepat ini diketahui terjadi bahkan ketika manusia mencoba memusatkan pandangan pada satu titik.

Di sini, para peserta diperintahkan untuk memfokuskan penglihatan mereka pada titik fiksasi pada layar komputer. Sebuah isyarat – ketukan yang ditimbulkan oleh perangkat di jari mereka – akan mengisyaratkan getaran berikutnya akan datang. Yang tidak diketahui oleh para peserta adalah bahwa interval waktu antara isyarat itu dan getaran taktil adalah bagian sentral dari desain eksperimental tersebut.

Manipulasi interval itu memungkinkan peserta dalam beberapa blok untuk memprediksi dengan lebih akurat kapan getaran akan terjadi. Khususnya, ketika mereka memiliki informasi yang tepat, para peneliti dapat melihat tidak hanya bagaimana tingkat microsaccade peserta akan menurun tepat sebelum stimulus getaran, tetapi juga bagaimana kemampuan mereka untuk membedakan antara getaran cepat dan lambat ditingkatkan oleh pengurangan micro-saccades. (Disadur dari situs sciencedaily)

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA