22.9 C
Yogyakarta
27 Juli 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Gerakan Dua Meter (Bagian Pertama)

Oleh: Syamdusin, S.Pd., MA

Tulisan beberapa waktu lalu, yang berjudul Satu Meter, rasanya perlu mendapatkan perhatian. Ulasan sederhana tersebut sebenarnya ingin mengatakan bahwa langkah menjaga jarak, sekurang-kurangnya satu meter, merupakan langkah yang sangat penting dan bernilai strategis. Penting, karena setiap orang harus ambil bagian, karena hal tersebut terkait dengan upaya bersama mengendalikan penyebaran wabah. Strategis, karena dengan langkah sederhana tersebut yang hendak dituju merupakan hal mulia yakni keselamatan bersama. Satu meter, merupakan penanda dari perhatian semua pihak. Oleh sebab itu, sangat perlu dibahas lebih lanjut dan sejauh mungkin dapat diwujudkan menjadi langkah bersama.

Pada bagian akhir tulisan Satu Meter , termuat usulan sederhana langkah yang dapat dilakukan, yakni: (1) menetapkan tujuan bersama yang hendak dicapai, melalui forum rembug; (2) menetapkan organisasi yang akan menggerakkan langkah-langkah; dan (3) menetapkan program atau kegiatan yang mampu dilakukan, dalam kerangka protokol kesehatan yang ada. Tentu tiga langkah tersebut bukan merupakan skema baku, tetapi sekedar contoh tentang bagaimana mentransformasi langkah pribadi menjadi langkah bersama. Memang untuk menjadi sebuah gerakan, sangat dibutuhkan kebersamaan yang didasarkan pada tujuan bersama.

Jaga Jarak Fisik

Mungkin ada baiknya membahas kembali mengenai apa itu “jaga jarak fisik”. Coba perhatikan beberapa simulasi yang pernah dibuat, berdasarkan daya sebar dari wabah. Hal yang penting disadari sepenuhnya bahwa wabah menyebar melalui kontak langsung antara orang.

Karena itulah “jaga jarak fisik” menjadi sangat penting.

Jika jaga jarak dilakukan secara tidak penuh, katakan saja hanya 75%, maka akan terjadi: hari pertama pada 1 orang, hari kelima pada 0,625 orang, dan pada hari ke tiga puluh akan menular pada 2,5 orang.

Jika dikendurkan hanya 50%, maka akan terjadi hari pertama pada 1 orang, hari kelima pada 1,25 orang, dan pada hari ke tiga puluh akan menular pada 15 orang.

Jika sama sekali tidak ada pembatasan, maka yang akan terjadi: hari pertama pada 1 orang, hari kelima pada 2,5 orang, dan pada hari ke tiga puluh akan menular pada 406 orang.

Dapat dibayangkan, betapa besar pengaruhnya. Hanya dengan satu orang, dalam waktu 30 hari telah menjadi 406 orang. Angka ini mungkin masih bisa bervariasi, bergantung pada tingkat kepadatan penduduk. Untuk daerah dengan tingkat kepadatan yang sangat tinggi, maka besar kemungkinan angka penularan bisa lebih tinggi.

Mengapa perhatian pada pengendalian penyebaran demikian penting? Hal ini disebabkan belum ditemukannya obat untuk wabah ini. Riset sedang dibuat, tetapi tidak bisa segera dapat digunakan, karena harus melalui fase uji coba yang memakan waktu. Artinya, tidak ada obat yang dapat diandalkan untuk mengatasi wabah.

Hal yang sangat dikhawatirkan adalah jika yang tertular berjumlah besar. Apabila hal tersebut yang terjadi, maka dapat dipastikan layanan kesehatan tidak akan dapat menopang. Disinilah pentingnya pengendalian penyebaran.

Kesiapan Masyarakat

Jaga jarak fisik merupakan salah satu dari hal pokok yang harus dikerjakan. Selain jaga jarak fisik, ada tiga anjuran yang juga harus dikerjakan yakni: (1) gunakan masker; (2) cuci tangan dengan sabun dan rutin, terutama setelah melakukan kegiatan dan berinteraksi; dan (3) jaga asupan dan berpola hidup sehat, termasuk menjaga kebersihan lingkungan.

Pesan sederhana ini, nyatanya tidak mudah dijalankan. Di sana-sini, masih ditemukan kejadian yang menunjukkan tidak dijalankannya petunjuk dasar tersebut. Mengapa? Sebabnya tentu informasi dan edukasi.

Wabah, bukan jenis pengetahuan yang begitu saja akan dimengerti oleh sebagian besar warga. Apalagi wabah datang dari luar dan secara medis belum ditemukan obatnya. Artinya, diperlukan upaya sangat keras untuk melakukan sosialisasi dan edukasi.

Jangan dikira masalah edukasi merupakan masalah golongan tertentu. Pengalaman di banyak negara, dan tentu pengalaman di sini, memperlihatkan bahwa pengetahuan tentang wabah masih belum merata dan belum pada tingkat kualitas yang baik.

Walaupun akses pada sumber informasi yang kredibel tersedia, namun kebiasaan mencari tahu yang tidak berkembang membuat informasi yang berkembang atau yang menyebar justru informasi yang menyesatkan atau tidak memperkuat upaya yang tengah dilakukan.

Tantangan tidak hanya dari situ, tetapi juga dari mereka yang secara obyektif bekerja harian. Para pekerja harian tentu punya masalah besar ketika harus berdiam di rumah, menjaga jarak fisik dan berbagai anjuran lainnya. Sebabnya tidak lain dari adanya keharusan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dalam hal ini ketentuan tidak dapat dilaksanakan, bukan karena ketidaktahuannya, tetapi keterbatasan.

Oleh sebab itulah kesiapan masyarakat sangat penting. Segala jenis sosialisasi dan edukasi, pada dasarnya merupakan bagian dari upaya bersama membangun kesiapan masyarakat. Apa itu kesiapan masyarakat? Yakni keadaan dimana masyarakat menyadari sepenuhnya adanya wabah, berikut resiko terburuk jika penanganan tidak segera atau terjadi keterlambatan dalam penanganan.

Kesiapan masyarakat berarti pula kesediaan untuk menerima keadaan ketika harus tinggal di rumah, menjaga jarak dan punya kebiasaan baru. Kesiapan berarti pula kesediaan untuk berada dalam situasi monoton tanpa ada kejelasan kapan akan berakhir. Kesiapan tersebut berarti pula kesiapan mental, menghadapi hari-hari yang panjang, bersama-sama.

Dalam wabah, informasi harus dibuka dan terbuka. Memang ada godaan untuk menutup informasi. Hal ini, kemungkinan karena khawatir masyarakat tidak siap terhadap informasi yang buruk. Karena itu, beberapa informasi ditutup. Namun jika masyarakat siap, maka tidak ada alasan untuk menutup. Semua informasi harus dibuka, karena hanya dengan itu, kemampuan pengendalian penyebaran akan semakin besar. Namun keterbukaan informasi harus ditopang dengan kesiapan masyarakat.

Bersambung ke bagian kedua

Penulis: Dosen Administrasi Negara, Fisipol, UP45/Direktur Pelaksana Yayasan Abdurrahman Baswedan

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA