22.7 C
Yogyakarta
10 September 2021
BENTARA HIKMAH
KALAM

(G)lokalisasi versus Globalisasi (Upaya Saling Menghormati Kebudayaan Dunia)

Latar belakang sejarah

Kita sekarang hidup pada zaman “modern” yang terutama ditandai dengan penggunaan hasil teknologi yang tinggi. Yang paling menyolok justru pada teknologi transportasi dan komunikasi, se­hingga da­pat dikatakan bahwa teknologi telah mempengaruhi seluruh bidang kehidupan manusia yang bertempat tinggal di belahan manapun di dunia ini. Teknologi transportasi telah menghasilkan jasa yang membuat mobilitas manusia menjadi sangat cepat dan dunia menjadi terasa dekat. Sekarang inipun ratusan satelit ko­munikasi bergerak di orbit geosta­sioner bumi, ribuan kabel serat optik di dasar lautan, kombinasi antara teknologi telepon, modem dan komputer telah memungkinkan manusia memasuki dunia komunikasi dan infor­masi, manusia dapat saling berhubungan dari tempat yang berjauhan dalam kecepatan ham­pir nol detik.

Manusia sekarang hidup di dunia yang mendapatkan sekian ba­nyak informasi tanpa harus beranjak dari rumahnya. Jacques Attali menulis bahwa sejarah berjalan sangat cepat. Apa yang tidak dibayangkan orang kemarin, kecuali oleh para penulis fiksi dan peramal, telah terjadi hari ini. Tembok Berlin telah runtuh, pembuahan melalui bayi tabung merupakan kejadian rutin, dan seorang peternak unta di padang Sahara Afrika dapat bercakap-cakap melalui telepon seluler dengan seseorang yang tinggal di pinggiran kota Los Angelos. Future Schock sudah berlalu. Perubahan telah terjadi di dunia yang penuh gejolak. Tatanan geopolitik lama telah lewat dari pandangan dan tatanan baru telah lahir (1997: 1). Sehingga Marshall McLuhan menyebutnya sebagai tanda datangnya masyarakat global.

Selain hidup di era teknologis seperti tersebut di atas, manusia modern juga hidup dalam suasana yang indi­vidualistik, yang memiliki kecenderung­an lebih mementingkan individu daripada sosial. Bersifat liberalistik yang bermakna mengembangkan kebebasan untuk mengambil keputusan tindak­an dalam bidang apapun, serta humanistik yang bermakna menghargai manusia lebih dari segala-galanya. Di bidang eko­nomi, manusia modern mengembangkan sistem kapitalisme, yang prinsipnya menghargai kebebasan berusaha, tanpa campur tangan di luar mekanisme pasar itu sendiri. Di bidang gaya hidup, manusia cenderung bersikap lebih merasa sebagai anggota masyarakat dunia (kosmo­politanisme) daripada sebagai anggota masyarakat bangsa (nasionalisme).

Perubahan-perubahan tersebut, sadar atau tidak sadar, telah berperan mengubah manusia dalam tanggapannya terhadap nilai maupun norma yang selama ini di­yakininya. Bisa dikatakan bahwa di dunia modern, ada tiga pilar utama yang menopangnya yakni: Pertama, ilmu pengetahuan yang men­dorong teknologi tinggi sehingga menyebabkan manusia bersifat sekuler; lebih mementingkan dunia. Kedua, pandangan yang ber­paham li­beralisme-humanisme, serta: Ketiga,sistem kapitalisme dalam ekonomi. Kesemuanya de­ngan membawa konsekuensi logis baik dampak positifnya maupun negatifnya, terutama pada terjadinya pengaruh langsung terhadap sikap moral seseorang. Untuk memahami latar belakang tumbuh kembangnya dunia modern sekarang ini kita tidak dapat melepaskan diri dari sejarah abad pertengahan di Eropa, sebab momentum abad tengahlah yang sesungguh­nya merupakan titik awal dari persoalan kemanu­siaan yang dihadapi oleh manusia modern sekarang ini.

Munculnya era globalisasi yang berasal dari barat tidak dapat dilepaskan dari perkembang­an antroposentrisme dan positivisme pada abad tengah se­bagai reaksi atas gereja yang secara otoriter mengembangkan hegemoninya atas wilayah akal budi manusia (ordre intellec­tuelle).

Abad pertengahan dimulai sejak abad 9 dan diakhiri sekitar abad 16, sering disebut pula sebagai abad skolastik, untuk menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan dipusatkan di se­kolah-sekolah yang muncul dan dikendalikan oleh biara dan gereja Katholik. Pada waktu itu kurikulum pendidikan terbagi menjadi tiga tahapan: Trivium, yakni pendidikan umum yang meliputi bahasa, retorika dan dialektika (semacam tenik berdiskusi). Quadrivium, yang meliputi ilmu hitung, ilmu perbintangan dan musik serta pun­caknya dan menjadi tolok ukur seluruh kebenaran yakni Teolo­gia.

Masa abad tengah gereja menguasai wilayah “akal budi” manusia, gereja menjadi semakin otoriter dan akan mematahkan setiap argumen baru di bidang ilmu yang bertentangan dengan pandangan gereja. Gereja tidak hanya menguasai paradigma kebenaran ilmu, tetapi juga sistem perekonomian. Dengan bekerjasama dengan raja-raja, gereja mengembangkan sistem merkantilisme sebagai suatu sistem peraturan ekonomi yang sepenuhnya dikendalikan negara atau raja. Di samping itu hirarkhi dalam gereja Katholik pada masa itu, juga sangat ketat dalam pe­ngaturan seluruh sistem kehidupan manu­sia. Abad pertengahan ini akhirnya dikenal juga dengan sebutan abad kegelapan, karena dianggap sebagai masa yang sangat menghambat kemajuan manusia.

Munculnya era globalisasi yang berasal dari barat tidak dapat dilepaskan dari perkembang­an antroposentrisme dan positivisme pada abad tengah se­bagai reaksi atas gereja yang secara otoriter mengembangkan hegemoninya atas wilayah akal budi manusia (ordre intellec­tuelle). Disusul dengan gerakan renaisans, humanisme, dan rasionalisme, bahkan ateisme-materialisme yang mencapai puncak pada abad 18 yang dikenal dengan sebutan zaman Aufklärung atau Enlightenment. Muncul anggapan bahwa agama menjadi penghambat perkembangan otonomi manusia, muncul paham sekularisme sebagai sumber moral manusia modern.

“An ethical system founded on principles of natural morality and independent of revealed religion or supernatualism” (Bakry 1984).

Perkembangan di barat sejak abad pertengahan, ditandai de­ngan berkembangnya revolusi industri. Sehingga dapat dika­takan bahwa modernisasi barat diawali oleh industrialisasi. Modernisasi secara implisit merupakan proses yang menghi­langkan nilai-nilai tradisional. Secara faktual nilai-nilai tra­disional itu adalah nilai agama dan nilai ruhaniah. Dengan paparan singkat di atas, modernisasi di negara-negara berkembang merupakan akibat proses global yang di dalam­nya terimbas oleh paham materialisme dan sekularisme. Inilah yang sesungguhnya menjadi akar permasalahan, negeri-negeri barat mengawali modernisasi dengan proses industrialisasi sementara negara berkembang, “modernisasi” dulu baru ada proses industrialisasi.

Pardoyo (1993) menuliskan, bahwa modernisasi di barat me­lalui proses rasionalisasi, komersialisasi, dan industrialisasi. Alfian (1985) juga mengatakan bahwa barat sejak revolusi industri sangat berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan materi manusia. Pemuasan materi yang berlebihan, ditandai dengan tingkat konsumsi yang tinggi, dan tampak kurang diikuti oleh pemenuhan kebutuhan ruhani. Sehingga muncul kelompok masyarakat yang terpesona oleh keunggulan barat yang diikuti oleh anggapan betapa tidak relevannya nilai-nilai yang mereka miliki. Mereka berpendapat bahwa satu-satunya jalan adalah menjelmakan diri sepenuhnya menjadi barat, termasuk dalam sistem nilai dan normanya.

Pilar-pilar globalisasi nilai-nilai barat

Landasan dunia modern yang kemudian mengglobal dari barat dimulai dengan kemunculanreaksi-reaksi terhadap sistem masyarakat abad tengah. Di bidang keilmuan dipicu revolusi Copernican, yang dari sejarah kita dapat belajar pada awal perkembangan ilmu pengetahuan modern terjadi perpecahan antara gereja dengan il­muwan. Ditandai dengan sikap keras kaum agamawan Eropa yang menganut paham pusat alam semesta adalah bumi (geosentris) terhadap Kepler, Galileo, Copernicus, Giordano Bruno, dan peng­anut faham bahwa mataharilah yang menjadi pusat (heliosentris). Salah satunya, sikap keras tersebut ditunjukkandengan cara membakar hidup-hidup Bruno tahun 1600. Saya ingin mengutip pidato seorang kardinal ketika mengadili Galileo (Dhakidae 2003: xxv-xxvi):

Umat manusia telah terbentuk sebagaimana produk industri itu sendiri, tak ada lagi keunikan, yang ada hanyalah keka­kuan yang seragam. Sehingga secara sadar atau tidak sadar manusia berangsur-angsur kehilangan asas kemerdekaannya, padahal itulah yang dijadikan tumpuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Aku dengar Tuan Galilei ini telah memindahkan manusia dari pusat semesta ke salah satu tempat di ujung. Jelas, dialah musush umat manusia. Dan harus diperlakukan sebagaimana mestinya. Manusia adalah mahkota semua ciptaan, anak ingusan pun tahu tentang itu, dialah ciptaan Allah tertinggi dan yang paling dicintai. Akankah Allah tempatkan karyaNya yang paling Agung, upayanya yang paling tinggi ke suatu bintang kecil nun jauh di sana yang bergoyang kian kemari dari waktu ke waktu? Akankah dikirimnya Puteranya ke tempat semacam itu? Bagaimana mungkin ada manusia yang begitu bejatnya sampai percaya kepada budak-budak hasil table-tabel matematikanya? Bagaimana mungkin salah satu dari ciptaan Allah itu bisa diam menahan hal seperti ini?

Oh saudaralah orang itu? Saudara mau merendahkan bumi kita, meski saudara hidup di atasnya dan menerima segala-galanya dari sana. Saudara memberaki periuk nasi sendiri? Akan tetapi Aku takkan mau menerimanya. Aku bukan orang sembarangan yang berdiam di bintang kecil yang sesaat berputar sekeliling benda lain yang entah di mana letaknya. Aku berlangkah dengan kepastian di atas bumi yang lait, yang teguh bertahan di tempat, pusat semesta. Aku berdiri di pusat, dan mata Sang Pencipta berada dalam diriku dan hanya dalam diriku”

Pidato tersebut mengisyaratkan adanya pertentangan antara kelompok agamawan yang dogmatis dan tertutup dengan ilmuwan. Sehingga akibatnya secara luas metodologi empirik yang dikembangkan membuat anggapan bahwa kajian-kajian keagamaan bersifat tidak ilmiah[1]. Disusul dengan lahirnya Positivisme yang dipelopori oleh Auguste Comte (1798-1857) yang menekankan perlunya manusia berani meninggalkan tahap relijius dan metafisik untuk menuju tahap positif yang rasional. Mulai saat itulah ilmu eksakta dianggap sebagai puncak dari ke­benaran, dampaknya ada pemisahan antara ilmu di satu sisi de­ngan agama di sisi lain. Sekularisme mulai mendapatkan tempat, dunia lebih berharga daripada akhirat yang belum “terbukti”, moral empirik dan pragmatik serta rasional lebih dikembang­kan daripada moral agama, dan ukuran pandai atau tidaknya seseo­rang sedikit banyaknya ditentukan oleh penguasaannya terhadap ilmu-ilmu eksakta dan kealaman, sementara ilmu-ilmu kemanu­siaan dan agama diletakkan ke tingkat yang paling rendah. Mer­kantilisme men­dapatkan reaksi dari kapitalisme awal yang dipelopori oleh Adam Smith dengan bukunya yang sangat terke­nal “The Wealth of Nation” (1776) yang lebih mementingkan meka­nisme pasar yang berjalan dengan sendirinya tanpa cam­purtangan pemerintah atau siapapun. Kapitalisme yang dila­hirkan oleh Smith dan kemudian bercampur dengan pragma­tisme, menguasai dan mempengaruhi sistem ekonomi sampai sekarang.

Di dalam birokrasi gereja yang krisisnya sudah dimulai sejak 1450, terjadi reformasi yang dipelopori oleh Martin Luther (1517) dan Yohanes Calvin (1536) yang akhirnya mendorong munculnya Protestan­isme. Protestanisme pada dasarnya tidak hanya bermakna pemisahan dari gereja Katholik, tetapi juga se­mangat debirokratisasi dan semangat liberalisasi. Sadar atau ti­dak sadar, tiga pilar modernisme yakni: Sekularisme ilmu, sistem ekonomi kapitalistik dan liberalisasi di se­gala bidang mempenga­ruhi pandangan manusia di manapun, di belahan dunia manapun. Secara konkret untuk saat sekarang Amerika Serikatlah yang secara jelas menggambarkan tiga pilar tersebut, jadi sangat wajar kalau ia menjadi superpower dunia dan imej modern adalah apa saja yang ber”bau” Amerika. Karena masyarakat kita secara his­toris kultural tidak mengalami proses untuk menjadi modern se­bagaimana masyarakat barat, seringkali me­mang hanya menang­kap kulit luar dari modernitas tersebut, fenomena inilah yang secara kultural menjadi ber”bahaya”, karena di satu sisi kita ke­hilangan nilai luhur dari nilai budaya, seperti moral dan kebang­gaan sebagai bangsa, tetapi juga tidak mampu menangkap sub­stansi kemajuan itu sendiri.

Satu warisan kultural renaisance yang mencerminkan “kekeliruan” manusia modern adalah sikap mendewakan secara berlebihan rasionalitas manusia. Kekeliruan ini meng­akibatkan adanya kecenderungan untuk menyisihkan seluruh pe­ngertian nilai dan norma moral berdasar agama dalam me­mandang kenyataan ke­hidupan. Manusia modern yang me­warisi sikap positivistik ini, cenderung menolak keterkaitan antara substansi jasmani dan substansi ruhani manusia, serta menolak pengertian ketersusunan alam dunia dan akhirat. Manusia menjadi terasing tanpa batas, ia kehilangan orien­tasi, sebagai konsekuensinya lahir trauma kejiwaan dan keti­dakstabilan hidup. Barangkali memang terkesan mendrama­tisasi keadaan jaman, tetapi bagaimanapun juga apabila hubungan antara mata hati dan kecerdasan manusia telah di­putuskan, maka manusia akan memperoleh kenyataan bahwa per­tanyaan yang berhubungan dengan perumusan hidup ideal tidak pernah terjawab tuntas. Meletakkan otoritas ilmu pe­ngetahuan dan teknologi di atas segala-galanya, telah menyerahkan manusia kepada alat yang diciptakannya sendiri, dan manusia menjadi pelana dari rekayasanya sendiri. Berarti pula akan menyeret manusia menjadi semata-mata teknokratis dan bakal membentuk ke­hidupan kecendekiawanan yang memakai versi laboratorium ilmu-ilmu kealaman yang sekularistik.    

Umat manusia telah terbentuk sebagaimana produk industri itu sendiri, tak ada lagi keunikan, yang ada hanyalah keka­kuan yang seragam. Sehingga secara sadar atau tidak sadar manusia berangsur-angsur kehilangan asas kemerdekaannya, padahal itulah yang dijadikan tumpuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Suatu ik­tikad dikembangkannya ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai pembebasan keterbatasan manusia, justru menghadirkan kerumitan hidup dan kegelapan ruang spiritual. Waktu yang berjalan telah dianggap terlampau cepat berlalu tanpa makna. Tanpa membawa penyelesaian masalah hidup yang direncanakan. Manusia terpacu oleh situasi mekanistik yang telah diciptakannya sendiri, sehingga kehi­langan waktu untuk merenungkan ayat-ayat Allah dan makna hidupnya. Manusia telah kehilang­an kontak secara manusiawi dalam tata hubungan antar manusia, karena manusia telah menjadi egoistik. Manusia kehilangan kontak dengan alam, dan oleh karena itu kerusakan lingkungan menjadi masalah utama dalam hidup modern. Manusia telah kehilangan ke­mampuan kontak hubungan dengan dimensi transendental­nya. Ketika manusia telah kehilangan orientasi, tidak tahu kemana arah hidup tertuju, di sinilah manusia telah kehilang­an segala-galanya.

Soedjatmoko (1984: 203) pernah menulis bahwa:

“Ilmu dan teknologi sekarang ini ber­hadapan dengan pertanyaan pokok tentang jalan yang harus ditempuh seterusnya dan yang tidak dapat dijawabnya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan itu berkisar seki­tar masalah sampai di mana manusia mengendalikan kembali ilmu dan teknologi, se­hingga jalannya tidak menurut ke­mauannya dan momentumnya sendiri saja, melain­kan me­layani keperluan manusia dan keselamatan manusia. Pertanyaan-pertanyaan mengenai dirinya sendiri, mengenai tujuan-tujuan­nya, dan mengenai cara-cara pengembangannya tidak dapat dijawab lagi oleh ilmu dan teknologi tanpa refe­rensi kepada patokan-patokan mengenai moralitas dan makna serta tujuan hidup manusia, termasuk mengenai yang baik dan yang batil dalam kehidupan modern. Patokan-patokan tentang makna dan moralitas itu ter­nyata berakar pada agama”

Tiga dasa warsa terakhir menjelang berakhirnya abad ke-20, terjadi perkem­bangan pemikiran baru yang mulai menyadari bahwa manusia selama ini telah salah dalam menjalani ke­hidupannya. Manusia mulai merindukan dimensi spiritual yang “hilang” dalam kehidupannya. Di dunia ilmu pengeta­huan muncul pandangan-pandangan yang menggugat para­digma positivisme. Tokoh seperti Thomas S. Kuhn dalam buku “The Structure of Scientific Revolution” (1970) mengisyarat­kan adanya upaya pendobrakan bahwa ilmu bu­kanlah sesuatu yang mempunyai ke­benaran sui generis atau objektif. Dengan itu Kuhn menyerang paham positivistik dan menyerang pendekatan rasionalistik, karena ilmu pengeta­huan tidak dapat ter­lepas dari ruang dan waktu. Tokoh lain adalah Paul Feyerabend dalam buku “Against Method” yang menulis bahwa dalam masyarakat dewasa ini ilmu penge­tahuan menduduki posisi yang sama dengan posisi agama masa abad tengah. Ilmu pengetahuan mempunyai kuasa mut­lak. Kendati dalam masyarakat seseorang boleh memilih agama atau tidak, tetapi ia tetap mau tidak mau harus memilih ilmu pengetahuan. Sehingga ilmu pengetahuan tidak lagi berfungsi membebaskan manusia tetapi justru memper­budaknya.

Fritjof Capra dalam buku “The Turning Point” menulis bahwa manusia dihadapkan pada krisis global yang serius yang menyentuh seluruh aspek kehidupan. Ditandai dengan adanya tiga transisi yakni: pertama, runtuhnya sistem patriarchat, kedua, kesadaran akan runtuhnya bahan bakar fosil yang itu bermakna luas meliputi ekonomi, sosial, politik, dan lingkung­an, ketiga, adanya perubahan paradigmatik nilai-nilai. Transisi ketiga menjadi amat penting, karena kita telah didominasi oleh paradigma positivistik, reinasance, yang amat percaya bahwa metode ilmiah-rasional adalah satu-satunya pendekatan yang sahih, alam merupakan sistem mekanis, kehidupan manusia merupakan perjuangan untuk bereksistensi dan pertumbuhan tak terbatas adalah nilai-nilai yang harus di­revisi.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA