27.4 C
Yogyakarta
21 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Gumregah, Sebuah Semangat Dari Kearifan Lokal Melawan Covid-19

Luar biasa. Itulah dua kata yang dapat menggambarkan keadaan pada masa pandemi Covid-19 sekarang. Tak terkecuali dengan kehidupan di desa.

Pemerintah desa merupakan bagian dari satuan entitas terkecil pemerintahan yang berusaha mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan memperkokoh bangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di sinilah pemerintah desa masuk sebagai lini terdepan dalam menjaga kondusifitas dalam masyarakatnya.

Memantau anjuran jaga jarak, penggunaan masker, penerapan pola hidup bersih dan sehat serta upaya-upaya lain pencegahan penyebaran Covid-19, menjadi upaya yang harus diselaraskan dengan kebijakan pusat.

Terlepas dari adanya kritikan terhadap pemerintah pusat, pemerintah desa dengan masyarakatnya sudah mempunyai benih kearifan lokal berupa semangat gumregah yang kian terpampang nyata. Gumregah merupakan salah satu ungkapan bahasa Jawa krama yang berarti semangat, bangkit, semangat penuh keoptimisan, memiliki keinginan kuat, serta semangat untuk bangkit.

Semangat, bangkit, semangat penuh keoptimisan, memiliki keinginan kuat, serta semangat untuk bangkit.

Sebagai contoh, pada masa awal penyebaran Covid-19 di kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, reaksi masyarakat hampir serentak membatasi akses jalan di wilayah RT masing-masing sehingga istilah lockdown menjadi sangat populis .

Terbentuk satgas penanganan Covid-19 sampai tingkat RT. Edukasi, penyemprotan desinfektan, pendataan pendatang, juga penjagaan wilayah. Terlebih ketika kerawanan keamanan lingkungan menunjukkan intensi kenaikan, siskamling secara otomatis diaktifkan kembali.

Di sinilah tercermin gumregah sebagai semangat membangun dan mengembangkan negara, semangat kebersamaan untuk peduli wilayah, peduli tetangga dan bertanggung jawab terhadap masyarakatnya. Selain itu jaring-jaring pengaman sosial terbentuk untuk saling bahu membahu membantu tetangga yang terdampak baik secara sosial maupun ekonomi.

Sebagai sebuah semangat, bukan berarti tanpa tantangan. Bahkan kendala itu juga muncul dari regulasi pemerintah yang menjadikan bantuan sosial tunai sebagai penekan angka kemiskinan, termasuk juga penyangga dampak Covid-19.

Jika sebelumnya sudah ada PKH, BPNT atau apapun namanya yang disandingkan dengan data kemiskinan dalam DTKS yang acapkali sudah out of date, muncul bantuan lagi dalam berbagai bentuk. BLT-DD, BST Kemensos, BST tambahan dari provinsi, BST dari kabupaten, belum lagi bantuan dari swasta, kadang kala justru menjadi gejolak tersendiri di masyarakat.

Covid-19 atau biasa disebut corona, merupakan salah satu hal yang merusak tatanan dalam masyarakat di segala sisi kehidupan, bahkan dalam ritual keagamaan. Selama pandemi ini, orang bersalaman tidak boleh, salat berjamaah di masjid menjadi tidak dianjurkan, shaf salat yang semestinya rapat menjadi harus dilonggarkan, dengan alasan jaga jarak dan mencegah kemungkinan penyebaran Covid-19. Ini fenomena yang luar biasa.

Terlepas dari segala kontroversinya, pemerintah dan masyarakat selayaknya memaknai pandemi Covid-19 ini untuk mempertebal spirit gumregah, cancut tali wanda menegaskan nasionalisme dalam diri masing-masing menuju kebangkitan bangsa ini. Terlebih dengan momentum Hari Kebangkitan Nasional tahun ini, semangat gumregah melawan Covid-19 menjadi tonggak 112 Tahun Indonesia Bangkit dengan Boedi Oetomo-nya. Tinggal bagaimana kita secara kreatif bersama-sama menangkap peluangnya.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA