19.2 C
Yogyakarta
22 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH

Mas Menteri merilis program Guru Penggerak. Seperti yang dinyatakan olehnya dalam suatu acara di hadapan banyak kepala sekolah pada November 2019, karakteristik guru penggerak adalah, “Ia suka ‘nakal-nakal’ sendiri di kelasnya. Ia membuat kurikulum sendiri di kelasnya yang lebih engaging (baca: menarik). Ia bikin kelasnya senang, diajak kelasnya keluar. Dia mencoba metode baru, dia baca-baca sendiri di luar, di YouTube dan lain-lain, (dan mengatakan) nih ada teknik baru. Biasanya mereka tidak diberikan apresiasi terhadap inovasi yang dilakukan.”

Ia meminta para kepala sekolah setelah kembali dari acara tersebut untuk mencari minimal satu orang guru tipe penggerak itu di sekolahnya. Guru itu harus dilindungi, didukung, dan diberi kewenangan untuk melakukan perubahan yang diinginkan guru tersebut. Kepala sekolah harus membuat ia percaya diri dan juga mau pasang badan untuknya. Hal ini berupa memberi kesempatan guru tersebut untuk tampil di depan guru-guru yang lain untuk menceritakan apa yang dilakukan di kelas. Apa yang dilakukan ini, menurut Mas Menteri, dapat memberi dampak besar untuk kemajuan pendidikan Indonesia ke depan.

Respons pertama saya ketika mendengar istilah Guru Penggerak yang dicetuskan oleh Mas Menteri adalah saya teringat dengan istilah yang telah ada sebelumnya: Tim Penggerak PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga). Tim ini adalah relawan masyarakat yang bergerak demi misi mulia, yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu kementerian yang turut menyusun program PKK ini adalah kementerian pendidikan pada sekitar tahun 1960-an.

Analoginya, Guru Penggerak yang saat ini digaungkan oleh Kemendikbud tentunya tidak lain adalah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan siswa. Wujudnya adalah bisa berupa siswa menikmati proses pembelajaran dengan gembira seiring dengan meningkatnya pengetahuan, sikap, dan keterampilannya. Dengan itu semua, siswa bisa memiliki bekal untuk menghadapi tantangan zaman yang selalu berubah.

Karakteristik yang disampaikan Mas Menteri pada dasarnya adalah tentang empat kompetensi guru, yaitu kompetensi kepribadian, pedagogik, sosial, dan profesional. Seorang guru yang ingin membuat siswanya tertarik dalam belajar dan mau belajar mandiri mencari hal-hal untuk meningkatkan kualitas pembelajaran berarti ia bangga sebagai guru. Ini adalah bagian dari kompetensi kepribadian.

Guru yang mampu menguasai metode-metode pembelajaran dan menerapkannya berarti ia memiliki kompetensi pedagogik. Begitu juga ketika guru berbicara dengan baik dan efektif pada siswanya, itu bagian dari kompetensi sosial. Ketiga kompetensi ini dilengkapi dengan guru menguasai materi pelajaran dengan mendalam yang merupakan cerminan kompetensi profesional.

Kalau memang yang telah disebutkan itu adalah karakteristik Guru Penggerak, saya dan siapapun guru yang menjadi alumni Lomba Guru Berprestasi adalah termasuk Guru Penggerak. Hal ini karena pada lomba tersebut yang dinilai adalah tentang empat kompetensi guru.

dalam prosesnya, hal manusiawi seperti kejenuhan dalam memerankan profesi sesekali terjadi.

Untuk para juara, pencapaian itu tentu bukan seketika, melainkan butuh proses yang panjang. Tindakan dimulai sejak mengawali karir sebagai guru sampai sekarang. Namun, dalam prosesnya, hal manusiawi seperti kejenuhan dalam memerankan profesi sesekali terjadi. Ini adalah sebuah tantangan dan dinamika untuk tetap menjadi sebagai Guru Penggerak.

Di luar sekolah tempat bertugas, saya juga pernah melihat sosok Guru Penggerak dalam diri wali kelas anak saya ketika di kelas I Madrasah Ibtidaiyah. Suatu ketika, saya mendapat kesempatan untuk memberikan pelatihan Quantum Teaching di sekolah anak saya. Banyak guru yang hadir mengikuti pelatihan tersebut. Namun, bisa jadi tidak semua guru yang hadir mampu meresapi Quantum Teaching dan mau mempraktekkannya di dalam kelas.

Salah satu guru yang menyerap dan menerapkannya adalah wali kelas anak saya itu. Dari mana saya tahu? Tentu dari cerita anak saya. Mulai dari yel-yel, game, dan beberapa hal yang disampaikan di pelatihan dihadirkan di dalam kelasnya. Dampaknya pun dirasakan oleh anak saya. Dari awalnya kurang bersemangat ke sekolah, menjadi lebih bersemangat. Ia sering menceritakan keseruan-keseruan yang diciptakan wali kelasnya di dalam kelas.

Semua adalah Guru Penggerak

Apakah guru-guru yang menerapkan metode-metode menarik dan mampu mengaktifkan siswa dapat disebut sebagai Guru Penggerak? Ya. Mereka adalah Guru Penggerak. Tetapi tidak selalu yang seperti itu. Menurut saya, semua guru adalah Guru Penggerak dalam kadarnya masing-masing. Hal ini karena, ketika seseorang telah menjadi guru maka akan melekat empat kompetensi guru pada dirinya. Seberapa baik kompetensi itu tergantung dari masing-masing guru bagaimana mereka mengembangkannya.

Seorang guru muda yang pintar menerapkan berbagai aplikasi teknologi dalam pembelajaran adalah Guru Penggerak dari perspektif penggunaan teknologi. Tetapi, bisa jadi karena masih muda, ia masih belum pandai mengontrol emosi. Ia masih mudah marah-marah di kelas, sehingga siswa pun takut melihat wajahnya yang garang.

Seorang guru senior yang mau pensiun bisa jadi lemah dalam penggunaan teknologi. Tetapi, karena pengalamannya, ia lebih matang dan bijak dalam menghadapi siswa. Ia lebih sabar dan menunjukkan sikap yang ramah. Perilakunya mencerminkan sikap ramah anak. Dengan begitu, ia juga termasuk Guru Penggerak dalam perspektif guru ramah anak.

Tentang sikap yang ramah anak menjadi bagian dari profil Guru Penggerak, saya simpulkan dari pujian Mas Menteri kepada salah seorang kepala sekolah di Maluku Tengah. Dalam suatu acara interaktif jarak jauh, Mas Menteri mengatakan bahwa kepala sekolah itu telah menjadi penggerak dan memberikan inspirasi dalam menghasilkan profil siswa yang mampu menyelesaikan konflik tanpa kekerasan dan menebarkan semangat persaudaraan melalui program Sekolah Ramah Anak.

Karena semua adalah Guru Penggerak dalam kadarnya masing-masing, maka seorang guru Umar Bakri yang diilustrasikan dalam lagu Iwan Fals adalah seorang Guru Penggerak juga. Ia menjadi figur yang mengajarkan kesederhanaan. Sebuah nilai yang saat ini bisa menjadi solusi atas banyak persoalan kehidupan manusia, termasuk persoalan krisis lingkungan dan ekologi.

Kesederhanaan yang ditampilkan guru adalah tak lain cermin kompetensi kepribadian. Dengan demikian, berbagai nilai positif yang mampu ditonjolkan oleh seorang guru akan menjadikan ia masuk dalam kategori Guru Penggerak. Hal ini mengingat pendidikan melibatkan banyak variabel di dalamnya.

Keluar dari Zona Nyaman

Kata ‘penggerak’ memiliki kata dasar ‘gerak’. Suatu pergerakan akan menghasilkan perubahan. Seorang penggerak berarti ia akan menghasilkan perubahan. Tentu perubahan yang dimaksud adalah yang mengarah ke pada hal-hal yang positif dan membangun. Perubahan itu sendiri adalah suatu keniscayaan. Hal ini pernah diungkapkan oleh Herakleitos, pemikir Yunani kuno, yang menyatakan bahwa tidak ada satu pun di alam semesta yang bersifat tetap. Semuanya menganut prinsip  phanta rei, yaitu semuanya mengalir. Karenanya, yang tetap adalah perubahan itu sendiri.

pikiran bisa menjadi nyata dan kenyataan yang tercipta adalah wujud dari revolusi pikiran.

Seorang Guru Penggerak adalah orang yang di dalam hatinya muncul niat untuk melakukan suatu perubahan. Apa pun itu, asalkan positif dan membangun. Ia mengawali perubahan itu mulai dari pikirannya yang kemudian menjalar pada tindakannya. Tindakannya jika diulang-ulang, akan menghasilkan kebiasaan. Kebiasaan itu jika konsisten dilakukan akan menghasilkan budaya dan kemudian tercipta suatu kondisi positif dari yang telah dipikirkan sebelumnya. Jadi, pikiran bisa menjadi nyata dan kenyataan yang tercipta adalah wujud dari revolusi pikiran.

Sebagai Guru Penggerak, ada satu hal yang menjadi kunci keberhasilannya, yaitu ia berani untuk keluar dari zona nyamannya. Kenyamanan dapat membuat seseorang untuk enggan melakukan suatu perubahan. Padahal kalau ia tidak mau berubah itu dapat menyulitkan dirinya sendiri. Sebut saja contohnya ketika pandemi corona muncul, seorang guru dituntut bisa melakukan pembelajaran jarak jauh menggunakan teknologi. Jika ia tidak bisa adaptif dengan kondisi ini maka menjadikan guru tersebut tidak bisa menjalankan tugas profesinya dengan baik. Jadi, pada dasarnya musuh terbesar dari seorang Guru Penggerak adalah dirinya sendiri.

Seorang guru harus menjadi Guru Penggerak. Siapa pun saat ini yang masih aktif menjadi guru harus menjalankan peran yang terbaik. Tidak hanya untuk kepentingan para siswa saat ini, tetapi juga untuk kepentingan kita sendiri, yaitu anak-cucu kita yang akan dididik oleh guru-guru di masa depan. Saya bisa menulis seperti ini, karena saya punya pengalaman tersendiri.

Saat ini saya memiliki rekan sejawat yang dahulunya adalah siswa saya sewaktu di SMA. Ia sesekali bercerita kepada rekan guru lain bahwa sewaktu saya mengajarnya, pernah diajak belajar keluar kelas: bermain layangan. Tujuan bermain layangan itu sebenarnya bukan sekadar bermain, tetapi dikaitkan dengan konsep trigonometri. Dengan bermain layangan, siswa bisa secara langsung menerapkan konsep perbandingan trigonometri. Mereka bisa mengukur kira-kira berapa ketinggian layangan dari permukan tanah jika diketahui panjang kenur layangan, tinggi pengamat, dan sudut elevasi yang terbentuk.

Nah, saya mempunyai anak yang sedang duduk di bangku SMP yang kelak bisa jadi saat di SMA diajar oleh mantan siswa saya tersebut. Mantan siswa saya itu mempunyai gambaran bagaimana membelajarkan siswa secara bermakna dari apa yang saya ajarkan kepadanya, dan bisa jadi hal itu membekas di benaknya dan akan diadopsi untuk mengajar anak saya kelak.

Siapapun guru yang mau keluar dari zona nyamanya, ia adalah Guru Penggerak. Siapa saja guru yang ingin memberikan yang terbaik dalam tugas profesinya, ia adalah Guru Penggerak. Guru yang menjadi contoh teladan dalam berperilaku baik, ia juga Guru Penggerak. Guru yang terus belajar, ia pun Guru Penggerak. Guru yang karena keterbatasannya lalu membuat media belajar dari bahan sederhana, ia adalah Guru Penggerak. Bahkan, guru yang saat ini gelisah mengapa belum bisa memberikan dedikasi terbaik juga dapat disebut Guru Penggerak.

Semua guru memiliki potensi menjadi Guru Penggerak. Tugas terberatnya adalah menyempurnakan potensi itu menjadi aktual. Ia harus memecah telur untuk kemudian memasaknya ke dalam minyak yang panas. Pecahnya cangkang telur adalah mula seorang guru menjadi bagian kuadran sebagai Guru Penggerak. Tinggal bagaimana guru itu memilih. Mau memecahkan telur melalui tangannya sendiri, melalui tangan orang lain, atau karena terjatuh. Dalam pada itu, ada satu hal yang harus diingat oleh semua guru: Siapa pun dia, selama dia adalah guru, dia adalah Guru Penggerak dengan kadarnya masing-masing!

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA