Gurita, “Merasa” dengan “Meraba”

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Dua pertiga sel saraf pada gurita didistribusikan di antara tentakel, memungkinkan pelengkap fleksibel untuk beroperasi secara semi-independen.

Pernakah mendengar bahwa tentakel dari gurita memiliki “pikiran”nya sendiri? Masing-masing dari delapan anggota tubuh yang lentur namun kuat ini dapat mengarungi dasar laut untuk mencari mangsa, mengambil kepiting dari tempat persembunyian tanpa arah dari otak gurita. Akan tetapi bagaimana caranya setiap lengan bisa mengetahui apa yang digenggamnya? Hal ini tetap menjadi misteri.

Kini, para peneliti telah mengidentifikasi sel khusus yang tidak terlihat pada hewan lain yang memungkinkan gurita “merasa” dengan tentakel mereka. Tertanam di pengisap, sel-sel ini memungkinkan lengan untuk melakukan tugas ganda pada sentuhan dan rasa dengan mendeteksi bahan kimia yang diproduksi oleh banyak makhluk air. Ahli biologi molekuler Universitas Harvard, Nicholas Bellono dan peneliti lainya mengatakan bahwa hal ini dapat membantu sebuah tentakel dengan cepat membedakan makanan dari batu atau mangsa yang beracun.

Penemuan tersebut memberikan petunjuk lain tentang jalur evolusi unik yang diambil gurita menuju kecerdasan. Alih-alih terkonsentrasi di otak, dua pertiga sel saraf pada gurita didistribusikan di antara tentakel, memungkinkan pelengkap fleksibel untuk beroperasi secara semi-independen.

Tamar Gutnick, seorang ahli saraf yang mempelajari gurita di Universitas Ibrani Yerusalem mengatakan bahwa adanya jarak yang besar dalam pengetahuan tentang bagaimana [tentakel] gurita sebenarnya mengumpulkan informasi mengenai lingkungan merekat. Para peneliti telah mengetahui bahwa [gurita] merasakan dengan sentuhan, akan tetapi untuk mengetahui dan memahami cara kerjanya merupakan suatu hal yang sangat berbeda. Mengetahui secara spesifik bagaimana tentakel merasakan dan memproses informasi sangat penting untuk memahami kecerdasan dari gurita.

Para peneliti tidak yakin apa yang akan mereka temukan ketika mereka mengamati dari dekat lengan gurita dua titik California (Octopus bimaculoides). Pencitraan terperinci mengidentifikasi apa yang tampak sebagai sel sensorik, beberapa dengan ujung bercabang halus, di permukaan pengisap. Para peneliti mengisolasi sel dan menguji respons mereka terhadap berbagai rangsangan, seperti ekstrak ikan dan tekanan. Satu kelas sel ternyata serupa dengan yang mendeteksi sentuhan pada berbagai hewan. Tetapi sel yang merespons ekstrak ikan mengandung reseptor, protein yang mendeteksi rangsangan spesifik, tidak seperti yang terlihat pada hewan lain.

Untuk mempelajari bagaimana reseptor “kemotaktil” tersebut bekerja, para peneliti memasukkannya ke dalam sel manusia dan katak di laboratorium menggunakan alat genetik dan kemudian memaparkannya ke berbagai senyawa kimia yang biasanya ditemui gurita. Hanya satu kelas molekul, terpenoid tak larut, yang mendapat respons dari sel. Terpenoid, senyawa alami yang ditemukan di tubuh banyak makhluk laut, diperkirakan digunakan sebagai pertahanan oleh beberapa hewan.

Bellono awalnya menganggap penemuan ini agak aneh, oleh karena senyawa ini tidak larut dengan baik. Dirinya mengatakan bahwa untuk sensasi akuatik, kita biasanya memikirkan molekul yang berdifusi dengan baik melalui air, mirip dengan bagaimana manusia mencium senyawa yang menyebar melalui udara. Tapi kemudian para peneliti menyadari bahwa hal ini mungkin masuk akal mengingat bagaimana gurita bergerak “dengan menyentuh segalanya.”

Detektor terpenoid khusus mungkin memberi isyarat pada gurita untuk dengan cepat memegang sesuatu yang disentuhnya agar tidak berenang menjauh, atau mundur dan terus mencari.

Hal tersebut terjadi di laboratorium, di mana gurita dalam tangki menjelajahi permukaan normal tanpa terpenoid dengan gerakan lengan yang lebar dan menyapu. Tapi begitu sebuah tentakel menyentuh permukaan yang diresapi dengan terpenoid berbeda, tentakel itu berhenti, entah dengan cepat mengetuk tempat tersebut dan bergerak, atau segera menarik dan menghindari bagian tangki itu.

Meskipun para peneliti tidak memiliki kejelasan mengenai arti dari perilaku ini, namun mereka memastikan bahwa gurita menggunakan reseptor ini untuk merasakan bahan kimia dengan sentuhan. Bellono mengatakan bahwa mereka menyamakannya dengan rasa dengan sentuhan sehingga kami dapat memahami apa artinya bagi gurita, tetapi rasanya sangat berbeda dengan selera kami.

Kini dirinya sudah bekerja untuk mengidentifikasi senyawa lain yang terdeteksi oleh sensor ini, serta menyelidiki bagaimana reseptor dapat disetel untuk merespons berbagai jenis rangsangan tergantung pada konteksnya, seperti seberapa lapar gurita itu.

Sumber:
Situs sciencenews.

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora